Ibrah Menurut Keumuman Lafaz
Oleh: Ustaz Yoyok Rudianto
اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَفْظِ
Lafaz umum adalah lafaz mufrad atau lafaz tunggal yang mencakup semua satuan/unit dalam cakupan maknanya menurut satu makna asal atau satu sisi ketetapannya dan penunjukkannya itu secara mutlak, tanpa batasan, dan secara setara, yakni tidak ada keistimewaan salah satu unit/satuannya atas yang lain.
Lafaz umum di dalam nas itu secara umum dinyatakan dalam dua keadaan.
Pertama, tidak ada peristiwa atau pertanyaan yang menjadi latar belakang suatu ayat diturunkan atau suatu hadis dinyatakan.
Kedua, ada peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi suatu ayat diturunkan atau suatu hadis dinyatakan.
Peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi suatu ayat al-Quran diturunkan oleh para ulama diistilahkan sebagai sabab an-nuzûl. Adapun peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi suatu hadis dinyatakan atau dikeluarkan diistilahkan oleh para ulama sebagai sabab al-wurûd. Lantas bagaimana penerapan lafaz umum itu dengan sabab an-nuzûl atau sabab al-wurûd yang khusus itu?
Untuk keadaan pertama, yakni lafaz umum dinyatakan di dalam nas tanpa ada peristiwa atau pertanyaan yang menjadi latar belakangnya, maka dalam hal ini lafaz umum itu diterapkan menurut keumumannya. Ketentuan ini merupakan perkara yang telah disepakati oleh para ulama. Lafaz umum tersebut tidak boleh dibawa pada yang khusus kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Jika tidak ada dalil yang mengkhususkannya, lafaz tersebut tetap berlaku menurut keumumannya.
Adapun untuk keadaan kedua, yakni jika peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya atau keluarnya hadis, yakni ada sabab yang khusus, maka ada perbezaan pendapat di kalangan para ulama seputar penerapan lafaz umum dalam keadaan ini. Ada dua pendapat:
Pertama, bahawa al-‘ibrah bi khushûshi as-sabab, yakni ibrah menurut kekhususan sebab itu, bukan menurut keumumannya. Ertinya, kekhususan sebab itu mengkhususkan nas tersebut sehingga hanya berlaku atas peristiwa atau pertanyaan itu secara khusus, dan tidak berlaku untuk yang lain. Menurut Jamaluddin al-Isnawi di dalam Nihâyah as-Sûl Syarhu Minhaj al-Wusûl (1/219) bahawa ini merupakan pendapat Imam Malik, Abu Tsaur, dan sebagian ulama Syafiiyah, yakni al-Muzani. Ibnu ad-Daqaq, al-Qafal dan lainnya.
Pendapat kedua, bahawa al-‘ibrah itu menurut keumuman lafaz, bukan menurut kekhususan sebab (al-‘ibrah bi ‘umûm al-lafzhi lâ bi khushûshi as-sabab). Ertinya, nas itu mencakup semua unit/satuan yang dicakup oleh kemumuman lafaznya, dan tidak hanya berlaku pada sebabnya, yakni tidak hanya peristiwa atau pertanyaan itu saja yang merupakan salah satu unit atau satuan dari cakupan kemumuman lafaznya. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, al-Amidi, al-Ghazali, ar-Razi dan jumhur ulama ushul dan fuqaha’.
Pendapat kedua ini yang lebih raajih (kuat). Ada beberapa argumentasi untuk itu.
Pertama, dengan memeriksa saksama semua ayat yang turun menjelaskan hukum berbagai peristiwa dan pertanyaan yang ada, kita menemukan bahawa itu dinyatakan menggunakan lafaz-lafaz umum dan bukan menggunakan lafaz khusus. Semua itu tentu memberi faedah, iaitu semuanya diamalkan menurut keumumannya. Jika hukum yang dijelaskan menggunakan lafaz umum itu hanya diberlakukan khusus pada peristiwa atau pertanyaan yang menjadi as-sabab untuknya, maka saat hukum itu dinyatakan dengan menggunakan lafaz umum maka itu menjadi tidak berfaedah dan sia-sia. Tentu saja Asy-Syâri’ Mahasuci dari yang demikian.
Kedua, hujjah itu adalah dalam lafaz Asy-Syâri’. Jika asy-Syâri’ menyatakan hukum menggunakan redaksi umum maka kita menjadikan hukum itu bersifat umum baik hukum itu diturunkan dengan adanya sebab atau tanpa adanya sebab. Jika Asy-Syâri’ menyatakannya dengan menggunakan redaksi khusus maka kita mengkhususkan hukum itu.
Ketiga, Rasul SAW memberlakukan hukum-hukum itu berdasarkan keumumannya dan menerapkannya pada semua peristiwa yang serupa dengan peristiwa yang menjadi sebabnya. Hukum-hukum itu tidak hanya beliau terapkan pada sebabnya saja.
Keempat, para Sahabat radhiyalLâh ‘anhum memberlakukan hukum-hukum yang dinyatakan di dalam nas menggunakan lafaz umum menurut keumumannya. Jadi para Sahabat menerapkan hukum-hukum itu pada semua peristiwa yang serupa dengan peristiwa yang menjadi sabab an-nuzûl atau sabab al-wurûd nas itu. Tidak ada seorang pun dari Sahabat yang mengingkari hal itu. Ini menjadi Ijmak Sahabat bahawa hukum yang dinyatakan menggunakan lafaz umum dengan latar belakang peristiwa atau pertanyaan khusus maka berlaku menurut keumumannya, dan bukan hanya berlaku khusus atas sebabnya itu saja.
Ayat tentang hukuman pencurian berupa potong tangan diturunkan dengan sebab pencurian ridâ‘ milik Shafwan bin Umayah. Ayat tentang zhihaar diturunkan berkaitan dengan Aws bin ash-Shamit dan isterinya Khawlah binti Tsa’labah atau terkait Salamah bin Shakhr. Ayat tentang li’aan diturunkan berkaitan dengan ‘Uwaimir al-‘Ajlani dengan isterinya atau Hilal bin Umayyah dengan isterinya. Ayat tentang qadzaf diturunkan berkaitan dengan peristiwa Aisyah ra.; dan yang lainnya. Walaupun semua itu diturunkan dengan sabab khusus, Rasul dan para sahabat menerapkan hukumnya menurut keumuman lafaznya pada semua peristiwa yang serupa dengan sabab an-nuzûl masing-masing. Misalnya, ayat tentang qadzaf diterapkan oleh Khalifah Umar bin al-Khattab terhadap kasus qadzaf oleh Abu Bakrah.
Dengan demikian, lafaz umum yang diturunkan dengan sebab khusus diterapkan menurut keumuman lafaznya pada semua peristiwa yang serupa. Hal itu telah ditetapkan dengan as-Sunnah dan Ijmak Sahabat.
Dari semua itu maka dirumuskan kaedah “al-‘ibrah bi ‘umûm al-lafzhi lâ bi khushûsh as-sababi (ibrah itu menurut kemumuman lafaz dan tidak menurut kekhususan sebab)”. Jadi hukum yang dinyatakan menggunakan lafaz umum, yang memiliki sebab khusus, maka diterapkan secara umum menurut keumumannya. Ini bermaksud, diterapkan pada semua peristiwa atau masalah yang menjadi cakupannya, termasuk pada peristiwa yang menjadi sebabnya.
Contoh penerapan Isyak ini, firman Allah SWT:
أُحِلَّ لَكُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمۡۚ هُنَّ لِبَاسٞ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٞ لَّهُنَّۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَكُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ وَعَفَا عَنكُمۡۖ فَٱلۡـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ ١٨٧
”Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian. Kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawa kalian tidak dapat menahan nafsu kalian. Kerana itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Kerana itu, sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, iaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) waktu malam.” (TMQ al-Baqarah [2]: 187).
Imam ath-Thabari di dalam Tafsîr ath-Thabarî menyebutkan beberapa riwayat dari beberapa Sahabat, bahawa sebelum turun ayat ini, para Sahabat pada malam Ramadhan, setelah solat Isyak atau setelah tidur maka tidak makan, minum dan berhubungan suami-isteri hingga waktu Maghrib esoknya. Lalu Umar bin al-Khattab menggauli isterinya, padahal isterinya telah tidur sebelumnya. Seorang dari Anshar yang dipanggil Abu Shirmah tidur setelah waktu berbuka dan bangun ketika sudah Isyak lalu dia makan dan minum. Esoknya hal itu diceritakan kepada Rasul SAW lalu turunlah ayat ini.
Jadi ayat ini memiliki sabab khusus. Namun, ayat ini dinyatakan menggunakan lafaz umum. Hukum ayat ini berlaku bagi orang yang yakhtanu (tidak mampu menahan nafsu) yang tentang itu turun ayat ini (yani Umar dan Abu Shirmah), juga berlaku untuk yang tidak yakhtanu yakni mampu menahan nafsu.
Contoh lain, Abdullah dari Bani Mudlij bertanya kepada Rasul:
أَفَنَتَوَضَأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: هُوَ الطُهُوْرُ مَاؤُهُ اَلْحِلُ مَيْتَتُه
“Apakah kita berwudhuk dengan air laut?” Rasululalh SAW bersabda, “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).
Jawapan Rasul SAW ini menggunakan lafaz umum. Hukum ini berlaku menurut keumuman-nya. Ertinya, ia berlaku untuk Abdullah dan seluruh kaum Muslim; juga berlaku untuk air laut manapun.
Contoh lainnya, Rasulullah SAW melewati kambing milik maula Maimunah yang telah jadi bangkai. Lalu Rasul SAW bersabda:
هَلا أَخَذْتُمْ إِهَابها فَدَبَغْتُمُوْهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ ؟ فَقَالُوا: إِنها مَيْتَةٌ فَقَال: إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا
“Tidakkah kalian mengambil kulitnya, lalu kalian samak dan kalian manfaatkan?” Mereka berkata, “Sungguhnya ia bangkai.” Beliau bersabda, “Tidak lain yang diharamkan adalah memakannya.” (HR Muslim, Ibnu Majah dan Abu Dawud).
Sabab al-wurûd hadis ini adalah terkait bangkai kambing milik maula Maimaunah. Meski begitu, hadis dan hukum ini berlaku menurut keumumannya. Ertinya, kebolehan memanfaatkan kulit bangkai kambing dengan menyamaknya terlebih dahulu itu bukan hanya terhadap kulit bangkai kambing milik maula Maimunah itu, melainkan berlaku untuk kulit bangkai kambing manapun.
Begitulah, ibrah itu menurut keumuman lafaz dan tidak menurut kekhususan sebab. Ertinya, hukum yang dinyatakan menggunakan lafaz umum berlaku atas semua unit yang masuk dalam cakupan maknanya, dan tidak hanya berlaku khusus atas peristiwa atau pertanyaan yang menjadi sebabnya.
WalLâh a’lam wa ahkam.
Sumber: Alwaie

