Site icon MuslimahHTM News

[Nafsiyah] Menjadi Takwa Tidak Cukup dengan Puasa

[Nafsiyah] Menjadi Takwa Tidak Cukup dengan Puasa
Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar

Ternyata, menjadi orang bertakwa tidak cukup hanya dengan puasa Ramadhan. Di dalam Al-Quran, ada enam ayat yang hujungnya diakhiri dengan frasa la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa) sebagaimana yang terdapat dalam TMQ Al-Baqarah: 183 terkait kewajipan puasa Ramadhan.

Di sini, saya hanya akan menyebutkan empat ayat sahaja:

Pertama, ayat yang memerintahkan manusia untuk menyembah (beribadah kepada) Allah Taala.

Para ulama memaknai ibadah tidak hanya yang bersifat ritual (mahdhah), seperti solat, puasa, haji, dll.. Akan tetapi, mencakup semua jenis ketaatan kepada Allah Swt. dalam seluruh aspek kehidupan (ghayr mahdhah), seperti dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, perundangan, pendidikan, sosial, dll..

Hakikat ubudiah sendiri, menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, mencakup tiga hal:

1. Seorang hamba menyedari bahawa semua yang ada pada dirinya bukan miliknya, tetapi milik Allah Swt. yang kebetulan Dia titipkan kepada dirinya.

2. Seorang hamba wajib tunduk dan patuh tanpa membantah pada semua perintah Allah Swt. tanpa kecuali.

3. Seorang hamba tidak boleh membuat hukum/aturan apa pun di luar hukum/aturan yang telah Allah Swt. tetapkan. Mereka hanya berkewajipan menerapkan seluruh hukum/aturan (syariat)-Nya.

Terkait semua itu, Allah Swt. berfirman, “Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (TMQ Al-Baqarah [2]: 21).

Kedua, ayat yang memerintahkan kaum muslim untuk menegakkan semua sanksi hukum (hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafat), khususnya hukum qishas. Allah Swt. berfirman, “Dalam penegakan hukum qishas itu ada kehidupan bagi kalian agar kalian bertakwa.” (TMQ Al-Baqarah [2]: 179).

Ketiga, ayat yang memerintahkan kaum muslim untuk menunaikan saum Ramadhan. Allah Swt. berfirman, “Hai kaum beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (TMQ Al-Baqarah [2]: 183).

Keempat, ayat yang memerintahkan kaum muslim untuk hanya mengikuti “jalan lurus”, yakni Islam dan seluruh syariatnya, serta haram mengikuti jalan-jalan lain yang dapat mengakibatkan mereka menyimpang dari ideologi dan sistem Islam.

Allah Swt. berfirman, “Inilah jalanku yang lurus. Oleh kerana itu, ikutilah oleh kalian jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain sehingga boleh mengakibatkan kalian tercerai-berai (menyimpang) dari jalan tersebut. Itulah wasiat Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (TMQ Al-An’am [6]: 153).

Atas dasar itu, marilah seluruh umat Islam bersegara menerapkan seluruh syariat Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan di bawah naungan institusi Khilafah ‘ala mihaj an-Nubuwwah. Hanya dengan itulah ketakwaan sebenar dapat benar-benar terwujud dalam diri umat.

Marilah kita mengamalkan firman Allah Swt. berikut, “Hai kaum yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya, syaitan itu musuh kalian yang amat nyata.” (TMQ Al-Baqarah [2]: 208).

Wallahualam. Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb.

Exit mobile version