Apa Agenda di sebalik Kunjungan Blinken ketika Gaza Memanas?
Oleh: Novita M. Noer (Koordinator Kajian Muslimah Timur Jauh)
Di tengah memanas dan kian meningkatnya serangan Zionis di Semenanjung Gaza setelah Operasi Badai Al-Aqsa 7 Oktober, sebagai serangan paling mematikan dalam sejarah pendudukan Zionis di wilayah tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Syarikat (AS) Antony Blinken terbang ulang-alik ke Timur Tengah dalam waktu kurang sebulan dari kunjungan pertamanya di pertengahan Oktober lalu. Diplomat utama AS tersebut kembali melakukan maraton diplomatik di Tel Aviv, Amman, dan Jordan, serta Ramallah, Baghdad, dan Irak, serta terakhir Ankara sebelum bertolak ke Jepun bertemu dengan rakan-rakannya di G7, Korea Selatan, hingga menutup maraton diplomatiknya di India.
Apa maksud di sebalik kunjungan Blinken ke Timur Tengah?
Misi Blinken sangat jelas. Tujuan pertamanya adalah agar perang diatasi di Semenanjung Gaza. Perang tidak boleh menyebar keluar dari Gaza. Washington ingin mencegah perang regional yang lebih luas dengan meningkatkan diplomasi dengan negara-negara di kawasan yang rakyatnya marah atas serangan membabi-buta Zionis di Semenanjung Gaza.
Blinken perlu memandu dasar Zionis Yahudi sambil memanfaatkan sekutu-sekutu Arabnya dalam usaha memastikan perang tidak menyebar. Ini bermakna, perang tidak boleh berpindah ke wilayah lain, seperti ke Lebanon, Syria, Mesir, serta ke Iran atau ke negara-negara Arab manapun. Perang perlu dihadkan hanya di Semenanjung Gaza.
Betapapun buruknya akibat yang ditimbulkan. Berapa banyak pertumpahan darah atau berapa banyak nyawa yang hilang, jika itu terjadi di Semenanjung Gaza, maka bagi Amerika hal itu diperbolehkan. Namun, di luar Semenanjung Gaza, hal itu dilarang. Perang tidak boleh keluar dari batas-batas tersebut. Amerikalah yang mendefinisikan dan memiliki kekuasaan untuk menentukan batas-batas perang ini.
Inilah sebabnya AS mengirimkan dua kapal induk bertenaga nuklear dan yang terbesar di dunia, kapal perosak, kapal penjelajah, dan pesawat tempur ke wilayah tersebut. Hanya Amerika Syarikat satu-satunya negara yang menguasai Semenanjung Gaza, tanpa negara lain di dunia. Tidak ada kekuatan regional, lokal, atau internasional yang berani menentang kebijakannya. Blinken juga berusaha memulakan diskusi tentang bagaimana pemerintahan Gaza dapat diselenggarakan setelah kehancuran total Hamas yang menurut Zionis adalah tujuannya.
Benarkah Blinken ingin menyelamatkan nyawa rakyat Palestin sebagaimana yang dia katakan?
Amerika Syarikat percaya bahawa usaha penyelesaiannya perlu mencakup tidak adanya pilihan perpindahan secara paksa atau evakuasi warga Palestin dari Gaza, tindakan tersebut tidak diperbolehkan, juga tidak diterima, tidak untuk saat ini atau tidak juga setelah perang.
Jadi, Amerika telah memasang garis merah bagi Zionis kerana pihak Zionis yang bersikap keras agar rakyat Gaza digiring ke Sinai. Blinken dengan tegas memutuskan bahawa tidak ada ruang untuk perselisihan dalam hal ini dan tidak ada kemungkinan melakukan evakuasi.
Rakyat Gaza akan tetap tinggal di Gaza. Entah mereka dibunuh atau tidak, mereka tidak diizinkan meninggalkan Gaza. Kerana Amerika tetap menginginkan pembentukan negara Palestin.
Kerana itu, bagaimana Blinken dengan diktator militer Mesir Abdel Fateh el-Sisi, yang disubsidi dan dilindungi oleh AS secara diplomatik, telah bernegosiasi dengan Mesir bahawa orang asing boleh meninggalkan Semenanjung Gaza melalui sempadan #Rafah sementara penduduk Palestin mestilah tetap tinggal di tanah mereka dan mendorong negara-negara lainnya menyalurkan bantuan. Sisi juga mengusulkan diadakannya pertemuan kemuncak negara-negara di kawasan tersebut untuk membahas perang Hamas-Zionis.
Dalam diplomasinya, Amerika Syarikat ingin #Mesir menampung para pelarian dalam jumlah besar, namun Mesir bimbang terkait kestabilan ekonomi dan keamanan Mesir sendiri yang berada di garis merah. Keringanan hutang bagi Mesir menjadi harga yang perlu dibayar oleh Blinken.
Bagaimana strategi yang dimainkan Amerika sesungguhnya di kawasan? Dimana pula peranan rejim-rejim Arab dalam menghentikan genosid ini, bahkan hanya untuk memainkan peranan kemanusiaan, peranan yang paling sederhana sekalipun?
Agenda ketiga AS yang dibawa Blinken adalah: tidak diperbolehkan Zionis menduduki Semenanjung Gaza. Semenanjung Gaza akan tetap menjadi milik Pihak Berkuasa Palestin. Blinken menekankan bahawa, Pihak Berkuasa Palestin perlu memerintah Gaza setelah Zionis mengakhiri perangnya melawan Hamas. Amerika menolak gagasan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahawa Zionis akan bertanggungjawab atas keamanan yang berpanjangan.
Ertinya, tidak ada pendudukan kembali di Gaza setelah perang berakhir. Tidak ada usaha untuk memblok atau mengepung Gaza, dan tidak ada pengurangan wilayah Gaza oleh Zionis.
Oleh sebab itu, apa yang dikatakan Raja Jordan Abdullah setelah kunjungan Blinken usai, menolak rencana apa pun yang dilakukan Zionis Yahudi untuk menduduki sebahagian wilayah Gaza atau mewujudkan zon keamanan di wilayah tersebut, sejalan dengan visi Amerika, bukan untuk membela rakyat Gaza.
Saat ini, Amerika Syarikat, dalam jangka waktu yang lama, mungkin belum melihat perlunya penyelesaian masalah Palestin. Walaupun solusi dua negara merupakan kebijakan Amerika sejak tahun 1948, namun Amerika tidak terburu-buru untuk menerapkannya dan memaksa Zionis untuk menerimanya.
Ada masalah yang lebih besar bagi Amerika Syarikat saat ini, sedang terjadi tatanan dunia baru, dan terjadinya perpecahan internal di Amerika Syarikat. Dan apa yang dilakukan Netanyahu dan pemerintahan ekstrimis sayap kanannya benar-benar telah mengganggu kebijakan dan kepentingan nasional Amerika di Timur Tengah.
Agenda keempat Blinken adalah: masalah Hamas mesti diselesaikan secara realistik. Sehingga peluru berpandu Hamas tidak boleh dilancarkan dari Gaza ke Zionis. Dan untuk menyelesaikan masalah Palestin melalui visi dua negara.
Amerika tidak menjenayahkan gerakan Hamas sebagaimana zionis menjenayahkannya, menganggapnya sebagai gerakan teroris atau gerakan seperti ISIS atau semacamnya. Amerika hanya menyalahkan pelancaran peluru berpandu Hamas dan tidak berbicara tentang solusi Arab atau solusi Timur Tengah.
Amerika memastikan solusi Palestin adalah melalui kesatuan pemerintah/autoriti antara Semenanjung Gaza dan Tebing Barat. Tebing Barat dan Semenanjung Gaza memiliki masalah dan solusi politik yang sama.
Blinken mengatakan mungkin diperlukan “masa transisi” di akhir perang, namun pemerintahan pasca perang di Semenanjung Gaza hendaklah merangkumi hak memilih, memberi pandangan, dan aspirasi bagi rakyat Palestin. Sebagaimana yang dinyatakannya kepada Presiden Pihak Berkuasa Palestin Mahmoud Abbas di kota Ramallah di Tebing Barat ketika Blinken melakukan kunjungan keduanya.
Presiden Abbas yang merupakan penentang keras Hamas, menyepakati apa yang diinginkan Blinken, bahawa Semenanjung Gaza yang dikuasai Hamas sejak tahun 2007 merupakan bahagian integral dari apa yang mereka impikan untuk negara Palestin di masa depan dengan solusi politik komprehensif yang mencakup seluruh Tebing Barat, termasuk Jerusalem Timur, dan juga Semenanjung Gaza.
Ini menegaskan bahawa, Amerika tetap pada solusi dua negara dan menentang sistem selain sistem pemerintahan Demokrasi untuk mengatur negara Palestin pasca perang dan tetap menanamkan keberadaan Zionis yang merupakan benteng dan kapal induk bagi Amerika di Timur Tengah.
Agenda kelima Blinken adalah: menjaga kestabilan Abraham Accord yang sudah tiga tahun berjalan dan memuluskan rencana agar Saudi masuk dalam barisan negara Arab yang sudah menormalisasi hubungan dengan Zionis.
Selama pasukan Zionis tetap berada di Gaza, peluang untuk mendapatkan kembali momentum dalam usaha #normalisasi Zionis-Saudi yang ditengahi oleh Amerika akan terganggu. Namun, Amerika melihat perang yang berkecamuk di Gaza sebagai sebuah peluang untuk menata ulang peta politik Timur Tengah.
Sebahagian besar negara Arab dan negara Muslim telah menormalisasi hubungan dengan Zionis. Bagi Zionis yang berasal dari sayap kanan mengatakan, mengapa mereka perlu menerima solusi dua negara jika mereka mendapatkan akses ke seluruh dunia Arab? Ketika Perjanjian Abraham (Abraham Accords) ditandatangani pada September 2020 di atas keinginan Amerika Syarikat di bawah kepemimpinan Donal Trump, sebagai usaha menghidupkan hegemoninya yang menurun, dengan merundingkan perjanjian baru dengan Zionis-Arab dan peningkatan dengan sekutu Arabnya.
Sekutu-sekutu ini (Emiriah Arab Bersatu, Bahrain, dan Marocco) menjalankan normalisasi dengan Zionis untuk mendapatkan perjanjian perdagangan baru, bantuan ketenteraan, dan keuntungan lainnya. Sedangkan bagi Zionis, tujuannya adalah untuk memperkuat kedudukan internasionalnya melalui perjanjian yang dicapai dengan rejim-rejim Arab yang memiliki tujuan yang sama.
Jadi, penolakan Saudi (untuk normalisasi) ini sesungguhnya adalah kebijakan AS. Amerika ingin mendorong Zionis melakukan usaha penyelesaian masalah dengan Palestin. Maksudnya, jika Netanyahu menginginkan normalisasi dengan Saudi maka perlulaj menyelesaikan masalah Palestin.
Kebimbangan mengenai serangan Iran tidak cukup untuk menjelaskan normalisasi Zionis-Arab, kerana pemulihan hubungan baru-baru ini antara Riyadh dan Tehran tidak mengurangkan momentum normalisasi. Sekalipun Arab Saudi lebih berhati-hati kerana posisi simboliknya sebagai pelindung Masjid Suci Mekah dan Madinah, Arab Saudi sedang bernegosiasi dengan Presiden Joe Biden untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dengan mencapai perdamaian terpisah dengan Zionis. Di sisi lain, realisme politik mendorong beberapa negara Arab membentuk aliansi strategik dengan Zionis untuk meningkatkan posisi ekonomi atau politiknya.

