Site icon MuslimahHTM News

[Kaedah-Kaedah Taklid] Hakikat Kontradiksi dan Mendahulukan Kompromi (Bahagian 1/2)

[Kaedah-Kaedah Taklid] Hakikat Kontradiksi dan Mendahulukan Kompromi (Bahagian 1/2)

Penulis: Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat

 

At ta’arudh adalah at tanaqudh (kontradiksi). Jika kontradiksi terdapat pada dua buah khabar (berita), salah satunya pasti dusta, padahal Allah SWT dan Rasul-Nya mustahil melakukan kedustaan.

 

Jika kontradiksi terjadi pada dua hukum, perintah atau larangan, haram atau mubah, kedua hukum tersebut mustahil untuk dikompromikan. Boleh jadi, salah satu hukum tersebut dusta, atau salah satu hukum tersebut datang kemudian dan menghapuskan hukum sebelumnya.

 

Hanya saja, tatkala dua buah dalil terlihat saling bertentangan, maka kontradiksi itu tidak boleh serta-merta diselamatkan dengan jalan mentarjih salah satu dalil di atas dalil yang lain, kecuali jika beramal dengan dua dalil tersebut benar-benar tidak dimungkinkan lagi. Jika masih mungkin mengamalkan dua buah dalil itu, hal itu lebih utama sebab mengamalkan dua dalil lebih baik dan utama dibandingkan mengabaikan atau meninggalkan salah satu dalil secara menyeluruh.

 

Ini didasarkan pada kenyataan bahawa asal dari adanya dalil adalah untuk diamalkan, bukan untuk diabaikan atau ditinggalkan. Akan tetapi, beramal dengan dua dalil tidak boleh didasarkan pada upaya untuk mencari-cari dalih semata, tetapi perlu tetap didasarkan pada makna yang ditunjukkan oleh nas.

 

Misalnya, ketika Nabi SAW bersabda, “Solat itu adalah kewajipan bagi umatku. Solat itu bukan kewajipan bagi umatku,” maka sabda pertama perlu difahami solat bagi para mukalaf, sedangkan sabda kedua pada konteks anak kecil, orang gila, dan orang-orang yang berada dalam keadaan lemah, tidak mampu, atau waktunya belum masuk waktu solat. Jika kita tidak mungkin mengompromikan keduanya dan kita juga tidak mengetahui mana hadis yang lebih dahulu turun dan mana yang terakhir turun, kita hendaklah mentarjih salah satu dalil tersebut dan memilih dalil yang lebih kuat.

 

Untuk itu, terlebih dahulu perlu diusahakan untuk mengamalkan dua dalil tersebut dengan jalan kompromi yang memungkinkan. Namun, jika usaha mengamalkan kedua dalil tersebut tidak dimungkinkan lagi, langkah yang mesti dilakukan adalah sebagai berikut:

 

  1. Jika dua dalil tersebut sama-sama kuat dan sama-sama mengandung makna umum, tetapi diketahui mana dalil yang turun terakhir dan mana yang lebih dahulu turun, maka dalil yang terakhir turun telah menghapus dalil yang lebih awal turun. Dengan kata lain, dalil yang terakhir turun telah menghapus ketentuan hukum sebelumnya. Ketentuan ini tidak memandang apakah kedua dalil tersebut dzanni mahupun qath’i, berasal dari Al-Quran atau Sunnah. Namun demikian, Sunnah tidak boleh menghapus ketentuan Al-Quran, walaupun sunnah mutawatir.

 

  1. Jika waktu turunnya tidak diketahui, kedua dalil tersebut adalah zhanni sebab tidak mungkin terjadi kontradiksi di antara dua dalil qath’i. Jika dalil-dalil tersebut bersifat zhanni, wajib dilakukan tarjih hingga diketahui dalil yang lebih kuat.

 

  1. Adapun yang dimaksud dengan kekuatan dalil adalah kekuatan dalil dari sisi urut-urutan kekuatannya dan dari sisi tahap kredibiliti dalil dalam proses istidlal pada setiap jenis dalil-dalil zhanni. Sesungguhnya dalil zhanni ada dua macam, pertama sunnah, dan kedua qiyas. Masing-masing dalil ini memiliki “tahap kredibiliti” tersendiri di dalam proses tarjih.

 

  1. Dari sisi urut-urutan kekuatan dalil, Al-Quran lebih kuat dibandingkan dengan Sunnah, walaupun sunnah mutawatir. Sunnah mutawatir lebih kuat daripada ijmak. Ijmak yang diriwayatkan secara mutawatir lebih kuat daripada hadis ahad. Khabar ahad lebih kuat dibandingkan dengan qiyas jika ilatnya didapatkan dengan cara dalalah, istinbat, atau qiyas. Jika ilatnya didapatkan dengan cara shurahah (jelas), urutan kekuatannya tergantung dari dalil yang menjadi sandaran ilat tersebut. Jika ilatnya diambil dari Al-Quran, hukumnya mengikuti hukum Al-Quran. Jika ilatnya diambil dari Sunnah, hukumnya mengikuti hukum Sunnah. Jika ilatnya diambil dari ijmak, hukumnya mengikuti hukum ijmak.

 

  1. Dari sisi tahap kredibiliti dalil dalam proses istinbat dapat dirinci sebagai berikut:

 

  1. Yang dimaksud dengan kekuatan dalil jika dinisbahkan kepada Sunnah adalah kekuatan dari sisi sanad, matan, dan makna (madlul).
  2. Kekuatan dalil Sunnah dari sisi sanad dapat diringkas sebagai berikut:

 

 

Perawi yang meriwayatkan hadis berdasarkan hafalan lebih dikuatkan daripada perawi yang meriwayatkan hadis melalui tulisan. Ini kerana hafalan lebih terhindar dari kesamaran (syubhat) dibandingkan dengan tulisan. Hadis yang diriwayatkan secara masyhur lebih dikuatkan dibandingkan hadis yang tidak masyhur.

 

 

 

 

 

 

 

*Bersambung ke bahagian 2/2

 

Sumber: Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat, Kaedah-Kaedah Taklid, Tuntunan Islam dalam Memilih dan Mengikuti Pendapat

 

Exit mobile version