Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Balkan berada di wilayah Eropah bahagian tenggara. Saat ini, Balkan merujuk pada negara Albania, Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, Yunani, Makedonia, Montenegro, Serbia dan sedikit wilayah Turki bahagian Eropah. Pada era klasik, masyarakat Balkan merupakan penganut agama pagan. Lalu saat kekaisaran Romawi muncul, wilayah ini ditaklukkan dan dipaksa menerima budayanya, termasuk agama Kristian. Memasuki abad pertengahan, wilayah ini sering menjadi panggung konflik. Kekuasaan Romawi yang diktator memicu pertentangan antara penduduk terus menerus. Mereka berusaha merebut kembali kebebasan negerinya dari pengaruh politik Romawi.
Kedatangan Islam
Aktiviti perdagangan yang berpusat di semenanjung Balkan menjadi sarana pengenalan penduduknya terhadap ajaran Islam. Hal ini sudah terjadi sejak abad ke-13 atau ke-14 Masihi. Hanya saja, saat itu Islam belum diterima secara masif oleh penduduk Balkan. Pada abad-abad itu, projek dakwah yang diinisaitif oleh negara Khilafah memang belum sampai ke semua wilayah di Eropah. Kesempatan tersebut baru muncul saat pusat kekuasaan Romawi di Konstantinopel berjaya direbut oleh pasukan Muhammad Al Fatih pada 1453. Saat itu kemurniaan Islam dan negaranya makin cemerlang. Kegemilangannya menjadi buah mulut di kalangan kawan mahupun lawan, terutama di seantero Eropah. Satu demi satu wilayah Eropah pun masuk ke pangkuan Islam. Sejalan dengan itu, penerapan hukum Islam di wilayah yang ditaklukkan menjadi sarana dakwah tersendiri bagi orang-orang yang masih beragama non-Islam. Banyak di antara mereka yang akhirnya masuk ke dalam Islam. Mereka tertarik akan keindahan aturan Islam yang diterapkan dan keadilan yang mereka terima sebagai warga negara Islam. Wilayah Bosnia sendiri masuk ke pangkuan Islam pada 1463, sedangkan Herzegovina berjaya dibuka pada 1480. Dari wilayah inilah Islam menyebar ke kawasan Balkan lainnya, seperti Slavia, Macedonia dan Albania. Khabarnya pada 1600-an nyaris dua per tiga penduduk wilayah-wilayah itu sudah menjadi muslim. Sepanjang berada dalam kekuasaan Islam, wilayah Balkan diurus dan dijaga dengan baik oleh Khilafah Uthmaniyah. Agama dan adat Islam pun merasuk hingga benar-benar mewarnai kehidupan mereka. Hal ini menunjukkan bahawa keislaman mereka berakar kuat kerana tumbuh dari kesedaran, bukan kerana paksaan.
Tidak hairan ketika kekuasaan Uthmaniyah kalah oleh kekuatan kafir Kristian, seperti oleh Kerajaan Austria (1683-1699) dan Kekaisaran Rusia (1711), kaum muslimin di Balkan ternyata tetap memegang teguh agama Islam. Mereka justeru turut berjuang mempertahankan wibawa Khilafah meskipun akhirnya tetap kalah. Bahkan, ketika negara-negara Kristian itu memaksa mereka kembali ke dalam agama Kristian, mereka menolak dengan keras. Mereka memilih hidup terusir atau terbunuh daripada terpaksa kembali masuk ke dalam agama lama mereka.
Oleh kerananya, banyak dari mereka yang lari ke daerah pinggiran. Bahkan tak sedikit dari mereka yang pergi meninggalkan negerinya demi menyelamatkan diri. Hingga orang-orang kafir datang merebut tanah-tanah mereka. Di antaranya, etnik Serbia yang ortodoks yang merebut tanah-tanah bangsa Bosnia. Sekalipun Khilafah akhirnya mampu merebut kembali kedaulatannya di Balkan, tetapi sejak itu benih konflik tak pernah dapat dihapuskan. Perang besar antara Khilafah dengan kekuatan besar Eropah seperti Rusia, kerap terjadi kerana wilayah Balkan. Orang-orang kafir di Balkan pun terus mencari kesempatan untuk menyakiti dan memecah belah umat Islam.
Panggung Konflik
Pada akhir abad ke-20, kondisi Kekhalifahan Uthmaniyah kian melemah. Situasi ini dimanfaatkan oleh bangsa kafir di Balkan untuk memisahkan diri dari Khilafah. Salah satunya adalah bangsa Serbia yang menghuni wilayah Serbia, Montenegro, Bosnia-Herzegovina dan Croatia. Mereka berjaya mendirikan negara sendiri di kawasan Serbia-Montenegro, dan terus berusaha menggabungkan Bosnia menjadi bahagian dari negerinya. Namun, cita-citanya itu digagalkan oleh Kekaisaran Austria-Hongaria yang juga bercita-cita untuk menguasai Balkan. Pada 1908 kekaisaran Kristian ini berjaya merampas Bosnia dan wilayah Balkan lainnya.
Peristiwa itu mendorong kaum nasionalis Serbia melakukan pertentangan. Pada 1914 mereka berjaya membunuh Archduke Franz Ferdinand, putera mahkota Kekaisaran Austria-Hongaria di Sarajevo, pusat wilayah Bosnia. Peristiwa inilah yang memicu terjadinya Perang Dunia I. Perang ini melibatkan hampir seluruh negara besar di Eropah dan bangsa-bangsa sekutu mereka. Di satu pihak ada Blok Sentral yang terdiri dari aliansi tiga negara, yakni Austria-Hongaria dan sekutunya, Jerman dan Itali. Di pihak lainnya ada Blok Sekutu yang terdiri dari Britain, Perancis, dan Rusia, sekutu Serbia. Perang ini juga menyeret Khilafah untuk terlibat di medan pertempuran. Khilafah berharap, dengan bergabung bersama Jerman dapat kembali merebut wilayah yang sebelumnya telah dirampas Britain, Perancis dan Rusia bersama sekutunya Serbia. Keputusan inilah yang justeru menyeret Khilafah Uthmaniyah pada kehancurannya. Pada saat yang sama, peperangan telah menjatuhkan kaum muslimin di Balkan ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam. Mengapa demikian?
Khilafah ada di pihak yang kalah perang. Sebagai konsekuensinya wilayah kekuasaan Khilafah dibahagi-bahagi oleh negara pemenang sebagai pampasan perang. Adapun Bosnia dan Herzegovina, diserahkan oleh Austria kepada Kerajaan Serbia-Montenegro bersama-sama dengan wilayah Balkan lainnya, seperti Croatia, Slovenia, dan Vojvodina. Serbia sendiri memang dikenali sebagai bangsa yang kejam dan sangat bercita-cita melenyapkan Islam dan penganutnya.
Ketika perang usai pada 1918, penguasanya menggabungkan seluruh wilayah Balkan ini ke dalam Kerajaan Yugoslavia (Slavia Selatan). Lalu, ketika Rusia mendirikan negara sosialis komunis Kesatuan Soviet pada 1922, Yugoslavia pun bergabung ke dalamnya.
Kita Melihat Keteguhan Mereka
Di bawah negara Yugoslavia dan pengaruh rejim sosialis komunis Soviet, kaum muslim Balkan benar-benar menderita. Mereka sama sekali tak dapat mengekspresikan keagamaannya. Hak politik mereka pun dikekang hingga sama sekali tak memiliki kekuatan. Hal ini berlangsung puluhan tahun lamanya. Perubahan rejim di Yugoslavia dan Soviet tak berpengaruh baik dalam kehidupan mereka. Kaum muslimin tetap menjadi musuh negara yang potensi kekuatannya tak pernah dibiarkan muncul meskipun hanya secuil. Saat kekuasaan Soviet goyah, bahkan runtuh pada tahun 1991, Yugoslavia pun turut bubar. Kaum muslim di Balkan memilih melepaskan diri menjadi negara merdeka. Pada 1992, etnik Bosnia-Herzegovina misalnya mendeklarasikan kemerdekaannya setelah melakukan referendum. Hanya saja kelompok Serbia Bosnia berusaha memboikot referendum itu. Bahkan setelahnya pasukan Serbia Bosnia—didukung oleh pemerintah Serbia—segera menyerang negara yang baru terbentuk. Saat itu mereka melakukan pengusiran bahkan genosida terhadap kaum muslim Bosnia. Kaum lelakinya dibunuh, sementara kaum perempuannya dirogol dan dibunuh agar keturunan nasab mereka terhapus. Di atas darah dan air mata penduduk muslim Bosnia itulah, mereka hendak mendirikan negara Serbia Raya. Ironinya, peristiwa kekejaman Serbia di Balkan itu terjadi di hadapan kaum muslimin dunia yang juga lemah dan negara-negara lain di dunia. Tak ada satu pun dari mereka yang mampu menolong, meskipun hanya atas nama kemanusiaan. Lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan NATO cenderung diam membiarkan muslim Bosnia dan lainnya dibantai. Padahal pasukan mereka ada di sana, hadir atas nama menjaga perdamaian. Puncak penderitaan mereka terjadi pada 1995. Hanya dalam beberapa hari saja, sekitar 8,000 muslim Bosnia dihukum bunuh dengan kejam oleh pasukan Serbia di Srebrenica. Itu semua terjadi di hadapan pasukan perdamaian PBB yang dihantar ke situ, termasuk pasukan Belanda.
Qadarullah, gambar-gambar kekejaman tentera Serbia itu pun beredar di seantero dunia. Semuanya memicu keprihatinan dan gelombang protes kaum muslim di berbagai negara. Bahkan seluruh media menggambarkan peristiwa ini sebagai pembunuhan massal terburuk di Eropah pada abad ke-20 setelah kejahatan yang dilakukan oleh Nazi. Itulah yang akhirnya mendorong PBB dan NATO untuk serius turun menyelesaikan konflik Bosnia. Pada bulan Ogos hingga September 1995, PBB dan NATO melakukan serangan udara besar-besaran untuk menghentikan kekejaman etnik Serbia di bawah pemimpin politiknya, Radovan Karadzic. Upaya ini berakhir di meja perundingan. Melalui Perjanjian Dayton diaturlah pembahagian wilayah Bosnia menjadi dua negara iaitu, Republik Srpska untuk Serbia dan Persekutuan Bosnia-Hezergovina untuk muslim Bosnia, tetapi mereka sepakat bergabung dalam satu pemerintahan. Masing-masing etnik memiliki perwakilan (presiden) di pemerintahan tersebut
Balkan Hari Ini
Meskipun negeri-negeri Balkan berjaya bangkit dari situasi buruknya, bukan bererti kondisinya baik-baik saja. Hingga saat ini ancaman separatisme masih sering disuarakan banyak pihak, etnik, dan bahkan negara tertentu. Pada awal September 2021 misalnya, pemerintah Serbia sempat mengumumkan seruan kepada seluruh etnik Serbia di Kawasan Balkan bahawa mereka hanya perlu tunduk kepada satu bendera sahaja, yakni bendera Serbia. Hal ini tentu memicu protes dari penduduk negara-negara Balkan yang tidak ingin situasi lama kembali terulang. Secara politik, Balkan ada dalam kawalan negara adidaya, khususnya Amerika dan sebahagian di bawah Kesatuan Eropah. Negeri-negeri muslim di sana tak memiliki kemandirian politik dan ekonomi, kerana negaranya tidak tegak di atas asas ideologi. Di tengah-tengah bangsa Eropah, negeri-negeri di Balkan masuk ke dalam wilayah yang kesejahteraannya terkategori rendah. Kemiskinan menjadi potret bersama masyarakat muslim di sana. Bosnia, Cosovo, Albania, kondisinya sama saja. Bahkan Albania tercatat sebagai negara termiskin di Eropah. Wilayah Balkan memang tak memiliki sumber daya alam sebanyak negeri-negeri muslim yang lainnya. Penghidupan masyarakatnya lebih banyak bergantung pada pertanian dan industri perkhidmatan. Hanya saja, negeri-negeri ini memiliki potensi geostrategi yang luar biasa. Terutama berkenaan dengan posisinya yang bersempadan antara Rusia dengan Eropah Barat serta dengan Asia yang memiliki potensi minyak terbesar, termasuk minyak dan sumber daya lain di Laut Kaspia. Potensi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara adidaya untuk masuk dan bertahan dalam politik di Semenanjung Balkan.
Khatimah
Nasib kaum muslimin Balkan akan tetap kelam, jika mereka tidak diatur dan diurus oleh kekuasaan Islam. Mereka akan tetap menjadi mangsa bangsa kafir yang menghendaki keburukan pada Islam dan kaum muslimin. Sementara itu, kaum muslimin di negeri-negeri lainnya akan terus tercegah untuk membantu dan merangkul mereka. Ikatan nasionalisme yang ditancapkan kaum kafir menyebabkan umat tak dapat mewujudkan ukhuwah Islam yang sebenarnya. Mereka akan tetap hidup terpecah belah di bawah hegemoni sistem kapitalisme global. Seluruh potensi kekayaannya menjadi rebutan para penjajah. Sementara orientasi politiknya pun akan tetap ada di bawah arahan dan kepentingan negara-negara adidaya. Oleh kerananya, gerakan perubahan ke arah terwujudnya kembali sistem politik Islam menjadi keperluan umat Islam di seluruh dunia. Mereka harus menjadikan agenda ini sebagai visi bersama yang diikhtiarkan bersungguh-sungguh. Tentu saja dengan konsisten menjalankan metod dakwah yang Rasulullah Saw. contohkan kerana jalan inilah yang dipastikan akan menghantarkan umat pada kejayaan, berupa terwujudnya kembali sistem Khilafah Islam yang dijanjikan, yang akan mengembalikan umat pada kemuliaan.

