Ukhuwah merupakan perintah Allah SWT yang dinyatakan di dalam firman-Nya, “Kaum mukmin itu sesungguhnya bersaudara.” [TMQ Al-Hujurat (49): 10]
Rasulullah SAW juga bersabda tentang keutamaan ukhuwah,
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari kedua-dua dalil di atas, dapat kita fahami bahwa ukhuwah dan persaudaraan adalah ukuran keimanan. Makin beriman seseorang, makin mudah pula dia menjalin persaudaraan di antara sesama muslim. Kita patut untuk mencontoh Rasulullah SAW, sebab bagindalah orang yang paling mudah menjalin persaudaraan.
Jika seorang muslim memiliki sifat membenci kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ukuran keimanannya sedang redup hingga akhirnya dia tidak mampu mencintai saudaranya yang beriman. Sesungguhnya, kuncinya iman yang paling besar ialah mencintai kerana Allah dan membenci kerana-Nya.
Mari kita belajar dari indahnya persaudaraan Sa’ad bin Rabi’ yang memberi setengah daripada hartanya kepada Abdurahman bin Auf. Kemudian dari Salman al-Farisi yang mahu menjamin seorang pemuda muslim yang dihukum qisas kerana membunuh, tetapi dia ingin menunaikan amanah terlebih dahulu terhadap kaumnya. Hingga hampir habis tempoh waktu tiga hari yang dijadikan Khilafah Umar sebagai batas, pemuda tersebut ternyata muncul dan tidak melarikan diri.
Khalifah Umar ra. lalu bertanya, “Mengapa engkau bersusah payah kembali? Padahal engkau boleh saja lari dan menghilang?” Pemuda itu menjawab sambil tersenyum, “Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan, di kalangan muslim tidak ada lagi pahlawan yang menepati janji.”
Mata Khalifah Umar berkaca-kaca menahan haru, lalu dia bertanya lagi, “Lalu kau, Salman, mengapa mahu menjamin orang yang baru saja kau kenal?” Kemudian Salman menjawab, “Agar jangan sampai dikatakan di kalangan muslim tidak ada lagi rasa saling percaya dan mahu menanggung beban saudaranya.”
Kemudian, dua anak dari yang terbunuh memaafkan si pemuda agar tidak dijatuhi hukuman qisas. Mereka berkata, “Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan muslim tidak ada lagi orang yang mahu memberi maaf dan sayang kepada saudaranya.”
MasyaAllah, kita melihat pelbagai hikmah dan pelajaran dari kedua kisah tersebut. Rasa saling mencintai kerana Allah mampu membuat seseorang memberikan hartanya tanpa merasa akan kekurangan. Rasa persaudaraan telah meredakan amarah berganti dengan memaafkan. Jalinan ukhuwah mampu melakukan pengorbanan kepada saudara seakidah dan membebaskan saudaranya dari jerat hukuman.
Namun kini, ukhuwah kian terhakis oleh sistem demokrasi kapitalis. Mengutamakan kepentingan dan wang dibandingkan saudara seakidah. Berani menghina, memfitnah, bahkan memenjarakan para ulama yang berjuang di jalan Allah. Bersikap tidak peduli dengan kesusahan sesama manusia, meski kelaparan sedang dirasakan.
Begitu juga para penguasa, membuat kebijakan (undang-undang) yang tidak memihak kepada rakyatnya, mengambil pungutan dari berbagai macam jenis cukai untuk menanggung hutang negara yang banyak. Tidak ada lagi rasa cinta, peduli, dan belas kasih di antara sesama manusia. Sangat membimbangkan.
Kehidupan yang seperti ini jauh dari harapan kita bersama. Sebagai muslim, kita pasti berharap hidup dengan penuh pengertian, saling menolong dalam kebaikan, dan sedia berkorban untuk saudaranya. Hal ini semua hanya dapat kita rasakan jika dipimpin oleh pemimpin yang adil, amanah, dan bertakwa. Pemimpin yang mampu menghidupkan kehidupan dengan keimanan, serta menjaga rakyatnya dengan penuh perhatian.
Sumber:
https://www.muslimahnews.com/2021/09/08/nafsiyah-ukhuwah-melahirkan-mahabbah-fillah/

