Site icon MuslimahHTM News

Kejayaan Penaklukan Kota Konstantinopel

[Tarikh Khulafa] Kejayaan Penaklukan Kota Konstantinopel

Penulis: Nabila Ummu Anas

 

Tersebarnya berita kematian Kaisar Konstantinopel memberi pengaruh besar terhadap semangat pasukan di kedua belah pihak. Pasukan Turki Uthmaniyyah semakin bersemangat dalam jihadnya kerana kemenangan sudah sangat dekat. Sedangkan semangat orang-orang Byzantium makin jatuh dalam mempertahankan diri.

 

Pasukan Turki Uthmaniyyah berjaya memasuki kota dari pelbagai arah, sedangkan pasukan Byzantium lari bertempiaran setelah panglima mereka tidak ada. Pasukan kaum muslim berjaya menguasai Konstantinopel.

 

Memuji Allah SWT dan berterima kasih

 

Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan ucapan tahniah kepada para tentaranya. Dia berkata, “Segala puji hanya milik Allah SWT. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmatNya kepada para syuhada serta memberikan kemuliaan dan keluhuran kepada para pejuang. Untuk bangsaku, aku merasa bangga dan ingin memberi ucapan terima kasih.”

 

Pada 20 Jamadilawal 857 H—bertepatan dengan 29 Mei 1453 M—Sultan Muhammad Al-Fatih berada di tengah-tengah kota dengan dikelilingi oleh tentara dan panglimanya. Mereka berulang kali mengucapkan, “Masyaallah”.

 

Sultan Muhammad Al-Fatih menoleh kepada mereka dan berkata, “Pada pagi hari ini, kalian telah menjadi penakluk-penakluk Kota Konstantinopel yang telah diberitakan Rasulullah SAW.” Sultan mengucapkan tahniah kepada mereka atas kemenangan ini.

 

Berbuat baik kepada penduduk Konstantinopel

 

Sultan Muhammad Al-Fatih melarang tenteranya untuk melakukan pembunuhan dan memerintahkan mereka agar bersikap lemah lembut dan berbuat baik kepada manusia. Kemudian Sultan turun dari kudanya dan bersujud di atas tanah.

 

Sultan Muhammad Al-Fatih beranjak menuju gereja Aya Sophia. Di dalamnya, telah berkumpul penduduk Konstantinopel dan para pendeta. Ketika sultan mendekati pintu gereja, orang-orang Kristien yang berada di dalamnya sangat ketakutan. Salah seorang pendeta membukakan pintu untuk sultan.

 

Sultan Muhammad Al-Fatih meminta agar pendeta itu menenangkan orang-orang dan agar mereka kembali ke rumah mereka dengan aman, maka mereka pun menjadi tenang. Ada beberapa pendeta yang sebelumnya bersembunyi, mereka keluar dan menyatakan keIslamannya ketika melihat sikap Muhammad Al-Fatih.

 

Aya Sophia menjadi masjid

 

Setelah itu, Muhammad Al-Fatih memerintahkan agar gereja Aya Sophia diubah menjadi masjid dan dipersiapkan dengan baik supaya pada hari Jumaat depan dapat dilakukan solat Jumaat untuk pertama kali. Para pekerja melakukan persiapan dan mereka menghilangkan salib-salib juga patung-patung serta membersihkan gambar-gambar di dalamnya dengan lapisan kapur. Mereka juga membuat mimbar untuk khutbah.

 

Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristian untuk melakukan ritual keagamaan mereka serta memiliki pemimpin-pemimpin keagamaan yang mempunyai autoriti untuk melakukan peradilan dalam masalah-masalah sivil di antara mereka. Akan tetapi pada saat yang sama, sultan mengharuskan semuanya untuk membayar jizyah.

 

Fakta sejarah menunjukkan bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih memperlakukan penduduk Konstantinopel dengan perlakuan yang baik. Dia juga memerintahkan tenteranya untuk memperlakukan para tahanan dengan baik. Dia menebus banyak tawanan perang dari harta peribadinya, khususnya para pemimpin Yunani dan para pembesar agama. Dia berkumpul dengan para paderi dan menenangkan mereka agar tidak perlu takut untuk tetap berada dalam keyakinan mereka dan menjalankan ritual agamanya di rumah ibadah mereka.

 

Keadilan bagi seluruh warga

 

Para pendeta merasakan bahawa mereka berada di hadapan seorang sultan yang luas wawasannya, memiliki misi, akidah keagamaan yang kuat, kemanusiaan yang tinggi dan kepahlawanan yang sempurna. Hal ini pun turut dirasakan oleh orang-orang Rom. Hanya dalam masa beberapa hari, penduduk Konstantinopel sudah memulakan kehidupan seharian mereka  sebagaimana sebelum ini dalam keadaan yang tenang dan damai.

 

Orang-orang Turki Uthmaniyyah sangat bersemangat untuk konsisten dengan prinsip-prinsip Islam. Oleh sebab itu, keadilan di antara manusia adalah urusan yang paling penting untuk ditegakkan. Perlakuan mereka terhadap orang-orang Kristian itu bersih dari segala bentuk fanatik dan kezaliman.

 

Aliran-aliran Kristian di bawah pemerintahan Daulah Uthmaniyyah telah mendapatkan seluruh hak-hak keagamaannya. Setiap aliran memiliki pemimpin agama yang tidak berbicara kecuali dengan apa yang menjadi keputusan sultan secara langsung. Setiap aliran ini memiliki sekolah dan tempat ibadah khusus. Keadilan pun turut dirasakan oleh seluruh warga Konstantinopel yang telah menjadi sebahagian dari Daulah Uthmaniyyah.

 

Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

 

 

Exit mobile version