INILAH KETETAPAN TERAKHIR KEHANCURKAN “NEGARA” ISRAEL [Bahagian 4]
@ KH Hafidz Abdurrahman
Al-Quran adalah Mukjizat agung yang luar biasa. Apa yang terjadi hari ini seolah-olah membuka mata kita, bahawa apa yang dinyatakan dalam al-Quran semuanya terbukti.
Pertama, Allah befirman, “Tsumma Radadna Lakum al-Karrata ‘Alaihim” (Kemudian Kami kembalikan kepadamu kekuasaan [negara] untuk menguasai mereka) [Q.s. 17: 6].
Hampir semua Mufassir mentafsirkan, “al-Karrata” dengan, “ad-Daulah wa al-Ghalabah” (negara dan kekuasaan). Ini didahului dengan kata, “Tsumma” (kemudian), yang berkonotasi jarak antara kehancuran pertama, dengan kembalinya negara ini panjang. Sejak mereka diusir dari Baitul Maqdis, 636 M sampai kembali lagi 1946 M, kurang lebih 1310 tahun.
Kedua, dalam ayat yang sama, Allah menyatakan, “Wa Amdadnakum bi amwalin wa banin” (Kami membantumu dengan harta dan anak). “Amwal” didahulukan berbanding “Banin” untuk menunjukkan, bahawa Bani Israel itu memang menguasai ekonomi. Dengan ekonomi mereka boleh membeli siapapun. Itulah makna, “Wa Ja’alnakum aktsara nafira” (Kami jadikan kamu kelompok yang paling besar). Mereka berjaya menarik dukungan dari berbagai bangsa dan umat, dengan wang mereka. Itu yang dapat kita lihat hari ini, bagaimana seluruh penguasa dunia hanya mampu mengutuk.
Bandingkan, ketika Rusia menyerang Ukraine (Kristian), Turki boleh mengirim pesawat tempur, dengan alasan untuk melindungi berjatuhannya korban dikalangan orang awam. Tapi, ketika Gaza dibom Israel, Erdogan tak sanggup mengirim pesawat tempurnya. Mengapa?
Ketiga, ketika Allah berfirman, “Faidza Ja’a Wa’du al-Akhirah” (Apabila janji yang terakhir itu tiba) di Q.s. 17: 7, redaksi yang sama, Allah ulang dalam Q.s. 17: 104, “Faidza Ja’a Wa’du al-Akhirah Ji’na bikum Lafifa” (Apabila janji yang terakhir itu tiba, maka kami datangkan kamu dari berbagai penjuru). Allah menggunakan kalimat, “Wa’du al-Akhirah” (janji yang terakhir), bukan “Wa’du at-Tsaniyah” (janji kedua), kerana setelah ini tidak ada kesempatan lagi bagi mereka. Ini adalah kesempatan terakhir. Mereka akan dihancurkan untuk selamanya. Hal ini terjadi setelah mereka mempunyai negara, dan berkumpul di tanah yang dijanjikan, datang dari berbagai penjuru dunia. Itulah makna, “Ji’na bikum Lafifa”

