Juwairiyah binti Harits, Sang Pembebas Keluarga dan Kaumnya
Oleh: Marni Rosmiati
Juwairiyah binti Harits adalah salah satu isteri Rasulullah yang patut kita teladani. Beliau dikenal sebagai sosok yang pemberani dan setia kepada kaumnya. Keberanian dan kesetiaannya inilah yang membawanya meraih pahala jariah dengan meng-Islamkan seluruh kaumnya.
Juwairiyah lahir sebagai keturunan bangsawan, kerana beliau adalah puteri dari Al-Harits, pemimpin Bani Musthaliq. Maka Juwiriyah termasuk sosok yang didengar dan dihormati oleh kaumnya iaitu Bani Musthaliq. Nama aslinya adalah Burrah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin Al-Habib Al-Khuza’iyah Al-Mushthaliqiyyah. Sebelum menjadi isteri Rasulullah, dia pernah menikah dengan Musafi’ bin Shafwan. Rasulullah menggantikan nama Burrah menjadi Juwairiyah, kerana khuatir dia dikatakan keluar dari biji gandum.
Secara zahir dan batin, Juwairiyah pun dikenal memiliki paras yang cantik, anggun, baik hati, kuat, dan berilmu. Bahkan Aisyah ra. Pernah menggambarkan sosok Juwairiyah dengan mengatakan, “Dia wanita yang menyenangkan. Tidak ada yang melihatnya kecuali akan terpikat olehnya.”
Puteri Bangsawan Menjadi Hamba Tawanan
Kisah Islamnya Juwairiyah tak lepas dari permusuhan Bani Musthaliq kepada Islam. Harits bin Abi Dhirar yang menyembah berhala hendak menghalangi dakwah Rasulullah SAW di Madinah. Mendengar Bani Musthaliq sedia mengangkat senjata, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk sedia berjihad. Rasulullah menjadi panglima dalam perang melawan Bani Musthaliq ini, atau yang lebih dikenal dengan perang Muraisi. Beliau menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari sebagai wali sementara di Madinah.
Perang Muraisi dimenangkan oleh kaum muslimin. Pada perang tersebut korban mahupun tawanan dari Bani Musthaliq yang diperoleh Rasulullah banyak sekali. Di antara tawanan wanita ketika itu adalah Juwairiyah binti Harits.
Semua tawanan dibahagi secara merata di antara kaum muslimin. Juwairiyah sendiri masuk ke dalam jatah Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas atau anak bapa saudaranya. Pada saat itu Juwairiyah berumur 20 tahun. Juwiriyah seorang yang cantik, muda, dan puteri bangsawan tentulah tidak mudah bagi dirinya berada pada kedudukan hamba. Dengan kegigihannya Juwairiyah berusaha menebus dirinya dengan pembayaran secara kredit kepada Tsabit bin Qais.
Pada suatu waktu, dia datang kepada Rasulullah SAW dengan tujuan meminta beliau membantu penebusan dirinya. Kedatangan Juwairiyah bertemu Rasulullah sempat membuat Aisyah RA merasa cemburu melihat kecantikan yang menawan yang terpancar dari sosok Juwairiyah. Aisyah berkata, “Aku tahu bahawa Rasulullah SAW akan melihat kecantikannya seperti yang telah aku lihat.”
Juwairiyah pun akhirnya bertemu dengan Rasulullah SAW kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, aku Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar dan ayahku adalah tokoh penting kaumnya. Aku mendapat musibah seperti yang engkau ketahui dan masuk ke dalam jatah Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas atau anak bapa saudaranya, kemudian aku menebus diriku dengan pembayaran kredit. Sekarang aku datang kepadamu demi memintamu membantu pembayaran kredit pembebasanku.”
Mendengar itu, menjadi sedihlah hati Nabi melihat keadaan seorang wanita yang dulunya seorang bangsawan yang terhormat dan merdeka, sekarang menjadi seorang hamba. Nabi pun kemudian bertanya kepada Juwairiyah, “Mahukah engkau mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu?” Maka Juwairiyah menjawab dengan sopan, “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku lunasi kredit pembebasan dirimu kemudian menikahimu.”
Maka tersiratlah rona kebahagiaan pada wajah cantik Juwairiyah, yang pada awalnya dia hampir-hampir tidak peduli atau menganggap remeh perihal kemerdekaan dirinya. Juwairiyah menjawab, “Mahu, wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Itu akan aku lakukan.”
Pernikahan yang Penuh Keberkahan
Pernikahan politik yang penuh keberkahan antara Juwairiyah dan Rasulullah SAW pun berlangsung. Pernikahan ini tidak akan terjadi jika tanpa keredhaan dan kebaikan Rasulullah SAW kepada Bani Mushthaliq khususnya kepada puteri pemimpin mereka iaitu Juwairiyah.
Aisyah Ummul Mukminin berkata, “Informasi pun menyebar ke tengah-tengah manusia bahawa Rasulullah SAW menikahi Juwairiyah binti Al-Harits.” Mereka berkata, “Dia menjadi keluarga Rasulullah.”
Mereka yang mendengar khabar ini pun turut berbahagia dengan mengirimkan apa yang mereka miliki sebagai hadiah pernikahan kepada Rasulullah SAW.
Bentuk hadiah para sahabat atas pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah adalah termasuk membebaskan tawanan-tawanan perang Bani Mushthaliq yang mereka bawa. Maka sungguh dengan pernikahan ini menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga Bani Musthaliq. Aisyah berkata, “Aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih terhormat dan lebih berkah di kalangan kaumnya daripada Juwairiyah binti Al-Harits.”
Ibnu Hajar menyebutkan di dalam Al-Ishabah tentang kuatnya keimanan Juwairiyah RA, beliau berkata bahawa ayah Juwairiyah mendatangi Rasul dan berkata, “Sesungguhnya anakku tidak berhak ditawan, kerana terlalu mulia dari hal itu.” Maka Nabi bersabda, “Bagaimana pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih di antara kita, apakah anda setuju?“
“Baiklah,” jawabnya. Kemudian ayahnya menemui Juwairiyah dan menyuruhnya untuk memilih antara dirinya dengan Rasulullah SAW. Maka Juwairiyah menjawab, “Aku memilih Allah dan Rasul-Nya.” Ibnu Hisyam meriwayatkan bahawa akhirnya Al-Harits, ayah Juwairiyah masuk Islam bersama kedua puteranya dan beberapa orang dari kaumnya.
Ummul Mukminin Juwairiyah wafat pada tahun 50 Hijriah. Ada pula yang mengatakan tahun 56 Hijriah.
Amal Jariah Dakwah yang Inspiratif
Amal jariah Ummul Mukminin Juwairiyah terus mengalir laksana mata air yang tak ada habisnya. Kerana pernikahannya dengan Rasulullah SAW membawa berkah dan kebaikan yang menyebabkan keluarganya, kaumnya, dan orang-orang yang dicintainya terbebas dari kejahiliahan dan kesyirikan penyembahan selain kepada Allah, menuju cahaya Islam beserta kewibaannya.
Semoga dakwah Islam yang dilakukan Ummul Mukminin Juwairiyah dapat menjadi teladan bagi kita semua. Jangan melupakan ataupun meremehkan dakwah kepada keluarga dan orang-orang terdekat yang mencintai kita. Bahkan dakwah boleh dimulai dari mereka sebelum merangkul masyarakat yang lebih luas. Kesetiaan dan kesungguhan kita dalam menyampaikan dakwah di tengah keluarga dan masyarakat, dengan pertolongan Allah akan berbuah manis. Insyaallah. Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber:
- Sirah Ibnu Hisyam jilid 2, karya Ibnu Hisyam
- Mereka adalah Para Shahabiyat, karya Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashir Asy Syalabi

