[Fikrul Islam] Komunikasi Politik (Bahagian 3/3)
Penulis: M. R. Kurnia, dkk.
ASPEK PENERIMA PESANAN (PENDENGAR)
Tidak jarang, komunikasi berlangsung tidak efektif sekalipun penyampai (penyampai) sudah berusaha sangat luar biasa. Persoalannya mungkin terletak pada penerima pesanannya. Pada aspek ini, poin kritis yang perlu diberikan perhatian adalah berkaitan dengan skill atau keahlian standard yang diperlukan agar penerima pesanan dapat menerima pesan atau mesej sebagaimana yang seharusnya, yakni dapat melakukan LISTEN. Dari sisi ini, agar dapat mewujudkan komunikasi yang efektif dan efisyen, perlu diketahui bahawa sejumlah unsur penting yang ada dalam formula LISTEN mesti dipenuhi, yakni:
- Look interested.
Menampakkan ketertarikan. Untuk mendapatkan pesan atau mesej sebagaimana yang disampaikan tanpa ada gangguan berat sebelah sedikit pun, seorang penerima pesanan pertamanya perlu menampakkan ketertarikannya kepada isi pesan yang disampaikan. Perkara penting atau tidak, itu nombor dua. Kerana bagaimana seseorang dapat menilai pesan tersebut sebagai perkara yang penting atau tidak bila isi pesannya saja belum diketahui secara lengkap.
- Inquire with Question.
Tahu dengan bertanya. Kadang penyampai tidak menyampaikan pesan secara lengkap sehingga penerima pesanan menjadi keliru atau kadang kala pula penyampai terkesan menyembunyikan pesanan yang sebenar. Bila ini yang terjadi, penerima pesanan dapat mengajukan pertanyaan yang dengannya ia akan menjadi segera tahu bahagian pesan yang belum tersampaikan, atau segera memahami hakikat pesanan yang sebenarnya.
- Stay on Track.
Tetap pada pokok pembicaraan (isu utamanya). Adakalanya, disebabkan terlalu teruja, penyampai dan penerima pesanan boleh saja lupa diri. Pesan yang semestinya disampaikan menjadi tidak jelas kerana pembahasan merambah ke mana-mana. Bila sudah demikian, maka penerima pesanan akan mengalami kesukaran untuk menentukan mana pesan yang sebenar dan mana merupakan kemasan pesanan. Untuk itu penyampai perlu mengingatkan dirinya dan juga penerima pesanannya agar tetap pada pokok pembicaraan semula, atau setidaknya selesaikan dulu pesan yang ingin disampaikan, lalu dilanjutkan dengan pesanan berikutnya.
- Test Understanding.
Uji pemahaman. Jika penerima pesanan telah merasa mendapatkan pesan yang dimaksudkan, maka jangan cepat puas dulu. Ujilah pemahaman tersebut, apakah sama dengan yang dimaksudkan sang penyampai. Caranya adalah dengan mengujinya secara langsung di hadapan sang penyampai. Penerima pesanan dapat menyampai-ulangkan pesan yang dimaksud untuk mendapatkan proofing dari penyampai. Apabila penyampai membenarkannya, maka benarlah pemahaman penerima pesanan terhadap pesan yang disampaikannya. Demikian pula sebaliknya.
- Evaluate the Message.
Evaluasi pesanan yang disampaikan. Hal ini menegaskan pentingnya seorang penerima pesanan untuk memantapkan diri dengan pesan yang diterimanya. Jangan sampai penerima pesanan bersikap setengah-setengah dengan pesan yang diberikannya. Itulah sebabnya, sekalipun telah diuji pemahaman penerima pesanan terhadap pesan yang dimaksud, bila diperlukan, penerima pesanan mengevaluasi pesan tersebut. Tambahan pula, penilaian mesej boleh dilaksanakan terutamanya untuk menentu-ukur dan mengesahkan mesej, sama ada mesej itu fakta atau pendapat (opinion). Jika fakta, seberapa jauh kebenarannya. Jika pendapat, seberapa penting pengaruhnya bagi dakwah.
- Neutralise Your Own Feeling.
Seimbangkan perasaan diri. Sebagai langkah terakhir, usaha penyeimbangan perasaan diri lebih ditujukan untuk menjaga perasaan kita sebagai peribadi yang selalu tunduk pada standard dan koridor syariat Islam. Bagaimana menyikapi pesanan dan bagaimana pula tindakan susulannya. Semuanya sangat bergantung pada bagaimana relevansi pesanan dengan standard dan koridor syariat Islam.
Sumber: M. R. Kurnia dkk., Menjadi Pemikir dan Politisi Islam.

