[Ath-Thariq] Kita dan Perubahan (Bahagian 5/5)
Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Sekarang ini kita berada dalam neraka pemerintahan negara-negara boneka. “Setiap orang itu tertuduh,” dan “Secara asal orang yang bebas itu seorang pelaku kejahatan, hingga terbukti kebebasannya (dia tidak bersalah). Sehingga dia dibukti tidak bersalah, tongkat, cemeti, pengapnya sel tahanan dan pakaian penjara telah mengenyangkan daging dan darahnya, serta tahun demi tahun kehidupannya berlalu di sana, hingga tidak bersisa umur yang layak dijalaninya kerana masa telah hilang darinya. Jika melihat sebuah penjara di negara-negara kecil ini, kelihatan begitu jelas ratusan bahkan ribuan contoh ketidakadilan, kezaliman, dan pelanggaran hukum.
Secara praktiknya, mahkamah tidak dianggap sebagai badan yang menetapkan hukum atas manusia jika mereka melanggar atau menyimpang dari jalan yang lurus—dari sudut pandang negara boneka ini—tetapi sekarang para hakim ini menerima hukum-hukum dalam bentuk yang telah dikemas sedemikian rupa.
Sekarang, setelah semua perkara itu menjadi jelas, dan setelah tidak ada alasan lagi bagi mereka yang mengemukakan alasan, tidak ada dalih lagi bagi siapa saja yang lalai, apa yang perlu dilakukan sehingga dapat mengembalikan pendengaran bagi mereka yang tuli, penglihatan bagi mereka yang buta, setelah semua ini berlaku, bukankah menjadi sebuah kemestian bagi kita untuk membuat perubahan atas semua kerosakan ini?
Wahai umat—dan khususnya para “pemuda”—bahawa realiti pekat yang mengongkongi kita terus melaju ke arah yang lebih buruk, jika kita tidak segera mencegah dan memperbaikinya sebelum berlalunya masa, nescaya kita semua akan menggigit jari penuh penyesalan dan kala itu sudah sangat terlambat untuk melarikan diri.
Pada hari ini, sesungguhnya kita secara keseluruhan merupakan salah satu dari dua golongan, pertama dan ini merupakan golongan majoriti, mereka yang tenggelam dalam kesengsaraan dan penderitaan hingga mencapai telinga mereka. Golongan kedua, dan ini golongan minoriti, masih berada di jalan pengantar mereka ke dalam kesengsaraan dan penderitaan tersebut. Adakah golongan pertama akan bergerak untuk menghilangkan bahaya dan mencabut akarnya sebelum akar-akar mereka turut tercabut? Atau adakah mereka akan terus membenam kepala ke dalam pasir sebagaimana yang dilakukan burung unta yang bodoh, yang mereka menyangka bahawa dengan perilaku bodoh itu dapat menyelamatkan mereka dari akibat buruk yang sedang menanti mereka?
Adakah golongan kedua akan bergerak sebelum mereka mengalami apa yang dialami orang-orang sebelumnya? Atau adakah mereka akan memandang realiti ini dan memahaminya sebagai orang cebol sultan yang konon sedang duduk di madraj (ruang pertemuan dengan tempat duduk bertingkat-tingkat), ketika api mengganyang golongan yang lebih rendah dari mereka “yakni yang duduk di tingkat paling bawah” dengan pandangan mata penuh kedunguan dan kebodohan, seolah-olah mereka menanti giliran mereka sendiri untuk dibakar, atau mereka akan menjadi seperti lembu jantan merah yang berkata, “Aku dimakan pada hari lembu jantan hitam dimakan dan sebelumnya lembu jantan putih.”
Demi Allah, sesungguhnya masalah ini sangat serius, ada dua pilihan yang boleh dilakukan, iaitu adakah kita akan bekerjasama bahu-membahu dengan segenap kekuatan kita untuk memerangi penderitaan yang kini berada di ambang pintu dan ianya segera menghempap kita? “Satu tangan dengan tangan yang lain keduanya mengendalikan mesin bor”, dan “Seorang pahlawan dengan pahlawan lain, keduanya mampu menegakkan agama di Malta”, dan “Keduanya tidak sebagai penari di kegelapan,” atau adakah kita akan menunggu giliran kita terperosok dalam kebinasaan dan menyerah begitu saja masuk ke dalam penderitaan sehingga disebabkannya kita akan kehilangan semua?
Wahai para “pemuda”, sesungguhnya kematian itu pasti datang (hak), barang siapa yang tidak mati dilibas pedang, suatu saat dia akan mati dalam keadaan yang lain. Kematian hanya berlaku sekali dalam hidup ini, namun kematian untuk membela perkara rendah dan hina tidaklah seperti kematian dalam membela perkara agung nan mulia.
Ini merupakan qadliyah (masalah besar), masalah kita untuk mengangkat umat dari lumpur rawa-rawa yang kotor dan menenggelamkannya, ke dalam puncak kemuliaan, ketenteraman, dan kebahagiaan, dan kita perlu mengembalikan umat menaiki singgasana kemuliaan dunia yang menjadi tempatnya semula yang alami dan benar. Adakah kita akan melakukan hal itu, adakah kita akan berjaya, dan bagaimana hal itu berlaku?
Sesungguhnya tujuan kita adalah untuk mengubah realiti yang rosak menjadi realiti yang benar, dan mengangkat diri kita dari kerendahan menjadi kemuliaan, dan mengembalikan umat pada tempatnya yang terluhur, dan ini semua tidak akan jadi kenyataan tanpa adanya perubahan demi meraih kebangkitan. Bagaimana cara yang boleh menyampaikan kita ke sana? Ini akan menjadi topik perbahasan akan datang Insyaallah.
Sumber: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
#fikruummah #aththariq #perubahan

