“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidak akan tiba Hari Kiamat sehingga Allah membangkitkan para Amir (penguasa) pendusta dan para pembantu (penguasa/menteri) yang culas, para kroni pengkhianat, para tokoh yang zalim, para pembaca (Al-Quran) yang fasik. Mereka tampak seperti pendeta, tetapi hati mereka busuk. Keinginan (hawa nafsu) mereka sangat banyak. Maka Allah akan membukakan bagi mereka bencana yang dipenuhi kezaliman. Mereka terbenam di dalam keadaan itu. Demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-nya, sungguh simpul Islam itu akan terurai satu demi satu sehingga (orang-orang) tidak lagi berkata, “Allah, Allah.” (Kerana itu) sungguh harus engkau lakukan amar makruf nahi mungkar, atau (kalau hal itu tidak dilakukan) Allah akan menimpakan pada kalian banyak keburukan. Lalu Allah menjatuhkan pada kalian bencana (azab) yang buruk. Kemudian (kerana azab tersebut) kalian berdoa (meminta) kebaikan, tetapi (doa dan permintaan itu) tidak dikabulkan. (Maka) sungguh engkau harus melakukan amar makruf nahi mungkar, atau (jika hal itu tidak dilakukan) Allah akan membangkitkan atas kalian orang (penguasa) yang tidak mencintai anak-anak kecil kalian dan tidak menghormati orang-orang tua kalian.” (HR Ibnu Qayyim)
- Rasulullah menggunakan huruf “lam” dan “nun” pada perkataan “lata’murunna” dan “latanhaunna”, yang membawa maksud bahawa “sungguh engkau perlu memerintahkan” yang makruf dan “sungguh engkau perlu melarang” yang mungkar. Ini menunjukkan maksud betapa pentingnya aktiviti amar makruf dan nahi mungkar serta ketegasan dalam perintah tersebut.
- Hadi ini menjadi bantahan bagi orang-orang yang selalu mengatakan bahawa satu-satunya usaha yang dapat dilakukan saat ini untuk meraih kemenangan Islam dan mengubah keadaan kaum muslim adalah dengan berdoa sahaja tanpa perlu melakukan perkara yang lain. Kerana, pada hadis ini, Rasulullah menyatakan dengan tegas bahawa mengabaikan amar makruf nahi mungkar akan menyebabkan tidak diterimanya doa, bahkan dari seorang muslim yang baik sekalipun.

