Site icon MuslimahHTM News

ENGKAULAH SAHAJA (YA ALLAH) YANG KAMI SEMBAH DAN KEPADA ENGKAULAH SAHAJA KAMI MEMOHON PERTOLONGAN

Setiap hari dalam setiap solat, baik solat wajib atau sunat, umat Islam membaca ayat Allah dari surah Al-Fatihah:
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan.” (TMQ Al-Fatihah [1]: 5)

Ini bermakna, setiap Muslim akan mengakui dan menyatakan penyerahan diri mereka kepada Allah swt, dan mereka akan meng-Esa-kan Allah SWT, mentaati-Nya, hanya menyembah-Nya, dan memohon pertolongan dari-Nya dalam setiap ibadah dan ketaatan pada-Nya, dalam semua urusan mereka. Tafsir Ibnu Katsir menyatakan: “Kami tidak menyembah selain Engkau, dan kami tidak bersandar kepada siapapun selain Engkau, dan inilah kesempurnaan ketaatan.” Agama didasarkan pada dua makna ini, dan beberapa pendahulu mengatakan: Al-Fatihah adalah rahsia Al-Quran, dan rahasianya adalah kata ini:

﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan.” (TMQ Al-Fatihah [1]: 5)

Yang pertama adalah meninggalkan kemusyrikan dan yang kedua meninggalkan kekuatan dan kekuasaan, dan menyerahkan semua urusan kepada Allah swt. Makna ini ditemukan dalam lebih dari satu ayat Al-Quran, Allah swt berfirman:

﴿فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾
“… Oleh itu, sembahlah akan Dia serta berserahlah kepadaNya. Dan (ingatlah), Tuhanmu tidak sekali-kali lalai akan apa yang kamu lakukan” (TMQ Hud [11]: 123).

﴿قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا﴾
“Tegaskan (wahai Muhammad, kepada mereka): “Allah Dia lah Yang Maha Pemurah, yang kami beriman kepadaNya, dan yang kepadaNya kami berserah diri…” (TMQ Al-Mulk [67]: 29).

﴿رَّبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً﴾
“Dia lah Tuhan yang menguasai timur dan barat; tiada Tuhan melainkan Dia; maka jadikanlah Dia Penjaga yang menyempurnakan urusanmu.” (TMQ Al-Muzzammil [73]: 9).

Sebagai tambahan untuk ayat mulia ini :

﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan.” (TMQ Al-Fatihah [1]: 5)

Syarat agar ibadah diterima oleh Allah swt yakni ibadah itu murni diperuntukkan hanya untuk-Nya saja. Allah swt berfirman:

﴿قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ﴾
“Katakanlah lagi (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat kepadaNya;” (QS. Az-Zumar [39] : 11)

Allah swt berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar.” (TMQ Al-Bayyinah [98]: 5)

Keikhlasan adalah menyerahkan urusan untuk Allah swt dengan niat beribadah dan mengharap pahala dari-Nya saja.

Dalam periwayatan Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Allah swt berfirman: Aku berdiri sendiri sehingga Aku tidak perlu memiliki sekutu. Dengan demikian barangsiapa melakukan suatu ‘amal demi orang lain dan juga untuk-Ku, maka amal perbuatan itu Ku lepaskan dari-Ku kepada orang yang dia kaitkan dengan-Ku” (HR. Muslim)

Ibadah juga diwajibkan mengikuti tatacara dan perintah yang telah Allah swt serukan dan ajarkan kepada kita melalui Rasul-Nya. Beribadah memerlukan pengetahuan tentang ibadah dan hukum-hukumnya serta tatacara pelaksanaan sebelum melakukannya.
Menjadi hamba Allah swt bermakna menjalankan perintah-Nya dan mengikuti keputusan-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya.

Ibadah dalam erti umum tidak terbatas pada melakukan ibadah individu yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhannya (hablum minallah), seperti solat, puasa, zakat dan haji, tetapi juga mencakup hubungan seseorang dengan dirinya sendiri (hablum minannafsi) melalui makanan dan pakaian; dan hubungan dirinya dengan orang lain (hablum minannaas) melalui muamalah, mengelola tanah (harta) dan pewarisan di dalamnya, dan berjuang untuk menerapkan hukum-Nya di bumi, serta membawa pesanan Islam dan mendakwahkannya ke seluruh dunia.

Menjadi hamba Allah swt bermakna kita meminta pertolongan-Nya dalam melakukan ketaatan dan ibadah, dan kita meminta pertolongan-Nya dalam menjauhi larangan dan berlindung dari bisikan syaitan dan seruan yang mengajak pada kejahatan.

Disampaikan oleh Mu’adz bin Jabal ra, “Rasulullah saw menyampaikan kepadaku:
«أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
“Wahai Mu’adz, aku akan memberimu beberapa nasihat, jangan pernah meninggalkan bacaan doa ini setelah solat : `Ya Allah, tolong aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan menyembah-Mu dengan sempurna’.” (HR. Abu Daud)

Hadis tersebut menunjukkan bahawa kita memohon bantuan-Nya dalam semua aspek kehidupan kita dan menyandarkan harapan pada-Nya dan meminta pertolongan-Nya dari semua bahaya yang menimpa kita dalam urusan dunia dan dalam musibah, mahupun kesulitan yang menimpa kita dalam menjalankan seruan-Nya, Islam dan usaha kita untuk menegakkan agamanya di muka bumi.

Fokus kita adalah firman Allah swt:
﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً﴾
“…Dan sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.”. (TMQ At-Talaq [65]: 3).

Hal ini bermaksud bahawa kita tidak akan tunduk kepada para penjajah dan musuh-musuh Allah, dan kita tidak akan berpihak kepada mereka atau meminta bantuan dari mereka, kerana Allah bersama kita. Kekuatan dan kekuasaan mereka pasti akan binasa. Tidak kiralah berapa lama pun waktu yang diperlukan. Allah swt pasti akan membantu kita. Siapa pun yang bergantung harap pada para penjajah, dia tidak akan mendapat dukungan, dan siapa pun yang bergantung harap Allah swt maka dia tidak akan kecewa. Insya Allah.

Bulan Ramadhan adalah kesempatan besar untuk memperbaharui perjanjian dengan Allah swt, dan untuk memberikan pengabdian dan penyerahan diri kepada Allah serta aturan-Nya. Ia juga kesempatan besar untuk memelihara ketaatan dan penyembahan kita (pada Allah swt), berjuang untuk mengubah realiti yang rosak ini. Sekaligus menjadi momen penting untuk kita memohon pertolongan Allah swt, percaya kepada-Nya, dan percaya pada kemenangan-Nya. Justeru itu, teruslah melangkah maju di jalan ini. Marilah `menyingsing lengan’ dan berjuang lebih keras.

Ditulis untuk Pejabat Media Pusat Hizbut Tahrir oleh
Bara’ah Manasrah

Exit mobile version