Site icon MuslimahHTM News

Ma’al Hadis asy-Syarif: Kepemilikan dengan Ihyaul Mawat

[Syarah Hadis] Ma’al Hadis asy-Syarif: Kepemilikan dengan Ihyaul Mawat

 

Dari Umar RA bahawa Nabi SAW bersabda,

« مَنْ أَحْيَا أَرْضاً مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ »

“Barang siapa menghidupkan tanah yang mati, maka tanah itu (menjadi) miliknya.” [HR Bukhari].

 

Nabi SAW bersabda,

“Barang siapa membataskan (memagar) tanah yang mati, maka tanah itu (menjadi) miliknya.” [HR Ahmad].

 

Nabi SAW juga bersabda,

« مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ لَهُ »

“Barang siapa terlebih dahulu (mengelola atau mengerjakan tanah yang mati) yang belum dimiliki (didahului) oleh seorang muslim, maka tanah itu (menjadi) miliknya.” [HR Thabrani dalam Al-Kabīr].

 

Allah SWT telah menentukan cara memperoleh harta dan juga telah mengatur dengan pelbagai ketentuan hukum mengenai kepemilikan harta kekayaan, seperti ketentuan hukum mengenai berburu, ihyāul mawāt  (menghidupkan tanah yang mati), ketentuan hukum sewa, dan istishnā’ (industri), serta ketentuan hukum mengenai perwarisan, hibah, dan wasiat.

 

Dalam kitab Al-Nizhām al-Iqtishādī (Sistem Ekonomi) karya ulama terkemuka Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, semoga Allah merahmatinya, dalam bab “Ihyā’ al-Mawāt” disebutkan sebagai berikut:

 

“Tanah mati adalah tanah yang tidak ada pemiliknya dan tidak dimanfaatkan oleh satu orang pun. Sedangkan yang dimaksudkan dengan menghidupkannya adalah mengolahnya dengan cara menanam, baik dengan tanaman mahupun pokok-pokok, atau dengan mendirikan bangunan di atasnya. Dengan kata lain, menghidupkan tanah mati adalah memanfaatkan tanah untuk keperluan apa pun, yang boleh menghidupkannya. Dengan adanya usaha seseorang untuk menghidupkan tanah, bererti usaha seseorang itu tadi telah menjadikan tanah tersebut menjadi miliknya.”

 

Dalam hal ini tiada bezanya antara seorang muslim dengan orang kafir zimmi (kafir yang telah menjadi warga negara dengan tunduk kepada pemerintahan Islam), kerana hadis-hadis tersebut bersifat mutlak.

 

Ketentuan ini berlaku umum, mencakupi semua tanah, baik tanah itu (berada di wilayah) darul Islam ataupun darul kufur, baik tanah tersebut berstatus usyriyah ataupun kharajiyah. Hanya sahaja, agar menjadi hak miliknya, tanah tersebut disyaratkan mesti dikelola selama tiga tahun semenjak tanah itu dibuka dan terus-menerus dihidupkan dengan memperhebatkannya.

 

Apabila tanah tersebut belum pernah dikelola selama tiga tahun, sejak tanah tersebut dibuka, atau setelah dibuka, kemudian dibiarkan selama tiga tahun berturut-turut, maka hak kepemilikan orang yang bersangkutan atas tanah tersebut akan hilang. Umar bin Khattab RA berkata, “Dan bagi orang yang melakukan tahjir (memasang batas atau pagar pada sebidang tanah) tidak mempunyai hak lagi atas tanahnya setelah tiga tahun (tanah itu dibiarkan).”

 

Disebutkan dalam Sunan al-Baihaqi dari Amr bin Syu’aib bahawa Umar menjadikan tahjir (memasang pagar pada sebidang tanah) berlaku selama tiga tahun. Jika dia membiarkan (menelantarkan) tanah yang di-tahjir selama tiga tahun, lalu setelah berlalu tiga tahun ada orang lain yang menghidupkannya kembali, maka orang ini lebih berhak atas tanah tersebut.

 

Perkataan dan perbuatan Umar bin Khattab itu didengar oleh para sahabat dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya. Dengan demikian, terdapat ijmak sahabat bahawa hak milik orang yang melakukan tahjir (memasang pagar pada sebidang tanah) gugur jika dia membiarkan tanahnya selama tiga tahun.

 

Sesungguhnya saat ini kita benar-benar memerlukan untuk menerapkan hukum (syariat) Allah SWT dalam menghidupkan kembali kekayaan pertanian dan mengagihkan semua kekayaan di negara-negara muslim kepada mereka yang berhak mendapatkannya dengan terlebih dahulu mengambilnya dari para pemimpin zalim yang telah merampasnya dari mereka melalui cara kekerasan sehingga membuatkan mereka yang mampu menghidupkan (mengerjakan) tanah itu menjadi terhalang darinya.

 

Ingatlah bahawa ada manfaat besar dalam penerapan hukum mengenai ihyāul mawāt (menghidupkan tanah yang mati) ini dan hukum-hukum syariat lain sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari tanah tersebut, dan tidak dibiarkannya terbengkalai atau menjadi tempat berkembang biaknya para pemimpin zalim. Namun, hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya seorang khalifah yang memimpin dan mengatur urusan kaum muslimin dengan mengikuti manhaj kenabian.

 

Exit mobile version