Site icon MuslimahHTM News

Andai tidak Mengenali Allah SWT, Selamanya seseorang berada dalam Kerugian

[Nafsiyah] Andai tidak Mengenali Allah SWT, Selamanya seseorang berada dalam Kerugian

 

Setiap muslim yang tidak mengenal Allah SWT tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya. Mereka akan melanggar hak-hak orang lain dan menzalimi diri mereka sendiri. Mereka juga akan menyebarkan kerosakan di muka bumi tanpa sedikit pun rasa bersalah apatah lagi merasa malu.

 

Sangat menyedihkan lagi bagi setiap insan yang tidak mengenal Tuhan, hidupnya bukan hanya kerugian di dunia, malah juga di akhirat. Berbeza dengan kehidupan seorang muslim yang mengenal Tuhannya. Mereka akan senantiasa terpelihara dari pelanggaran syariat hingga boleh menjauhi kemaksiatan.

 

Siapakah yang dikatakan mengenal Allah SWT?

 

Pertama, seseorang yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Firman Allah SWT, “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah orang-orang yang berilmu sahaja.” [TMQ Fathir(35): 28].

 

Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, “Cukuplah memiliki rasa takut kepada Allah SWT sebagai bukti keilmuan.” Kurangnya rasa takut kepada Allah SWT itu muncul akibat kurangnya ilmu yang dimiliki seorang hamba kepadaNya. Dengan demikian orang yang paling mengenal Allah SWT ialah orang yang paling takut kepadaNya di antara mereka.

 

Barang siapa yang mengenal Allah SWT, nescaya akan menebal rasa malu kepada Rabb, tuhan yang menciptakannya. Semakin dalam rasa takut kepada Allah SWT semakin kuat pula cinta kepadaNya [Thariq al Hijratain, adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir, 5/97].

 

Kedua, mereka yang mencurigai dirinya sendiri. Ulama tabiin Ibnu Abi Mulaikah mengatakan sabda Rasulullah SAW, “Aku telah bertemu dengan tiga puluhan orang sahabat Rasulullah SAW, sedangkan mereka semua merasa sangat takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.[HR Bukhari].

 

Ketiga, mereka yang senantiasa mengawasi keadaan hati mereka. Ulama mengatakan, “Hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tenteram dengannya, maka tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allah SWT. Tidak pula disibukkan dengan kerinduan untuk bertemu dengan Allah SWT. Begitu juga dengan lisan  mereka tidak akan digerakkannya untuk mengingati Allah SWT dan anggota badan pun tidak tunduk berkhidmat kepadaNya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan terhadap makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, maka tidak akan tersisa lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah SWT.” [Kitab al-Fawa’id, hlm.31—32].

 

Keempat, mereka senantiasa mengingati Akhirat. Allah SWT telah berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tidak sedikit pun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sialah yang telah mereka kerjakan. [TMQ Huud(11): 15—16].

 

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka). Bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gelita sehingga membuat seseorang pada pagi hari beriman, tetapi pada petang harinya menjadi kafir. Atau petang harinya beriman, tetapi pada pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata-mata .” [HR Muslim].

 

Kelima, mereka tidak terpedaya oleh harta. Imam Bukhari meriwayatkan, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi, kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.”

 

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas, nescaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat sesiapa pun yang mahu bertaubat. [HR Bukhari].

 

Keenam, mereka merasakan manisnya iman. Sabda Rasulullah SAW, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman…” Di antaranya, “Allah dan rasulNya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain kedua-duanya.” [HR Bukhari dan Muslim].

 

Rasulullah SAW juga bersabda, “Akan boleh merasakan lazatnya iman, orang-orang yang redha kepada Rabbnya, redha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad SAW sebagai rasulnya. [HR Muslim].

 

Terakhir, ketujuh ialah mereka adalah orang yang tulus ikhlas beribadah kepadaNya. “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kerana Allah dan RasulNya, nescaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya kerana perkara dunia, perempuan yang ingin dia nikahi, ertinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang mereka inginkan sahaja.” [HR Bukhari dan Muslim].

 

Ibnu Mubarak rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar kerana niatnya. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niatnya.” [Jami’ al-‘Ulum wal Hikam].

 

Ketujuh-tujuh perkara di atas merupakan tanda-tanda orang yang mengenal Allah SWT. Adakah perkara tersebut ada pada diri kita? Mungkin kita tidak begitu mengenal Rabb kita sehingga tidak ada rasa malu jika melakukan kemaksiatan? Atau juga hati kita tidak bergetar setiap kali mendengar kalamnya dibacakan?

 

Jangan sampai kita tidak mengenali Allah SWT kerana kita akan menjadi orang yang rugi selamanya. Kenalilah Allah SWT dengan mempergiatkan mempelajari, menelaah, dan mengkaji seluruh syariatNya. Kemudian menerapkannya dalam kehidupan. Jika benar kita telah mengenali Allah SWT, kita akan tetap istiqamah di jalanNya, berjuang, dan berkorban untuk meninggikan agamaNya di dunia. Wallahu musta’an.

 

Sumber: muslimahnewsID

Exit mobile version