Site icon MuslimahHTM News

Bergabung dengan Sistem Pemerintahan Kufur (Bahagian 1/2)

[Fikrul Islam] Bergabung dengan Sistem Pemerintahan Kufur (Bahagian 1/2)

Penulis: Ahmad Mahmud

 

Agama ini telah sempurna, dan nikmat juga telah disempurnakan. Tidak ada penggantian/perubahan terhadap kalimat-kalimat Allah SWT. Allah berfirman,

 

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar Iagi Maha Mengetahui.” [TMQ AI-An’am (6): 115]

 

Di antara kurnia Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah disempurnakannya bagi mereka agama mereka, begitu juga disempurnakannya nikmat bagi mereka. Allah SWT juga menjaga Al-Quran dan memeliharanya dari tangan-tangan yang ingin mengubah dan menggantinya. Firman Allah SWT,

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-Iah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [TMQ Al-Hijr (15): 9]

 

Sungguh, Allah telah menjaga Al-Quran agar menjadi hujah bagi manusia sampai hari kiamat.

 

Tatkala Rasulullah SAW menerima risalah dari langit, maka sejak saat itu kaum muslim wajib mewarisi (tugas) kenabian dengan sebaik-baiknya, iaitu dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan menggamit Sunnah dengan kuat sebagaimana yang diperintahkan. Jika hal ini dilakukan, keadaan mereka sama seperti keadaan Rasulullah dan para sahabatnya. Dalil-dalil yang menjelaskan hal itu sangat banyak.

 

Tatkala kaum muslim berdakwah, menyampaikan Islam kepada umat-umat lain, menawarkan kepada mereka agama yang lurus, agama yang berlandaskan pada akal dan fitrah, maka pada saat yang sama umat- umat lain itu juga menawarkan agama mereka kepada kaum musIim, meskipun dalam rangka untuk mempertahankan diri. Sejak itu sebahagian kaum muslim terpengaruh dengan apa yang dijajakan oleh umat-umat lain itu tanpa mereka sedari.

 

Hal ini membawa pengaruh negatif pada pemahaman kaum muslim terhadap Islam dan terhadap dakwah. Namun, keadaan tersebut tidak memakan waktu yang lama. Ulama kaum muslim menyedari akan hal itu. Para ulama ini merupakan menara-menara dan rambu penunjuk jalan yang akan memberitahukan kepada kaum muslim kebenaran sehingga mampu menghilangkan campuran asing yang melekat pada agama. Para ulama itu dengan gigih mencegah penyimpangan dan menggagalkan pemalsuan sehingga agama kembali bersinar.

 

Kaum muslim selalu berada antara dua keadaan, baik dan buruk. Datanglah masanya kepada kita keburukan, dan kita terjebak berada di dalamnya. Lalu bagaimana caranya melepaskan diri daripada keburukan itu?

 

Keadaan kita sekarang ini menuntut kita untuk kembali kepada sebab-sebab perbaikan sebagaimana yang pernah dilakukan pada mula pertama, agar kita kembali kepada Islam sebagaimana pertama kalinya dahulu.

 

Untuk membersihkan Islam dari segala kotoran dan menghilangkan seluruh penyimpangan serta mengubur setiap pemalsuan, kita wajib keluar dari cara berfikir yang rosak, yang kita warisi dari Barat. Cara berfikir yang telah menjadikan kita selalu menganalogkan masalah-masalah yang berkaitan dengan dakwah dengan tolok ukur yang berasaskan manfaat dan menuruti hawa nafsu.

 

Apa saja yang sesuai dengan hawa nafsu kita ambil, dan yang bertentangan dengannya kita tinggalkan. Dari sini kita menakwilkan teks-teks syarak agar sesuai dengan pandangan kita. Lalu kita hadirkan teks-teks itu untuk memberikan pembenaran terhadap kebenaran pendapat kita.

 

Sementara itu, cara berfikir Islam yang benar ialah bertumpu pada anggapan bahawa segala perkara ada di tangan Allah semata. Ertinya, tidak boleh kita memasukkan pemahaman kita terhadap hukum-hukum Allah, juga hasil fikiran kita dan kecenderungan-kecenderungan kita.

 

Tidak boleh kita jadikan hawa nafsu sebagai pemutus perkara. Tidak boleh bagi kita menjadikan ketakutan kepada musuh atau respons negatif manusia, atau tidak adanya kepentingan penguasa terhadap agama, atau keadaan dan situasi yang menyelimuti kita, atau tidak adanya maslahat, sebagai alasan bagi pengemban dakwah untuk meringankan beban dan mempermudah kaum muslim.

 

Sebab, Allah SWT bersifat Alim dan Khabir (Maha Mengetahui) hakikat tabiat manusia, mengetahui apa yang diperlukannya dan apa yang dapat dilaksanakannya. Allah mengetahui realiti dan fakta tempat manusia hidup di dalamnya, mengetahui pula siapa musuh-musuh kaum muslim, dan bagaimana cara-cara berinteraksi dengan mereka dan seterusnya.

 

Satu-satunya metod ijtihad yang benar, yang telah kami jelaskan sebelumnya, didasarkan terlebih dahulu kepada pemahaman atas realiti yang ingin dicari hukum syaraknya, kemudian dilanjutkan dengan mencari hukum syaraknya dengan menggunakan teks-teks syarak sesuai dengan dalalahnya. Barulah diketahui hukum Allah dalam perkara tersebut.

 

Seakan-akan kami ingin mengatakan tatkala menjalankan thariqah ini, “Sesungguhnya realiti tempat kita hidup dengan berbagai situasi dan keadaan yang ada, kekerasan dan dehumanisasi di dalamnya, termasuk maslahat yang dituntut, merupakan hukum Allah dalam perkara tersebut’. Terkait dengan hal itu Allah berfirman,

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [TMQ Al-Hujurat (49): 1]

 

Allah SWT berfirman,

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينً

“Dan tidaklah patut bagi Ielaki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” [TMQ Al-Ahzab (33): 36]

 

Perbezaan antara dua cara berfikir itulah yang menyebabkan adanya perbezaan dalam memahami hukum-hukum, yang digunakan untuk memperbaiki keadaan kaum muslim.

 

Sumber: Ahmad Mahmud, Dakwah Islam

 

#fikrulislam #pemikiranislam #sistempemerintahan

Exit mobile version