Site icon MuslimahHTM News

WAFATNYA MUAWIYAH BIN ABU SUFYAN

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muawiyah bin Abu Sufyan memimpin kekhalifahan selama hampir dua puluh tahun. ‘Amul Jama’ah’ (tahun persatuan) terjadi di bawah kepemimpinannya. Penyebarluasan Islam hingga ke wilayah Afrika Utara juga pada masa kekhalifahan Muawiyah. Armada laut kaum muslimin pun berkembang pesat pada masa pemerintahannya.

Muawiyah wafat di kota Damaskus pada Rejab 60 H. Kebanyakan ulama ahli sejarah menyatakan bahawa Muawiyah wafat pada Khamis pertengahan Rejab. Sementara Ibnu Ishaq menyatakan bahawa Muawiyah wafat pada malam Khamis, ketika Rejab berbaki lapan hari lagi pada 60 H.

Pidato Terakhir Muawiyah

Ibnu Abi Dunia berkata, “Harun bin Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdullah As Sahmi (dia berkata), Tsumamah bin Kultsum menceritakan kepada kami bahawa khutbah terakhir yang dipidatokan Muawiyah adalah,

‘Wahai manusia! Aku adalah tanaman pertanian yang telah dituai. Aku sudah selesai memerintah kalian, dan siapa pun yang menjadi penggantiku pasti dia jauh lebih buruk daripada diriku sebagaimana Khalifah sebelumku jauh lebih baik daripada diriku.’

‘Hai Yazid (putraku)! Apabila ajalku tiba, suruhlah seorang lelaki bijaksana untuk memandikan jenazahku kerana orang yang bijaksana memiliki kedudukan di sisi Allah. Dan hendaklah dia memandikan jenazahku dengan lembut serta mengucapkan takbir dengan lantang. Kemudian gunakanlah sapu tangan untuk mengambil pakaian Nabi saw. dan beberapa helai rambutnya serta potongan kukunya (yang ku simpan) di lemari. Letakanlah helaian rambutnya pada hidung, mulut, dan mataku serta bungkuslah kulitku dengan pakaiannya sebelum kain kafanku.’

‘Hai Yazid (putraku), ingatlah bahawa pesan Allah yang dititipkan pada kedua orang tua! Apabila kalian telah menurunkanku ke liang kuburku maka pergilah segera! Biarkanlah Muawiyah bersama yang Paling Penyayang di antara yang Penyayang.”

Memohon Ampun di Akhir Hayatnya

Muhammad ibn Uqbah menuturkan, “Ketika maut menjemput Muawiyah, dia berkata, ‘Aduh, seandainya dulu aku hanyalah lelaki Quraisy yang tinggal di Dzu Thuwa (sebuah tempat di negeri Syam) dan seandainya aku sama sekali tidak pernah memikul jawatan ini’.”

Muhammad bin Sirin berkata, “Tatkala ajal hendak menjemput, Muawiyah meletakkan pipi ke tanah kemudian dia membalikkan wajahnya, dan meletakkan pipi yang satunya, lantas dia menangis. Dia berucap, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau berfirman dalam kitab-Mu, ‘Sungguh Allah tidak akan mengampuni (dosa) bila mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. ‘ (Surah An-Nisa: 48). Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang Kau kehendaki untuk Kau ampuni dosanya.’”

Abu Mikhnaf meriwayatkan dari Abdulmalik bin Naufal, dia berkata, “Tatkala Muawiyah meninggal dunia, Dhahak bin Qais naik ke atas mimbar, dia berpidato kepada khalayak- sedang kain kafan Muawiyah masih dia pegang dengan kedua tangannya- dia berucap sesudah memuji Allah Swt., ‘Sesungguhnya Muawiyah itu adalah dinding orang Arab, penolong mereka serta kemuliaan mereka. Allah memutus fitnah dengannya, menjadikannya raja atas hamba-hamba-Nya, juga membebaskan banyak negeri dengannya. Ketahuilah sungguh dia telah mati dan ini kain kafannya, kami pun akan memasukkannya ke liang lahat dan memasukkannya ke dalam kubur, serta memisahkan antara dia dengan amalnya. Kemudian ke negeri Alam Barzakh sampai Hari Kiamat. Barangsiapa di antara kalian ingin menyaksikannya, hendaklah dia hadir sejak awal! Dhahak turun untuk memberitahu Yazid bin Muawiyah agar segera datang.”

Yazid bin Muawiyah Dibaiat Menjadi Khalifah

Sekelompok ahli sejarah menuturkan, “Yazid bin Muawiyah pada ketika itu tidak ada di tempat tersebut sehingga yang mengimami solat atas jenazah Muawiyah adalah Dhahak bin Qais, sesudah salat Zuhur di Masjid Damaskus. Kemudian jasad Muawiyah dikuburkan.”

“Kemudian Dhahak bin Qais menaiki kudanya bersama sepasukan tentera. Dia keluar menemui Yazid bin Muawiyah. Pada saat itu Yazid berada di Huwarin. Tatkala mereka sampai di Tsaniyatul ‘Uqab, mereka menemukan bekalan Yazid. Ternyata Yazid berada di sana sedang menaiki kenderaannnya, dan dia kelihatan sangat sedih. Orang-orang membaiat dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya sekaligus menyampaikan belasungkawa atas kematian ayahnya.”

“Yazid bin Muawiyah menuju Ash-Shagir dan berjalan kaki ke kuburan ayahnya. Kemudian dia masuk dan melaksanakan solat jenazah. Dia keluar menaiki kendaraan khalifah dan masuk ke dalam area istana. Dia memerintahkan agar diserukan kepada rakyat, ‘Ash sholatu jami’ah’. Yazid bin Muawiyah memasuki istana, mandi, dan mengenakan baju yang indah. Lalu dia keluar untuk menyampaikan pidato pertamanya sebagai Amirul mukminin.”

Wallahu`alam.

Sumber: Qadhi Syaikh Muhammad bin Ahmad Kan’an. Daulah Bani Umayah. Al Qowam.

Exit mobile version