Pada era awal Islam, ketika kaum Muslim berada di Mekah al-Mukarramah dalam keadaan tertindas dan tidak memiliki kekuasaan sedikitpun, selama lebih dari sepuluh tahun, maka itu menjadi pemisah antara tahun kesedihan dan kelemahan dengan penaklukan Mekah tahun kekuasaan, kemenangan dan kekuatan. Di mana hal itu merupakan waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan berbagai prestasi; dalam sepuluh tahun negara pertama kaum Muslim berdiri melalui tangan kaum Ansar dan Muhajirin, yang selama tempoh tersebut mereka mampu mengalahkan semua musuh-musuh di semenanjung Arab, dan mampu mengukuhkan pilar-pilar kekuasaannya atas seluruh wilayah semenanjung Arab, bahkan suaranya menggema di wilayah-wilayah tetangga, juga mula bersaing berebut kerusi kekuasaan barisan hadapan di persada dunia.
Pada tahun kelapan hijriah, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama menaklukkan Mekah al-Mukarramah, maka suku-suku Arab pun mula berdatangan ke Madinah al-Munawwarah, dan hal itu terjadi pada bulan Ramadhan tahun kesembilan dari hijrah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallama. Sehingga dengan banyaknya delegasi yang terus berdatangan, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama sebagai seorang Nabi utusan Allah, serta pemimpin negara Islam, menerima para delegasi tersebut dan bertemu dengan mereka. Para delegasi terus berdatangan dari berbagai suku di semenanjung Arab sepanjang bulan Ramadhan, Syawal sampai akhir Zulkaedah.
Pada tahun itu, walaupun Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama disibukkan dengan berbagai delegasi tersebut, namun beliau masih sempat mempersiapkan rombongan haji pertama dengan cara Islam yang dipimpin oleh Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, untuk menunjukkan pada masyarakat cara haji mereka, mewakili Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama dalam melayani dan mengurusi urusan mereka, di mana bersama beliau disertai sebanyak tiga ratus kaum Muslim. Pada saat rombongan hampir sampai dipinggiran Madinah al-Munawwarah, maka turunlah wahyu kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama, iaitu surah Bara’ah. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama mengirim Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan wahyu yang diterima Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama kepada orang ramai tatkala mereka berkumpul di Mina. Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat-ayat yang mulia itu kepada mereka hingga selesai. Kemudian beliau menyeru kepada orang-orang:
“Wahai manusia, bahawasannya tidak akan masuk syurga orang kafir, dan setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh berhaji, juga tidak boleh bertawaf di Baitullah dengan telanjang. Siapa saja yang ada perjanjian dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama, maka itu tetap berlaku hingga masanya berakhir.”
Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu menyampaikan kepada orang ramai tentang empat ketentuan (hukum) tersebut. Sehingga dengan demikian, benar-benar sempurna kekuasaan kaum Muslim di semenanjung Arab, dan mengukuhkan pilar-pilar negara mereka di sana, serta mengizinkan negara yang baru berdiri ini untuk mengemban dakwah Islam ke setiap penjuru bumi yang lain.
Pada tahun kesepuluh Hijriah, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama berhaji dan ini merupakan satu-satunya ibadah haji yang beliau kerjakan. Waktu itu ada seratus ribu lebih jemaah haji kaum Muslim yang bersamanya. Belaiu bersama mereka melakukan ibadah haji berdasarkan syariat Islam atau dikenali dengan haji wada’. Dalam peristiwa ibadah haji ini beliau menjelaskan kepada mereka semua tentang urusan agama, menyempurnakan semua nikmat Islam, lalu beliau menjelaskan kepada mereka tentang sistem kehidupan dalam masyarakat Muslim, dan hubungan mereka dengan masyarakat non-Muslim lainnya. Beliau menjelaskan kepada mereka undang-undang Islam dan hukum-hukumnya terkait perdagangan, perang, politik dan ibadah.Sehingga khutbah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama dalam haji kali ini adalah khutbah yang komprehensif dan terbaik yang mengukuhkan pilar-pilar negara Islam, serta meninggikan darjat orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Begitulah sejarah haji pada musim pertamanya, dan tetap seperti itu pada musim berikutnya ketika era awal Islam, serta di era kekuatan sejarah negara Islam selama berabad-abad. Semua itu adalah ritual universal Islam bagi semua kaum Muslim dari berbagai belahan dunia untuk bersatu dalam ruang, waktu dan ibadah. Semuanya tunduk pada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan pertemuan mereka dan iman mereka itu, kekuatan mereka semakin bertambah. Sehingga iman mereka, persatuan mereka dan kekuatan mereka membuat takut semua kekuatan kaum kafir dalam berbagai bentuk dan warnanya. Dengan demikian, ini akan menjadi raksasa besar di mana kaum Muslim berada di dalamnya menghadapi seluruh kaum musyrik, sebagaimana yang terdapat pada ayat-ayat terakhir yang dibacakan oleh Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu kepada para delegasi jemaah haji, pada saat beliau diutus oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama dalam pelaksanaan haji pertama kaum Muslim. Allah SWT berfirman: “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahawasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”(TMQ at-Taubah [9] : 36).
Sungguh ibadah haji senantiasa merupakan ritual universal Islam yang membangkitkan marah dan kepanasan bagi orang-orang musyrik dan kafir di rumah-rumah mereka, ketika mereka menyaksikan pertemuan kaum Muslim dengan jumlah yang sangat besar di waktu dan tempat tertentu, serta dengan ritual yang tetap dan sama. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat mereka sedikit tenang, dan tidak merasa bahaya, kerana mereka benar-benar tahu dan sedar bahawa pertemuan ini tidak akan menimbulkan ancaman nyata bagi mereka, kecuali ketika pertemuan ini dipimpin oleh seorang Imam (Khalifah) sebagai perisai yang menjadi kepala negara Islam, yang memimpin berdasarkan metod kenabian dan sejarah para Khulafa’ur Rasyidin. Keadaan seperti itulah yang mereka takuti dan mereka bimbangkan. Akan tetapi, keadaan—tegaknya kembali Khilafah—itu pasti akan kembali wujud, sebab itu janji Allah SWT dan busyra (khabar gembira) yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama: “… kemudian akan tegak kembali Khilafah yang berdasrkan metod kenabian …”.
Oleh: Majid al-Shalih
Bilādul Haramain al-Syarīfain
Sumber: hizb-ut-tahrir.info

