Site icon MuslimahHTM News

Islamofobia Merajalela, Mengapa Dunia Diam Saja?

[Global] Islamofobia Merajalela, Mengapa Dunia Diam Saja?

Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq

 

Zionis tidak berhenti menyerang Palestin. Keganasan tentera Zionis telah berlangsung lebih dari 140 hari. Pada Isnin (26-2-2024), Kementerian Kesihatan daerah setempat mengumumkan sebanyak 29,782 mangsa yang meninggal dunia dan 70,043 warga yang tercedera. (CNBC Indonesia, 26-2-2024).

 

Sementara itu, keadaan umat muslim di benua lain juga tidak baik-baik saja. Hasil pengamatan organisasi Tell MAMA di Britain melaporkan bahawa sikap anti-muslim meningkat tiga kali ganda sejak serangan Zionis terhadap Palestin. Organisasi tersebut mencatat sebanyak 2,020 kes, di antaranya 901 kes terjadi secara offline dan 1,109 terjadi di media sosial.

 

Serangan yang dilancarkan secara langsung berupa perilaku kasar, ancaman, penyerangan, vandalisme, diskriminasi, kata-kata kebencian, dan penulisan yang berbaur anti-muslim. Sebanyak 65% kes menyerang perempuan. (VOA Indonesia, 23-2-2024).

 

Muslim di Sweden juga merasakan hal yang sama. Sebuah masjid di Stockholm, Sweden, mendapatkan ancaman pembunuhan yang tertulis di pintu masjid tersebut. Peristiwa ini merupakan yang kedua dalam tempoh seminggu. Muslim di sana juga menerima surat yang berisi zat seperti serbuk, bahkan mendapat kiriman bom palsu. (Viva, 23-2-2024).

 

Dunia Tidak Mampu Berbuat Apa-apa?

Penderitaan kaum muslim Palestin sudah terjadi puluhan tahun lamanya. Namun mengapa penjajahan itu tidak pernah sirna, malah bertambah? Negara Israel penjajah bahkan kini menguasai 78% tanah para nabi itu.

 

Ironinya, penderitaan yang dialami saudara kita di Palestin ternyata belum dapat menggerakkan majoriti hati masyarakat dunia. Perang di sana justeru menjadi penyulut bertambahnya kebencian masyarakat non-muslim terhadap Islam. Akhirnya, islamofobia meningkat di berbagai belahan dunia.

 

Memang banyak negara di dunia Islam mengecam tindakan entiti Zionis. Afrika Selatan, misalnya, menggugat Israel ke Mahkamah Keadilan Antarabangsa (International Court of Justice/ICJ). Namun, langkah-langkah pembelaan tersebut tetap tidak mampu mengurungkan keinginan Israel merebut tanah Palestin.

 

Peristiwa seperti ini terus  berulang. Para pembenci Islam makin menunjukkan kebenciannya terhadap Islam. Mereka tidak segan menganiaya, membakar kitab suci, bahkan menghina Baginda Nabi saw.. Kaum muslim saat ini tidak memiliki tempat mengadu. Meskipun ada Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), umat Islam tidak mendapatkan perlindungan sebagaimana yang sepatutnya.

 

Berkali-kali PBB dan negara dunia memberi peringatan, namun keganasan tentera Zionis tetap berjalan. Begitu juga dengan usaha mengulang narasi islamofobia. Pada 2022, PBB bahkan mengeluarkan resolusi Hari Internasional Melawan Islamofobia. Namun, hingga sekarang, gerakan anti-Islam terus bergerak bahkan bertambah tiga kali ganda. Bukankah ini membuktikan bahawa dunia tidak mampu mengambil tindakan nyata untuk melindungi umat Islam?

 

Kebencian yang Nyata

Sesungguhnya, semua ini membuktikan bahawa kapitalisme tidak dapat menandingi Islam. Sifatnya yang ingin menguasai dunia membuat para kapitalis—termasuk para pemimpinnya—menghalalkan segala cara, salah satunya dengan membiarkan kaum muslim bercerai-berai dalam banyak negara. Ikatan nasionalisme dan sistem politik demokrasi sengaja mereka tiupkan ke dunia Islam.

 

Bukan hanya setakat itu, malah bukan rahsia lagi kalau mereka juga menanamkan Israel ke tengah pemukiman kaum muslim di wilayah Palestin. Dengan begitu, kaum muslim timur tengah tidak akan bersatu kerana stabiliti keamanan terus digoyahkan.

 

Peristiwa 9/11 seakan menjadi tanda bahawa Islam harus diperangi. Siapa saja yang tidak ingin dimusuhi, hendaklah mendukung pilihan Amerika. Dunia akhirnya terpecah, dikuasai oleh Amerika dan para sekutunya. Mereka bebas melempar opini negatif mengenai Islam hingga islamofobia tersebar cepat melalui media sosial. Tersebarlah opini umum bahawasanya umat Islam itu jahat, teroris, dan sebagainya. Keadaan ini tentunya menyebabkan sebahagian non-muslim menyimpan kebencian terhadap Islam, bahkan mereka manifestasikan kepada setiap muslim yang mereka temui.

 

Ihwal kebencian terhadap Islam ini sudah Allah sampaikan dalam Al-Quran. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-henti (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TMQ Ali Imran: 118).

 

Perisai Kaum Muslim

Kaum muslim menjadi sasaran kebencian musuh-musuh Islam sejak runtuhnya Khilafah Uthmaniyah pada 3 Mac 1924. Sebelum Khilafah runtuh, umat Islam selalu merasa aman di mana saja mereka berada. Setiap kali ada seorang muslim yang teraniaya, khalifah akan mengirimkan pasukan untuk membelanya. Dahulu, tatkala Perancis ingin menyelenggarakan pertunjukan yang isinya menghina Rasulullah saw., khalifah terus menghantar mesej agar acara tersebut dibatalkan.

 

Ini adalah fakta. Kala itu, Khilafah mampu menundukkan dunia hingga semua negara tidak berani melawannya. Khilafah menerapkan aturan Islam sesuai Al-Quran dan Sunnah. Berbeza jauh dengan kekuasaan negara adidaya saat ini yang mengeruk sumber daya alam dan justeru menyebarkan ketakutan.

 

Khilafah adalah perisai yang akan sentiasa melindungi kaum muslim dari segala ancaman bahaya. Oleh sebab itu, terkait masalah Palestin, islamofobia, atau lainnya, tidak akan pernah selesai jika umat Islam tidak mempunyai perisai yang kuat. Perisai yang dimaksud adalah Khilafah sebagaimana yang Rasulullah tunjukkan kepada kita.

 

Sebagai kaum yang beriman kepada Allah, sudah selayaknya kita percaya bahawa janji Allah tentang berita kemenangan Islam akan segera datang. Berita gembira juga pernah Rasulullah saw. sampaikan, “‘Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan mengangkatnya, jika Dia berkehendak mengangkatnya. Setelah itu akan datang masa kekhalifahan ‘ala minhaj an-nubuwwah, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Setelah itu akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang zalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah mengangkatnya, jika Dia berkehendak mengangkatnya. Setelah itu akan datang masa raja diktator (pemaksa), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas metode kenabian).’ Setelah itu, beliau (saw.) diam.” (HR Imam Ahmad).

 

Janji Allah pasti datang. Seluruh umat Islam saat itu akan diselamatkan dan dilindungi. Palestin akan dibebaskan. Islamofobia akan sirna. Persoalannya, kita ingin menjadi pihak yang meyakini janji tersebut atau justeru mendustakannya?

 

#100TahunTanpaKhilafah #FreePalestinWithJihadAndKhilafah

Exit mobile version