Site icon MuslimahHTM News

[Hadis Ramadhan] Puasa yang Sia-sia

[Hadis Ramadhan 16] Puasa yang Sia-sia

 

Dalam sebuah hadis disebutkan,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Rafi’, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak, dari Usamah bin Zaid, dari Sa’id Al Maqburi, dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang solat malam tidak mendapatkan selain berjaga malam”. (HR. Ibnu Majah no. 1680).

 

Jika ada seorang pedagang yang bermodal besar namun dagangannya tidak laku, apa nak dibuat? Atau jika ada seorang pegawai yang telah bekerja sebulan penuh dan berharap menerima gaji, namun sang pemilik perusahaan mengatakan: “Untukmu tidak ada gaji bulan ini kerana kamu telah melanggar peraturan yang telah ditetapkan!” Apa yang boleh kita katakan kepada pedagang dan pegawai tersebut selain “kasihan”?

 

Pahala dan dosa memang tidak pernah terlihat oleh mata kita. Allah menetapkan demikian bertujuan untuk menguji para hamba-Nya. Andaikan pahala kelihatan dan terus diberikan saat itu juga, tentu masjid selalu penuh sesak oleh jamaah, manusia berlumba-lumba untuk bersedekah, dan kejujuran merajalela.

 

Begitu juga jika dosa dapat dilihat oleh mata dan dibayar saat itu juga, tentunya korupsi, pencurian, celaan, caci maki, kezaliman akan hilang. Mungkin sebab tidak terlihat itulah maka manusia menjadi terlena dan tidak terkesan apa-apa ketika berbuat dosa, apalagi di saat berpuasa Ramadhan.

 

Hadis di atas adalah “peringatan” untuk kita agar pahala puasa yang begitu besar batal, tidak dspat diraih kerana tidak dapat menahan sabar.

 

Bukan hanya menahan makan dan minum saja, puasa yang bernilai pahala juga mestilah menahan emosi dan perilaku yang tidak baik. Puasa tapi marah-marah, puasa tapi main judi, puasa tapi melihat gambar atau filem kotor, puasa tapi mencela orang, puasa tapi ghibah, puasa tapi bertengkar, puasa tapi berlaku zalim pada rakyatnya, dan tapi-tapi lainnya.

 

Puasa tak bernilai inilah yang tidak mampu membentuk pelakunya menjadi muttaqin. Jika puasa semacam ini terus menjadi model setiap tahunnya, seolah-olah puasa Ramadhan sekadar tradisi tahunan yang dikerjakan secara ikut-ikutan.

 

Semoga kita mampu berpuasa yang benar dan bernilai, aamiin. Wallahu A’lam. (Sumber: Pusat Kajian Hadis)

 

🔴 Pusat Pendidikan Hadits Ma’had Khadimus Sunnah Bandung

Exit mobile version