WAHAI UMAT ISLAM, PELIHARALAH KELUARGA KALIAN DARI API NERAKA DENGAN MEMENUHI JANJI KALIAN KEPADA ALLAH (SWT) DAN TEGAKKANLAH KHILAFAH
﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak menderhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [TMQ Surah At-Tahrim: 6]
Allah (swt) telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melindungi keluarga mereka dari api neraka dengan mentaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Sebagai mukmin, kita telah berjanji kepada Allah (swt) bahawa kita akan berusaha untuk tetap teguh berada di jalan yang lurus dalam hidup ini dan memelihara keluarga kita agar mematuhi segala perintah-Nya. Sayangnya, sejak kehancuran Khilafah pada tahun 1924, hal ini menjadi semakin sukar untuk dilakukan dan hampir tidak mungkin dilakukan di dunia pasca Tragedi 9/11, yang menjadikan Islam dan kaum Muslimin sebagai musuh awam nombor 1, lebih berbanding sebelumnya.
Setelah Tragedi 9/11, Amerika Syarikat dan Barat mendeklarasikan ‘Perang Melawan Keganasan (Terrorisme)’, yang menjadi alasan untuk mereka menggubal undang-undang ‘anti-keganasan’ atas dasar keamanan. Penyadapan, aktiviti mata-mata (pengintipan), dan kes-kes penjebakan telah menjadi norma di masjid-masjid di seluruh Barat, demikian pula berbagai inisiatif Mencegah Ekstremisme Ganas (Countering Violent Extremism, CVE) yang digunakan untuk menggambarkan profil pemuda Muslim.
Mereka menggunakan media dan Hollywood untuk menyebarkan stereotaip bahawa Muslim yang membenci “kebebasan” Barat pada dasarnya memang ganas (violent). Mereka juga diam-diam merencanakan serangan seterusnya pada setiap saat. Propaganda ini diaruskan dengan cepat untuk meyakinkan masyarakat bahawa prinsip-prinsip Islam tradisi, seperti jihad, institusi perkahwinan (kekeluargaan muslim), hukum waris, perwalian perempuan oleh mahram mereka, dan lain-lain, adalah prinsip yang terbelakang, ketinggalan dan menindas.
Mereka serta merta menunjukkan bahawa perempuan berpurdah atau berhijab sebagai perempuan yang diperhambakan dan memerlukan nilai-nilai feminis Barat untuk menyelamatkan mereka dari cengkaman Islam, Astaghfirullah! Feminisme memiliki efek berbahaya tersendiri bagi umat Islam, yang menjadikan lelaki dan perempuan sebagai pesaing dalam semua bidang kehidupan, sebagai lawan, bukannya pihak yang berkerjasama, yang bekerjasama demi meraih redha Allah (swt). Gagasan ini juga telah mendorong para ibu – jantung hati keluarga – untuk keluar dari rumah dan masuk ke dunia kerjaya, bukan dalam rangka memberikannya kesetaraan dan rasa hormat, melainkan menjadikannya pengeluar dan pengguna demi kepentingan elit kapitalis.
Cengkaman kapitalisme dan sekularisme terhadap umat Islam baik di Timur mahupun Barat telah mendorong kita menjadi materialistik dan individualistik. Fokus kita pun beralih dari tujuan akhirat menjadi tujuan untuk memperoleh kesenangan duniawi seperti smartphone baru, kereta mewah, rumah megah, percutian mahal, dan pakaian dari designer.
Bahkan, walaupun kita tidak mampu membelinya, kita dibayangi godaan pinjaman bank dan kredit untuk memuaskan hasrat agar dapat menyesuaikan diri dengan dunia saat ini.
Serangan yang terus-menerus terhadap cara hidup kita dan penanaman berbagai cita-cita yang merupakan antiesis (berlawanan) dari Islam telah menyebabkan kaum Muslimin, terutama mereka yang tinggal di Barat, menjadi bersikap defensif apologetik atas Dien kita sendiri. Demi cuba untuk dilihat lebih mirip dengan orang Amerika, atau Inggeris, kita secara tidak sengaja mula menginternalisasikan retorika Islamofobia yang telah dicekikkan ke dalam diri kita oleh pemerintahan Barat, boneka-boneka mereka di seluruh negeri Muslim, dan pihak media. Kita tidak lagi mencari keredhaan Allah (swt), tetapi keredhaan kaum Kuffar. Cara berfikir dan cara hidup seperti ini memberikan kesan buruk bagi umat Islam, khususnya kaum muda, yang bingung tentang identity mereka sendiri dan tentang sumber pandangan hidup mereka yang sepatutnya.
Bagaimana kita boleh melindungi keluarga kita dari api neraka sementara masyarakat tempat kita hidup membuatkan kita merasa seolah-olah identiti kita sebagai Muslim adalah sesuatu yang “radikal”? Tetapi jika kita menerima berbagai gagasan sekular asing seperti LGBTQ+, zina, feminisme, kebebasan memilih, dll…, maka kita akan diterima sebagai sebahagian dari mereka. Semua ini pada akhirnya akan menyebabkan identiti kita sebagai Muslim hilang sepenuhnya, dan menjadikan Islam tidak lebih dari satu set ritual yang kita pertahankan. Padahal tujuan diturunkannya Islam adalah sebagai sistem hukum holistik untuk diterapkan sebagai rahmat bagi umat manusia.
Inilah sebabnya mengapa penting bagi kita untuk memenuhi janji kita kepada Allah (swt) demi melindungi keluarga kita dari api neraka, kita perlu berjuang untuk memenuhi kewajipan akan tegaknya Khilafah yang akan memastikan bahawa umat Islam dapat hidup di dalam masyarakat yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pencipta kita.
Dengan demikian, kita dapat memenuhi janji kita kepada Allah (swt). Selain itu, melalui penerapan Syariah Allah (swt), kita akan menegakkan keadilan-Nya, melindungi orang-orang yang tidak bersalah, dan menjaga Dien kita di dalam kehidupan ini dengan cita-cita demi mencapai tingkat Jannah yang tertinggi di akhirat kelak.
Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahawa Rasulullah (saw) bersabda,
«إنَّما الإمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِن ورَائِهِ ويُتَّقَى به»
“Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” [HR. Muslim]
Ditulis untuk Pejabat Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh
Sarah Mohammed – Amerika

