Site icon MuslimahHTM News

Ketika Masalah Melanda, Beristighfarlah!

Setiap manusia yang hidup pasti memiliki masalah dan akan terus diuji oleh Allah Taala. Hal itu merupakan sunatullah kehidupan. Namun, silih berganti masalah tidak seharusnya membuat keimanan seorang mukmin goyah. Ketika mukmin makin teruji dengan berbagai masalah, selayaknya makin kuat pula keimanannya pada Allah SWT

Akan tetapi, ketika masalah melanda, manusia sering kali lupa pada-Nya. Mereka sibuk dengan rasa khuatir dan ketakutan yang berpanjangan, sehingga tidak menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Maka, bagi seorang mukmin, semestinya menjadikan istighfar sebagai salah satu “ubat” dalam menghadapi “penyakitnya”—yakni dosa.

Imam Qatadah pernah berkata, “Al-Quran telah menunjukkan penyakit dan ubat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan ubat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya ‘Ulumiddin, 1/410).

Rasulullah SAW tidak pernah menjalani satu hari tanpa beristighfar. “Demi Allah aku beristighfar dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR Bukhari).

Ikutilah kebiasaan orang-orang soleh yang menjadikan istighfar sebagai keperluan sehari-hari. Allah SWT memuji mereka dalam firman-Nya, “(iaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkah hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” [TMQ Ali Imran(3) : 17]

Membiasakan Beristighfar

Mengapa kita harus membiasakan beristighfar setiap saat?

Pertama, istighfar merupakan cara untuk meminta ampun atas dosa dan sebagai pembersihan diri. Ia juga merupakan kunci pembuka atas gelapnya kehidupan yang kita lewati. Dengan istighfar, masalah berubah menjadi anugerah, kerana banyak hikmah diperoleh setelah melakukannya.

Kedua, istighfar ialah cara melihat kekurangan diri. Sebab makna yang terdapat di dalamnya ialah muhasabatunnafsi.

Ketiga, istighfar merupakan cara menjaga diri agar tidak mudah tergelincir pada kesalahan juga dosa. Kita akan berhati-hati dalam berbuat dan fokus pada satu tujuan iaitu redha Allah semata.

Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa Allah SWT berfirman,

“Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa, kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barang siapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (berapa banyak dosanya).” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi).

Istighfar juga sebagai sebab turunnya kasih sayang Allah. Allah tidak akan mengazab orang yang minta ampun kepadanya.

Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [TMQ Al-Anfal (8) : 23]

Rasul SAW pun bersabda, “Barang siapa yang melazimkan istighfar setiap hari, nescaya Allah SWT akan menjadikan setiap kegundahan menjadi ketenangan dan Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, Allah SWT akan memberikan rezeki yang halal tanpa dia duga.” (HR Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim).

Namun, istighfar bukanlah mantera yang sekali diucapkan lalu dapat melenyapkan segala permasalahan. Istighfar sebaiknya dilafazkan dalam keadaan sadar atas segala kesalahan dan dilakukan secara istiqamah. Tidak pula diucapkan menunggu berbuat dosa.

Semoga kita boleh melakukannya setiap saat, menjadikan istighfar sebagai cara untuk keluar dari pelbagai masalah yang melanda, agar Allah membukakan jalan keluar serta memberikan pertolongan-Nya.

Jika Allah telah mencintai hamba-Nya, Allah akan selalu bersamanya, melindungi, menolong dan mengabulkan doa-doanya. Hidup akan lebih mudah untuk kita dijalani, serta ringan dalam melangkah kerana fokus tujuan kita ialah redha Allah semata.

Sumber: https://www.muslimahnews.com/2021/08/25/nafsiyah-kala-masalah-mendera-beristighfarlah/

Exit mobile version