[Nafsiyah] Penyesalan
Penyesalan sering hadir dalam teras kehidupan manusia. Apabila telah memutuskan sesuatu perkara dan kemudian memilih untuk menjalaninya, tetapi apabila telah menjalaninya, timbul perasaan penyesalan yang berakhir dengan kesedihan. Contohnya, menyesali masa lalu yang jauh dari aturanNya, menyesali masa yang terbuang, menyesali kebodohannya sekarang.
Terdapat juga banyak contoh penyesalan yang lain. Menyesal kerana tidak berbakti kepada kedua ibu bapa semasa mereka masih hidup. Menyesal kerana tidak mendidik anak sepenuh hati mengikut tuntunan Islam. Menyesal tidak belajar ilmu agama hingga susah untuk menjalani kehidupan. Menyesal tidak optimal dalam menunaikan amanah dakwah.
Sungguh, penyesalan di dunia memerlukan tenaga yang banyak, lebih-lebih lagi penyesalan di akhirat akan menderita selamanya. Seorang mukmin pastinya tidak mahu menyesal di akhirat, kerana sebaik-baik nikmat adalah di akhirat dan seburuk-buruk azab di akhirat. Oleh itu, seorang mukmin akan berfikir dengan cemerlang dalam menjalani kehidupannya sehingga jauh dari penyesalan.
Penyesalan di akhirat jauh lebih besar daripada penyesalan di dunia. Allah SWT berfirman, “Dan berilah mereka peringatan tentang Yaumul Hasrah, (iaitu) apabila segala urusan telah diputuskan. Dan mereka lalai, mereka tidak (pula) beriman.“ [TMQ Maryam (19): 39].
Kemudian Allah SWT mengingatkan manusia lagi, “(Ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit kedua tangannya dan berkata, ‘Alangkah baiknya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul.” [TMQ al-Furqan(25): 27].
Orang-orang yang melakukan kezaliman dengan kesyirikan, kekufuran, dan kedustaan mereka kepada Rasul akan sangat menyesal, berduka, dan bersedih dengan apa yang mereka lakukan semasa di dunia. [Taisir Al-Karimi Ar-Rahman, hlm. 58].
Hendaknya jika seorang muslim mengalami penyesalan, disertai dengan taubat semasa masih hidup di dunia. Tidak akan mengulangi kesilapan yang sama berulang kali. Namun, apabila penyesalan datang selepas kematian, ia tidak akan mengubah apa-apa selain mendapat azab-Nya.
Firman Allah SWT, “Sekali-kali tidak! Apabila bumi digoncangkan berturut-turut (berbenturan), dan Tuhanmu datang, dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” [TMQ al Fajr (89): 21—24].
Penyesalan pada masa itu hanya tinggallah penyesalan. Allah SWT tidak akan mengembalikannya ke dunia lagi. Allah SWT telah memberi masa yang panjang dan banyak peluang. Amaran berulang kali diseru, tetapi orang yang melakukan maksiat tidak mahu mendengar dan mengikut seruanNya.
Penyesalan tidak berarti apa pun, hanya mampu menerima kepedihan atas azabNya. Di dunia merasa hebat dengan berani menyuarakan berbagai pemikiran kufur daripada mendakwahkan syariatNya. Menuduh dengan keji para pejuang Islam hingga menyebabkan para pejuangNya teraniaya, bahkan sampai masuk ke dalam penjara. Mencampakkan aturan Allah SWT dan diganti dengan aturan buatan sendiri. Astaghfirullah.
Saudariku, ketahuilah bahwa hidup di dunia ini ibarat masa menanam dan hidup di akhirat adalah masa menuai. Jika tidak optimum untuk menanam kebaikan, bagaimana mungkin untuk menuai kebahagiaan?
Kita diingatkan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya, “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau pengembara.” Lalu Ibnu Umar RA berkata, “Jika engkau berada pada waktu petang, maka jangan menunggu hingga pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi, maka jangan menunggu hingga petang. Manfaatkan masa sihatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” [HR Bukhari].
Manusia akan diingatkan oleh Allah SWT dengan amalannya selama di dunia. Saat itulah semua manusia akan menyesal. Para pendosa akan menyesali maksiat yang telah mereka lakukan. Orang yang taat akan menyesal karena kurangnya ketaatan selama di dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 389). Belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar, jalan yang disukai Allah SWT. Allah pun belum menutup pintu taubat. Bertekadlah untuk memperbaiki semua yang telah lalu agar tidak menjadi penyesalan besar di akhirat kelak. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita agar tetap berada di jalan yang lurus, jalan Islam yang Dia redhai. Amin. Wallahu musta’an.

