Site icon MuslimahHTM News

Tenang Menghadapi Masalah

[Nafsiyah] Tenang Menghadapi Masalah

 

Ketika lelah mendera, saat ujian seolah tidak kunjung usai dalam kehidupan, hadapilah dengan tenang. Meski terkadang kita merasa hidup begitu berat, bahkan seolah tidak pernah terlihat jalan keluar. Lalu kita sering bertanya pada diri sendiri, “Apa, mengapa, dan bagaimana semua ini boleh terjadi?” padahal, bukankah Allah Swt. telah mengabarkan pada kita dalam firman-Nya? “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.)’ Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [TMQ Al-Baqarah (2): 155—157]. Oleh kerana itu, kembalikanlah setiap permasalahan kepada Allah, hati akan menjadi tenang. Allah Swt. berfirman, “ … orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenteram.” [TMQ Al-Ra’du (13): 28]

 

Sesungguhnya, pertolongan Allah pasti datang pada waktu yang tepat, ketika manusia tidak lagi mempunyai daya dan upaya selain berharap hanya kepada-Nya. Ketahuilah, tidak ada satu pun dalam sejarah para Nabi yang terlepas dari ujian yang luar biasa. Namun, mereka tetap kuat dan tabah menghadapinya. Seperti kisah Nabi Ibrahim as. ketika dibakar dalam api yang menyala, pada saat dia tidak mampu lagi berbuat apa-apa, dia hanya mampu berdoa dan memohon pertolongan-Nya. Pada saat itu jugalah Allah menolongnya, tidak sedikit pun api yang menyala membuatnya merasa panas terbakar. Begitu juga dengan Nabi Musa as. ketika pasukan Firaun mengejarnya. Ketika keselamatannya terancam, seketika itu pula sang Nabi berdoa lalu memukul tongkatnya hingga mampu membelah lautan menjadi dua bahagian. Dia pun terus berlari ke arah lautan yang terbelah itu. Pasukan Firaun mengikutinya hingga Allah menyatukan kembali lautan yang terbelah. Begitulah pengakhirannya dari ketabahan Nabi Musa. Allah menurunkan pertolongan buat hamba-Nya di puncak pengharapan yang paling akhir. Tatkala ujian dan masalah makin memuncak, ketika semua upaya telah dilakukan, akhirnya semua dikembalikan kepada Allah Swt.. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah. Allah pun menggolongkan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as. sebagai ulul azmi, golongan nabi yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam perjuangan dakwahnya.

 

Begitu juga pertolongan Allah pada Mariam as. Ketika Mariam as. merasakan kesakitan yang luar biasa disertai dengan ujian fitnah yang melanda, dia pun mengatakan, “Ya laitani mittu qabla haza wa kuntu nas-yam mansiyya.” Ertinya, “Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Kalimat tersebut merupakan petikan dari surah Mariam ayat 23 yang mengisahkan bagaimana sakitnya melahirkan. Ahli tafsir, Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, menafsirkan ayat tersebut. Menurutnya, saat kelahiran sudah dekat, rasa sakit menjelang kelahiran memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Tatkala dia mula merasa sakit semasa melahirkan, perihnya dia jauh dari makanan dan minuman, pedihnya hati kerana komentar yang berat sebelah dari orang ramai, dan ia menggugatkan kemampuannya untuk bersabar, sehingga menyebabkan dia berandai-andai jika dia mati sebelum melalui kejadian ini, hingga menjadi tidak bererti lagi bagi manusia dan tidak disebut-sebut lagi oleh mereka.

 

Kita telah mengetahui betapa luar biasanya masalah dan ujian para Nabi Allah. Maka, bersabarlah di ruang tunggu kehidupan. Sungguh, tidak ujian yang akan berlarutan selamanya. Kita mesti yakin bahawa pertolongan Allah pasti akan datang. Bila Allah memberikan pertolongan pada manusia? Ketika sudah berada di puncak pengharapan. Maka, perbanyakkanlah mengetuk pintu langit dengan berdoa. Sesungguhnya doa itu akan memberikan kita banyak kebaikan dan keberkahan. Sikap mukmin tidak akan pernah letih dalam berdoa, bahkan Nabi Muhammad saw. pernah berdoa dari asar hingga maghrib. Ketahuilah, ketika perut seorang hamba dalam keadaan kosong dan merasakan perih menanggung rasa lapar, doanya pun menjadi mustajab di sisi Allah Swt.. Bersabarlah menanti pertolongan Allah Swt. Jangan kerana rasa tidak sabar menjadikan kita melakukan keharaman. Hingga Allah murka kerananya.

 

Umar bin Khattab pernah berkata, “Aku tidak akan pernah bersedih ketika musibah datang padaku kerana beberapa sebab. Pertama, musibah itu tidak menimpa pada agamaku, maka aku anggap sebagai musibah kecil. Kedua, musibah ini kecil bagiku kerana ada musibah yang lebih besar yang menimpa orang lain. Ketiga, melalui musibah yang menimpaku, Allah memberikanku kesabaran dan waktu untuk introspeksi diri.”

 

Yakinlah, akan ada pertolongan Allah di sebalik segala musibah yang kita hadapi. Tidak lupa, mintalah doa pada orang-orang fakir, kerana doa mereka yang fakir sangat cepat menurunkan pertolongan Allah dalam kehidupan kita. Tenang menghadapi masalah bukan bererti berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Teruslah mengetuk pintu langit dengan doa-doa. Yakinlah pertolongan Allah akan datang pada saat puncak akhir pengharapan kita. Sesungguhnya, pekatnya malam yang makin dekat akan mengantarkan kita pada terbitnya pagi. Jangan bersedih, hadapi dengan penuh optimis. Sungguh, Allah Swt. tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya kecuali mereka yang telah berbuat syirik kepada-Nya. Insyaallah.

 

Sumber: https://muslimahnews.net/2022/09/23/11864/

 

#nafsiyah #sabar #ujian #ujiankehidupan #optimis #pertolonganAllah

Exit mobile version