Site icon MuslimahHTM News

Mengasuh Anak Perspektif Islam

Mengasuh Anak Perspektif Islam

 

Akidah Islam menjelaskan bahawa hidup ini tidak tersangkut di dunia setelah mati. Berbeza dengan fahaman materialisme Karl Marx, bahawa hidup ini hanya di dunia. Tidak ada kehidupan setelah kematian. Tentu saja itu adalah sudut pandang yang keliru.

 

Sungguh tidak adil bila hidup ini hanya di dunia tanpa ada balasan bagi berbagai amal di dunia. Banyak kebaikan di dunia yang tidak mendapatkan reward yang layak. Sebhagian kebaikan malah dibalas air tuba. Berapa banyak orang soleh yang tidak mendapatkan tanda jasa di dunia, malah dipinggirkan masyarakat. Di sinilah Maha Adil dan Maha Pembalas Allah berbicara. Allah tidak akan melupakan kebaikan dan kejahatan hamba-hambaNya.

 

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (TMQ al-Zalzalah [99]: 7-8).

 

Dalam pengasuhan anak, bila sudut pandangnya adalah material dan kesenangan, maka punya anak boleh jadi merugikan. Tidak ada jaminan anak yang diasuh dan dibesarkan akan membalas kebaikan ayah bondanya ketika mereka dewasa. Boleh jadi mereka sebaliknya lebih awal meninggal dunia berbanding orang tuanya. Atau, boleh juga mereka berlagak bak Malin Kundang yang mencampakkan ibunya saat dia sudah kaya raya.

 

Bukankah itu kerap terjadi pada masa sekarang ini? Malah ada juga orang tua yang dibunuh anak kandung yang sudah susah payah dibesarkannya.

 

Tapi bila sudut pandangnya adalah keimanan, maka tak ada secuil pun perasaan rugi dalam hati orang tua muslim ketika mencurahkan segenap fikiran dan tenaga demi mengasuh anaknya.

 

Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda;

“Menakjubkan perkara orang-orang yang beriman, seluruh urusannya adalah baik dan tidak ada hal itu pada yang lain kecuali pada mereka yang beriman. Jika ia mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan musibah ia bersabar, itu pun baik baginya.”(HR.Muslim).

 

– Ustaz Iwan Januar (Alhamdulillah, Aku Menjadi Ayah)

Exit mobile version