Site icon MuslimahHTM News

[Fikrul Islam] Hadis Mutawatir

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Berdasarkan sanadnya, yakni jalur periwayatannya, Sunnah dapat dibahagi kepada tiga, yakni al-mutawatir, al-masyhur, dan khabar al-ahad. Al-mutawatir secara bahasa adalah berurutan satu demi satu secara perlahan. Adapun secara istilah, al-mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan pada tiga masa dalam jumlah yang banyak sehingga mustahil secara adat mereka bersepakat untuk dusta. Yang dimaksudkan dengan tiga masa di sini adalah masa Sahabat Nabi, tabiin, dan tabi’ut tabiin. Selain itu, pengetahuan para perawi terhadap hadis hendaklah bersandar pada pendengaran dan penglihatan (secara langsung mendengar sabda Rasul atau melihat perbuatan Rasul, penerj.), bukan berdasarkan pada dalil kesimpulan (mengambil kesimpulan sendiri, penerj.).

Hadis mutawatir sumbernya berasal dari Rasulullah ﷺ secara pasti (qath’ie uts-tsubut). Oleh kerana itu, hadis mutawatir wajib untuk diamalkan, baik dalam masalah hukum mahupun akidah. Salah satu hadis qauliyah (perkataan) yang berstatus mutawatir adalah sabda Rasulullah ﷺ, مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْمَدَهُ مِنَ النَّارِ “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah dia menempati tempat duduknya di neraka.” Sedangkan, sunnah fi’liyah (perbuatan Rasul) yang berstatus mutawatir adalah solat lima waktu.

Jumlah Perawi yang Dapat Menghasilkan Kemutawatiran

Semua pendapat yang menetapkan jumlah tertentu yang boleh menghasilkan status tawatur, tidaklah disandarkan pada dalil naqli ataupun aqli. Sunnah mutawatir yang dapat menghasilkan sebuah keyakinan hendaklah diriwayatkan oleh jemaah (sekelompok orang) dan bukan diriwayatkan oleh sejumlah tertentu. Akan tetapi, jumlah jemaah ini dan jarak tempat mereka berada perlu menunjukkan kemustahilan mereka untuk bersepakat dalam dusta. Dengan demikian, syarat-syarat tawatur itu ada tiga:

  1. Jumlah periwayatnya hendaklah dalam jumlah yang dapat mencegah mereka untuk bersepakat dalam kedustaan;
  2. Pengetahuan perawi terhadap hadis mesti melalui jalan pendengaran, atau penyaksian, bukan pengambilan kesimpulan;
  3. Wajib mutawatir pada tiga masa, yakni pada masa sahabat, tabiin dan tabi’ut tabiin.

Sumber: Muhammad Husain Abdullah. Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam

 

Exit mobile version