Site icon MuslimahHTM News

[Pemikiran Politik Islam] Politik (Bahagian 5)

[Pemikiran Politik Islam] Politik (Bahagian 5)

Penulis: Syeikh Abdul Qadim Zallum

 

*Sambungan dari Bahagian 4

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah bahawa Rasulullah saw. bersabda, “Akan ada para Amir (penguasa), maka kalian (ada yang) mengakui perbuatannya dan (ada yang) mengingkarinya. Siapa saja yang mengakui perbuatannya (kerana tidak bertentangan dengan hukum syariat), maka dia tidak akan dimintai tanggungjawabnya. Dan siapa saja yang mengingkari perbuatannya, maka dia akan selamat. Akan tetapi siapa saja di antara kalian yang rela (dengan perbuatannya yang bertentangan dengan hukum syariat) dan mengikutinya, (maka dia telah berdosa).”

 

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami tidak boleh memerangi mereka dengan pedang?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka menegakkan solat (hukum-hukum Islam).”

 

Dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan, “Siapa saja yang membenci perbuatannya (kerana bertentangan dengan hukum syariat), maka dia tidak dimintai tanggungjawabnya, dan siapa saja yang mengingkari perbuatannya, maka dia akan selamat. Akan tetapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (maka dia berdosa).”

 

Rasulullah saw. memerintahkan kaum muslim untuk menentang penguasa yang berbuat salah dengan berbagai cara sesuai kemampuannya. Pertama dengan tangannya selama hal itu tidak mengakibatkan perang fizikal. Kedua dengan lisannya melalui pernyataan-pernyataan yang baik. Kemudian dengan hatinya apabila mereka tidak mampu mengerjakan kedua hal sebelumnya.

 

Rasulullah saw. menganggap siapa saja yang tidak menentang perbuatan haram yang dilakukan penguasa sebagai sekutu dalam dosa. Ini sebagaimana sabdanya, “Siapa saja yang rela terhadap apa yang mereka kerjakan dan mengikuti perbuatan itu, maka dia tidak akan terbebas dan selamat dari dosa.”

 

Lebih-lebih lagi, dalil-dalil yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran merupakan dalil adanya kewajipan untuk memuhasabah penguasa. Ini kerana dalil-dalil tersebut merupakan dalil yang berlaku umum, baik terhadap penguasa, maupun selainnya. Allah Swt. memerintahkan kita untuk menyuruh manusia melakukan kebaikan (al-makrûf), juga melarang kemungkaran dengan perintah-perintah yang tegas.

 

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (TMQ Ali Imrân: 104).

 

“(iaitu) Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di atas bumi nescaya mereka mendirikan solat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (TMQ Al-Hajj: 41).

 

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. …” (TMQ At-Taubah: 71).

 

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. …” (TMQ Ali Imran: 110).

 

“Orang-orang yang mengikuti Nabi (terakhir), Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapatkan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. …” (TMQ Al-A’raf: 157).

 

“(Mereka itu ialah): orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan yang melarang daripada kejahatan, serta yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian).” (TMQ At-Taubah: 112).

 

Dalam ayat-ayat di atas, Allah menuntut kita untuk memerintahkan manusia kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Perintah tersebut dilengkapi dengan indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahawa perintah tersebut adalah perintah yang tegas (jazm), iaitu berupa puji-pujian untuk yang melaksanakannya.

 

Misalnya, “Merekalah orang-orang yang beruntung”, “Kalian adalah umat yang terbaik”, “Orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang beribadah.” Adanya qarînah tersebut menjadikan perintah itu tegas, yang bererti suatu kewajipan.

 

Begitu pula memuhasabah penguasa termasuk aktiviti menyeru pada kebaikan dan melarang kemungkaran yang merupakan suatu kewajipan. Terdapat sejumlah hadis yang memerintahkan kita mengajak pada kebaikan dan melarang kemungkaran.

 

Hudzaifah bin al-Yamân menuturkan bahawa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian hendaklah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran atau Allah akan menurunkan hukuman kepada kalian. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi Allah tidak mengabulkan untuk kalian.” (HR At-Tirmidzi).

 

Sumber: Syeikh Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, Upaya Membumikan Politik Sebagai Mainstream Gerakan. (Bahagian 5).

 

Exit mobile version