Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib
Keimanan yang menyeluruh itu menjadi sebuah kewajipan. Pengingkaran terhadap sebahagiannya mengakibatkan pelakunya termasuk sebagai kafir. Allah Swt. berfirman,
]إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا[
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, bermaksud memperbezakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebahagian dan kafir terhadap sebahagian lain,’ serta bermaksud mengambil jalan (tengah) antara yang demikian (iman atau kufur), merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya.” [TMQ An-Nisa’ (4): 150—151]
Seterusnya, keimanan tersebut dibuktikan dengan ketaatan kepada semua hukum-hukum Allah, baik dalam perbuatan mahupun ucapannya. Ketaatan inilah yang dimaksud dengan amal soleh. Sebab, mengerjakan amal soleh adalah menunaikan kewajipan, meninggalkan kemaksiatan, dan mengerjakan kebaikan.[16]
Selanjutnya dinyatakan, “Wa tawâ shawb al-haqq wa tawâ shawb ash-shabr (saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran).”
Sebenarnya, dua aktiviti ini—yakni saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran—dapat dikategorikan sebagai amal soleh. Sebab, kedua aktiviti tersebut termasuk amal perbuatan yang diperintahkan oleh syariat.
Di samping itu, dalam beberapa ayat lainnya dinyatakan bahawa orang yang masuk syurga dan mendapatkan redha-Nya—bererti tidak termasuk golongan yang merugi—adalah yang memenuhi dua persyaratan, iaitu: beriman dan beramal soleh (TMQ Al-Baqarah [2]: 25; TMQ Al-Bayyinah [98]: 7).
Penyebutan tersendiri dua aktiviti tersebut menunjukkan adanya penekanan khusus pada keduanya. Ini persis seperti halnya penyebutan Jibril dan Mikail setelah sebelumnya disebutkan kata “wa malâikatuh (dan malaikat-malaikat-Nya)” yang bererti malaikat secara keseluruhan (TMQ Al-Baqarah [2]: 98).
Dalam bahasa Arab, yang demikian dikenal dengan athf al-khâshsh ‘ala al-‘âmm (menambahkan yang khusus pada yang umum). Menurut Ash-Shabuni, jika iman dan amal soleh menyempurnakan diri sendiri, sementara berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran dapat menyempurnakan orang lain.[17]
Kata “al-haqq” merupakan lawan dari “batil atau sesat”. Allah Swt. berfirman,
]فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ[
“Itulah Allah Tuhan kalian yang sebenarnya. Karena itu, tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (TMQ Yunus [10]: 32)
Menurut Ath-Thabari, yang dimaksud dengan al-haqq adalah Kitabullah.[18] Secara lebih luas, al-haqq boleh diertikan sebagai Dîn al-Islâm. Sebab, Islam satu-satunya agama yang benar dan wajib diikuti setelah diutusnya Rasulullah saw.
Sedangkan ash-shabr bererti menahan dalam kesempitan.[19] Menurut Al-Alusi, sabar bukan sekadar menahan jiwa dari kesempitan, namun juga menerima apa pun dari Allah Swt. dengan indah dan redha, lahir dan batin.[20]
Para mufassir menyatakan bahawa ada tiga jenis kesabaran yang perlu dimiliki setiap Mukmin: (1) sabar dalam menjalankan ketaatan; (2) sabar dalam menjauhi maksiat; (3) sabar dalam menerima berbagai musibah yang menimpa dirinya.
Hubungan antara Waktu, Kerugian, dan Amal Soleh
Tempoh waktu kehidupan manusia di dunia telah ditetapkan. Seiring berjalannya waktu, umur yang dimiliki makin pendek, maka menarik sekali apa yang diungkapkan Ar-Razi dalam tafsirnya, mengenai hubungan antara waktu dan kerugian.
Ketika rugi difahami sebagai hilangnya modal, sementara modal manusia adalah umur yang dimilikinya, maka manusia senantiasa mengalami kerugian. Sebab, setiap saat, dari waktu ke waktu, umur yang menjadi modalnya terus berkurang.
Tidak diragukan lagi, jika umur itu digunakan manusia untuk bermaksiat, ia benar-benar mengalami kerugian; bukan hanya tidak mendapatkan pampasan apa pun dari modalnya yang hilang, bahkan dapat membahayakan dan mencelakakan dirinya.
Begitu juga jika umurnya dihabiskan untuk mengerjakan perkara-perkara yang mubah, seseorang tetap dikatakan rugi. Ini kerana modal yang dimiliki (umur) habis tanpa meninggalkan pengaruh apa pun bagi dirinya.[21]
Bertolak dari pemahaman tersebut, maka orang yang beruntung hanyalah yang bersedia menghabiskan umurnya untuk mengerjakan amal soleh. Sebab, hanya dengan mengerjakan amal soleh manusia mendapatkan ganti dari modalnya yang telah hilang, bahkan jauh lebih besar daripada yang hilang darinya. Allah Swt. menjanjikan pahala berlipat ganda bagi amal soleh yang dikerjakan manusia (lihat TMQ Al-Qashash [28]: 83).
Demikian juga dengan harta yang diinfakkan di jalan Allah Swt. Kepada pelakunya, dijanjikan akan mendapatkan balasan tujuh ratus kali ganda (TMQ Al-Baqarah [2]: 261. Lihat juga: TMQ Al-Baqarah [2]: 265).
Keuntungan lebih besar dapat diraih oleh seseorang yang melakukan dakwah, saling berwasiat untuk mentaati kebenaran dan menepati kesabaran.
Rasulullah saw. bersabda,
«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»
“Siapa saja yang menunjukkan kepada (orang lain) kebaikan, dia mendapatkan pahala sama dengan yang mengerjakannya.” (HR Muslim)
Dengan adanya ketetapan tersebut, orang yang berdakwah, mengajak orang lain pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran, seolah hidup lebih lama daripada umur yang sebenarnya.
Dalam hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dari Abu Hurairah disebutkan bahawa salah satu dari tiga amal yang tidak terputus pahalanya disebabkan kematian adalah ilmu bermanfaat yang diajarkan semasa masih hidup. Wasiat tentang kebenaran dan kesabaran yang terus diamalkan orang lain dapat dimasukkan di dalamnya.
Menyia-nyiakan waktu juga dipandang sangat merugikan jika dikaitkan dengan terbatasnya kehidupan manusia di dunia. Al-Quran memberitakan bahawa di akhirat kelak manusia merasakan bahawa kehidupan mereka di dunia sehari atau setengah hari (TMQ Al-Mu‘minun [23]: 113) atau bahkan sekejap saja (TMQ Yunus [10]: 45). Allah Swt. juga menyatakan bahawa manusia tinggal di dunia hanya sebentar (TMQ Al-Mu‘minun [23]: 114).
Dengan waktu yang amat singkat tersebut, kenikmatan mahupun penderitaan yang dialami manusia di dunia sesungguhnya juga sangat kecil dan sedikit. Al-Quran menyatakan, “Matâ‘ al-dunyâ qalîl (kesenangan di dunia itu hanya sebentar atau sedikit).” (TMQ An-Nisa’ [4]: 77).
Kesenangan yang dirasakan orang kafir juga disebut qalîl (TMQ Al-Baqarah [2]:126; TMQ Ali Imran [3]: 197). Disebut demikian jika dibandingkan dengan siksa yang bakal diterima di akhirat yang kekal dan sangat berat. Sebaliknya, penderitaan yang dialami seorang mukmin akibat mempertahankan keimanannya dan memperjuangkan agama-Nya sesungguhnya juga amat ringan. Sebab, balasan yang didapatkan jauh lebih besar dan kekal abadi.
Dengan paradigma seperti ini, seseorang yang beruntung adalah orang yang benar-benar memanfaatkan waktu (hidupnya) untuk mengerjakan amal soleh. Jangankan perbuatan terlarang, perbuatan mubah dan tidak mendatangkan manfaat pun sebaiknya ditinggalkan. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.,
«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ»
“Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)
Paradigma itu juga akan membuat seseorang menjadi orang yang sabar. Sabar dalam keimanan. Hal itu tercermin dalam sikapnya yang kukuh, tahan, dan tak tergoyahkan dalam mempertahankan akidahnya, meskipun harus menerima berbagai penderitaan dan siksaan. Sabar dalam menjalankan syariat-Nya. Wujudnya, jiwanya terasa ringan mengerjakan semua perintah-Nya dengan segala kemampuan yang dimiliki, meskipun perintah itu sangat berat.
Sabar dalam menjauhi kemaksiatan. Implementasinya, hatinya tak akan tergoda melaksanakan perbuatan maksiat, walaupun hal itu sangat mempersona dan menggiurkan. Sabar dalam berdakwah. Bentuknya, dia tidak pernah jemu menyampaikan dakwah, meskipun sering kali ditolak, atau bahkan mendapatkan cemuhan, siksaan, atau hukuman.
Juga, sabar menerima semua musibah dan cubaan. Realisasinya, dia akan tetap berhusnuzan kepada Allah Swt., bahawa semua yang diberikan Allah Swt. kepadanya adalah yang terbaik untuknya. Semua itu dilakukan kerana berharap besarnya pahala yang diterima, berupa redha Allah Swt. dan syurga-Nya yang dipenuhi berbagai kenikmatan tiada tara.
Jadi, masihkah kita berani menyia-nyiakan waktu? Bergegaslah segera memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya untuk berjuang menegakkan agama-Nya. Wallahualam.
Rujukan:
[16] Az-Zuhayli, op. cit., 395; al-Qurtubi, op. cit., 122.
[17] Ali al-Shabuni, op. cit., 575
[18] Ath-Thabari, op. cit., 685
[19] Al-Ashfahani, op. cit., 280
[20] Al-Alusi, Rûh al-Ma‘âni, vol. 15, 458
[21] Ar-Razi, op. cit.,83.

