[Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah] Teknik dan Sarana Pengajaran (Bahagian 1/2)
Penulis: Abu Yasin
Setiap pemikiran (fikrah) memiliki metode (thariqah) yang menyangkut pelaksanaannya. Lain lagi dengan teknik atau cara (uslub) yang berupa tatacara tertentu untuk melakukan suatu aktiviti dan tatacara tersebut bersifat tidak tetap. Dalam konteks pendidikan yang dimaksud dengan uslub adalah seluruh aktiviti terarah yang digunakan pengajar dengan maksud membantu para pelajar untuk meraih apa yang diinginkan, iaitu diterimanya pemikiran, pemahaman, dan berbagai pengetahuan secara efisyen dan efektif.
Berbagai cara dapat dipilih pengajar sesuai dengan keadaan belajar-mengajar. Hendaknya diperhatikan tahap kemampuan para pelajar dan dipilih teknik yang terbaik untuk mencapai sasaran, seperti teknik berdialog, berdiskusi, bercerita, menirukan sesuatu, memecahkan masalah, melalui percubaan (uji cuba), dan praktikal-praktikal secara langsung.
Kebanyakan uslub memerlukan sarana untuk melaksanakan pekerjaan. Sarana dan uslub bersifat tidak tetap, boleh berubah, berkembang, dan beragam, sesuai dengan keadaan, personal, dan berbagai kemungkinan lain. Sama halnya dengan keharusan adanya metode untuk melaksanakan suatu pemikiran maka sarana dan uslub juga memiliki peranan penting dalam pelaksanaan suatu metode. Kesempurnaan suatu pekerjaan secara efisyen dan efektif bergantung pada kreativiti dalam mewujudkan sarana dan uslub yang sesuai untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
Metode pengajaran yang merupakan proses penyampaian pemikiran dari pengajar kepada anak didik, dahulunya menggunakan sarana dan uslub seperti pena, kertas, pengungkapan secara lisan, menirukan sesuatu, dan tulisan. Pada masa sekarang, sarana dan uslub tetap digunakan meskipun berbeza dengan yang dulu, seperti melalui cetakan, animasi, audio-tape, eksperimen di laboratorium, dan lain-lain.
Penggunaan teknik pengajaran yang tepat adalah untuk mengintensifkan metode rasional (aqliah) pada pelajar kerana metode tersebut merupakan landasan bagi proses berfikir yang cemerlang dan kebangkitan yang berasaskan Islam. Dengan metode aqliyah akan terpecahkan simpul besar pada diri manusia. Dengan metode itu pula akan terbentuk pada diri manusia pemikiran yang menyeluruh dan benar tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, baik dengan apa yang ada dengan sebelum mahupun sesudah kehidupan, serta kaitannya antara sebelum dan sesudah kehidupan. Dengan metode tersebut akan mengantarkan pada akidah Islam yang merupakan asas bagi negara, umat, dan sistem (perundangan) dalam Islam.
Sejak abad ke-19 Masehi, Eropah disusuli oleh Amerika dan Rusia, telah meraih kejayaan gemilang dalam mewujudkan revolusi industri yang dihasilkan dari pengkajian ilmiah. Mereka menamakan cara tersebut dengan “metode ilmiah”. Dari hasil pengamatan dapat dijelaskan bahawa metode tersebut hanya benar dan dapat diterapkan pada ilmu sains gunaan saja. Tidak salah jika cara tersebut dinamakan sebagai metode (thariqah) kerana merupakan prosedur tertentu yang bersifat baku dalam penyelidikan. Akan tetapi, salah jika metode tersebut dijadikan sebagai asas berfikir menggantikan metode aqliyah kerana akan mengarahkan kepada kesimpulan yang meniadakan hakikat dan pengetahuan yang keberadaannya diperoleh manusia melalui metode aqliyah, seperti tentang keberadaan Allah SWT dan kenabian Nabi Muhammad SAW.
Metode ilmiah hanya benar jika digunakan khusus untuk material yang boleh diindera dan layak digunakan dalam eksperimen, dimaksudkan untuk mengetahui hakikat dan khasiat material tersebut melalui prosedur eksperimen. Metode aqliyah yang terdiri dari empat unsur, merupakan landasan dalam proses berfikir kerana selain digunakan dalam penelitian material-material yang dapat diindera, seperti tercakup dalam ilmu fizik dan lain-lain, juga dapat digunakan untuk pembahasan yang menyangkut pemikiran, seperti akidah, hukum, sejarah, termasuk dalam pembahasan ilmu kalam seperti sastera dan sebagainya. Jika hasil penyelidikan melalui metode aqliyah bertentangan dengan hasil penyelidikan melalui metode ilmiah mengenai keberadaan sesuatu, yang diambil adalah hasil penyelidikan melalui metode aqliyah kerana hukum atas keberadaan sesuatu bersifat pasti (qath’i).
Penggunaan metode ilmiah hanya layak digunakan pada ilmu sains gunaan, seperti kimia dan fizik untuk dapat sampai pada hakikat dan sifat-sifat material dari alam semesta yang Allah SWT sediakan bagi umat manusia dengan memanfaatkannya dan mengetahui karakter khusus dari benda tersebut, di bawah aturan hukum-hukum Islam.
*Bersambung ke bahagian 2/2
Sumber: Abu Yasin, Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Khilafah).

