Site icon MuslimahHTM News

Universiti di Sudan, Antara Pembaratan Mahasiswa dan Pemikiran Islam

Universiti di Sudan, Antara Pembaratan Mahasiswa dan Pemikiran Islam

 

Oleh: Prof. Al-Fateh Abdullah (Universitas Al-Neelain di Sudan)

Ketika berbicara tentang sistem pemerintahan dalam Islam (Khilafah) di universiti-universiti Sudan (dalam arena debat intelektual universiti atau dasar perbincangan), terdapat pertanyaan berulang dari mahasiswa berkaitan pelaksanaan tiga kekuasaan, iaitu adakah pelaksanaan tiga kekuasaan (judikatif, legislatif, dan eksekutif) di negara Khilafah Rasyidah digabung atau dipisahkan?

Dari indikasi pertanyaan ini, menunjukkan bahawa apa yang dipelajari pemuda muslim di universiti tidak didasarkan pada asas Islam, melainkan pada pemikiran Barat yang sekular.

Pertanyaan seperti ini wajar ditanyakan oleh mereka yang dididik di negara-negara dengan kurikulum pendidikan yang didasarkan pada gaya Barat sekular (westernisasi, ed.). Ini adalah tindakan yang diterapkan oleh orang-orang kafir Barat dalam memerangi Islam, mereka mengambil gerbang pendidikan sebagai alat tunggangannya.

Gerbang Pendidikan

Dikutip dari Ensiklopedia Agama, “Di antara kaedah yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam dan kesepakatan mereka dalam perang melawan Islam ialah melalui kaedah pendidikan.”

Beberapa misionaris mengatakan, “Tujuan yang dijunjung tinggi oleh para delegasi sekolah dan institut pengajian tinggi (IPT) selalu sama di pelbagai negara. Sekolah dan IPT dianggap wasilah belajar paling utama melalui buku-buku Barat dan ajaran misionaris yang dibawa melalui guru-gurunya.”

Misionaris Henry Harris Jessup mengatakan, “Pendidikan dalam misi misionaris hanyalah sarana untuk mencapai tujuan, di mana tujuannya ialah memimpin manusia dan mendidik mereka sampai menjadi orang Kristian serta bangsa yang beragama Kristian.”

Sebahagian misionaris berkata, “Sesungguhnya kekuatan sekolah-sekolah untuk menjadikan orang-orang yang muncul di bawah pengaruh pendidikan itu lebih besar dibanding kekuatan lain yang ada. Lalu pengaruh ini berterusan hingga masuk pada orang-orang yang nantinya akan menjadi pemimpin negara mereka.”

Misionaris Thekla menyatakan bahwa, “Suatu kewajipan bagi kita untuk berani mendirikan sekolah-sekolah dengan gaya sekular Barat, kerana keyakinan kaum muslimin terhadap Islam dan Al-Quran telah mengalami goncangan ketika mereka mempelajari buku-buku sekolah Barat dan mempelajari bahasa-bahasa asing.”

Begitu juga pernyataan dari Samuel Zwemer, “Selama kaum muslim terasing dari sekolah-sekolah Kristian, maka wajib bagi kami mendirikan sekolah-sekolah sekular untuk mereka, serta mempermudahkan pendaftaran bagi mereka. Sekolah-sekolah inilah yang membantu kami membasmi ruh keislaman di dalam diri para pelajar.”

Inilah salah satu alasan yang membuat mahasiswa di peringkat IPT mempertanyakan perihal pelaksanaan tiga kekuasaan yang merupakan salah satu syarat dari sistem republik yang demokratik.

Republik

“Republik” merupakan kata yang berasal dari bahasa Latin, kata “res” yang ertinya ‘urusan atau kepentingan’, dan “publica” yang bermaksud ‘umum’. Gabungan makna dari dua suku kata tersebut ialah ‘kepentingan atau urusan umum’, iaitu bentuk pemerintahan yang didasarkan pada penyertaan seluruh masyarakat.

Republik merupakan salah satu sistem yang paling mendekati demokrasi, yang berpegang pada ideologi yang berasaskan kepada prinsip kedaulatan rakyat; kebebasan untuk memilih penguasa mereka; dan penyertaan yang luas dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial.

Istilah “Republik” sendiri sudah ditemui di kota-kota Yunani kuno sebagai ekspresi dari kehendak umum pada masa yang sistem kerajaan masih mendominasi ketika itu.

Prinsip pemisahan antara tiga kekuasaan yang dijelaskan oleh ilmuan Prancis, Montesquieu pada 1748 di bukunya, The Spirit of Laws, telah memengaruhi Jean-Jacques Rousseau dalam bukunya yang berjudul The Social Contract. Padahal, sistem politik di Eropah hingga saat itu masih bergantung pada penggabungan tiga kekuasaan pada peribadi penguasa.

Atau lebih jelasnya, tiga bahagian kekuasaan ini dahulunya bertindih sehingga mengganggu prestasi negara dan mengakibatkan adanya dominasi penguasa—dan orang-orang yang berlindung atasnya—terhadap masyarakat dan kekuatan mereka.

Inilah yang diajarkan di seluruh universiti yang mengajarkan ilmu politik di Sudan. Jadi, munculnya pertanyaan tadi berasal dari sudut pandang Barat tentang sistem pemerintahan.

Struktur Pemerintahan Islam

Sementara itu, sistem pemerintahan dalam Islam (Khilafah) memiliki struktur pemerintahan yang dijelaskan حزب التحرير dalam kitab Struktur Negara Khilafah dalam Pemerintahan dan Administrasi yang dinyatakan di dalamnya poin-poin berikut:

—Pertama, bahawasanya sistem pemerintah dalam Islam yang dinyatakan Allah SWT adalah sistem Khilafah Rasyidah yang di dalamnya seorang Khalifah diangkat dengan baiat atas Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Dalil-dalil atas hal tersebut begitu banyak ditemui dalam Al-Quran, sunnah, dan ijmak para sahabat.

—Kedua, bentuk sistem pemerintahan dalam Islam (Khilafah) berbeza dari semua bentuk pemerintahan yang dikenali di dunia, baik asasnya, gagasan, konsep, ukuran, mahupun dalam perlembangaan dan undang-undang yang dipraktikkan dan diimplementasikannya.

Oleh kerana itu, sungguh, sistem pemerintahan dalam Islam (Khilafah) bukanlah kerajaan, demokrasi, republik, mahupun kekaisaran. Ia (Khilafah) sama sekali tidak serupa dengan keadaan apa pun sehingga wajar apabila pertanyaan terkait pemisahan antara tiga kekuasaan seperti itu muncul.

—Ketiga, sesungguhnya struktur Khilafah berbeza dari struktur pemerintahan yang ada pada ketika ini. Meskipun dilihat ada kemiripan di sebahagian aspeknya, tetapi struktur Daulah Khilafah diambil dari struktur yang dibangunkan oleh Rasulullah SAW tatkala berhijrah ke Madinah dan mendirikan negara di sana, yang kemudian dilanjutkan oleh para khulafaurasyidin setelahnya.

Setelah dilakukan penelitian terhadap nas-nas yang berkaitan dengan hal tersebut, didapati bahawa struktur Daulah Khilafah dalam pemerintahan dan administrasinya adalah seperti berikut: Khalifah—dialah yang akan menjadi wakil umat dalam menjalankan kekuasaan dan penerapan hukum-hukum Allah SWT—, Mu’awin TafwidhMu’awin Tanfidz, Wali, Amir Jihad, Keselamatan Dalam Negeri, Keselamatan Luar Negeri, Perindustrian, Pengadilan, Kemaslahatan Umat, Baitulmal, Jabatan Penerangan, dan Majlis Umat.

Struktur ini diperincikan di dalam buku yang telah disebutkan sebelumnya. Inilah yang diwajibkan atas umat Islam, khususnya mahasiswa, untuk mengambil sistem pemerintahan mereka dari mata air murni yang Nabi SAW tinggalkan dan wasiatkan kepada kita.

Seperti yang Nabi katakan dalam hadis sahih, dari Al-Irbadh bin Sariyah, dia berkata, “Suatu hari setelah solat Subuh, Rasulullah SAW memberikan kami pidato yang sangat menyentuh hingga membuat air mata kami mengalir dan hati kami menjadi gementar. Sampai salah seorang sahabat berkata, ‘Seakan-akan ini sebuah pidato perpisahan. Lalu, apa yang engkau wasiatkan kepada kami, wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kepada seorang budak (hamba) Habasyi. Sesungguhnya, siapa saja di antara kalian yang hidup, akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Barang siapa di antara kalian yang menjumpai hal itu, hendaklah dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat kerana sesungguhnya hal itu bidaah dan setiap bidaah merupakan kesesatan.’” [HR Abu Daud dan Tirmidzi]

Khatimah

Kami memohon kepada Allah SWT untuk memuliakan kami dengan kemenanganNya dan memberikan kami kejayaan dalam mendirikan Khilafah Rasyidah kedua yang sesuai dengan jalan kenabian sehingga Islam dan kaum muslim dihormati, kekafiran dan orang-orang kafir terhina, dan kebaikan menyebar di seluruh dunia.

“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” [TMQ at-Talaq (65): 3]

Sumber: Media Muslim Timur Tengah dengan penambahan pada subjudul.

Diterjemahkan dari Surat Khabar Al-Rayah edisi 404, terbit pada Rabu, 19 Muharam 1444 H/17 Ogos 2022 M

 

Exit mobile version