[Pemikiran Politik Islam] Negarawan
Penulis: Syeikh Abdul Qadim Zallum
Kebanyakan orang beranggapan bahawa negarawan adalah penguasa atau orang-orang yang memerintah suatu negara. Kemudian, mereka memberikan gelaran tersebut kepada ketua negara, perdana menteri, dan kedudukan-kedudukan pemerintahan lainnya. Mereka tidak memberikan gelaran tersebut kepada orang lain.
Lebih lebih lagi, mereka membahagi warga negara dalam dua kelompok, iaitu negarawan dan orang awam. Mereka memasukkan setiap pegawai dan penjawat awam ke dalam kelompok kedua, iaitu orang biasa. Pemahaman mengenai negarawan ini merupakan pemahaman yang tidak benar.
Penguasa boleh saja seorang negarawan, tetapi boleh jadi juga bukan. Sebaliknya, seorang biasa dapat menjadi seorang negarawan, walaupun dia tidak melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Boleh saja seorang petani di sawah, seorang pekerja di sesebuah kilang, seorang pedagang, atau seorang guru menjadi seorang negarawan.
Negarawan adalah seorang pemimpin politik yang kreatif dan inovatif. Dia seorang yang bermentaliti pemimpin (leadership) dan mampu mengatur urusan kenegaraan, menyelesaikan permasalahan, serta mengendalikan hubungan peribadi dan urusan umum. Inilah seorang negarawan sejati.
Dia boleh saja muncul di tengah-tengah rakyat dan tidak menjawat suatu kedudukan kenegaraan, serta tidak melakukan tugas-tugas pemerintahan. Daulah Islamiyah, sejak didirikan pada tahun pertama hijriah, mempunyai banyak tokoh yang bermentaliti, berwatak, dan berperilaku sebagai seorang negarawan. Hal ini terus berlangsung sampai lebih dari enam abad, iaitu sampai keruntuhan Khilafah ‘Abbasiyah.
Namun demikian, keberadaan individu-individu yang bermental negarawan ini terus berlangsung sampai pertengahan abad ke-18, saat pengembangan orang-orang yang bermentaliti negarawan ini mulai berkurang. Akibatnya, jumlah orang-orang yang layak dijuluki negarawan menjadi sedikit.
Setelah keruntuhan Khilafah, jumlah orang-orang tersebut menjadi teramat sedikit. Bahkan, tempat tumbuh dan berkembangnya para negarawan tersebut sudah tidak ada lagi. Umat Islam tidak lagi menghasilkan orang-orang bermental negarawan sehingga tidak ada lagi orang-orang tersebut di tengah-tengah umat.
Umat yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya para negarawan akan menikmati gagasan-gagasan para negarawan dalam urusan kehidupan mereka, baik urusan dalam negeri mahupun urusan antarabangsa. Umat juga akan merasakan tanggungjawab mereka kepada seluruh rakyat.
Tanggungjawab tersebut meluas, bahkan sampai melampaui batas-batas wilayah mereka. Agar dapat mengurus kepentingan umat dan menyelesaikan permasalahan mereka, para negarawan perlu memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai yang mereka yakini kebenarannya di antara bangsa-bangsa di dunia. Dengan demikian, ia berpacu untuk mendapatkan kedudukan tertinggi di kancah antarabangsa.
Syarat-syarat mentaliti negarawan
Syarat-syarat bagi tumbuh dan berkembangnya mentaliti negarawan dapat dikelompokkan dalam tiga hal. Pertama, dia perlu memiliki sudut pandang tertentu dalam kehidupannya (pandangan hidupnya) yang mampu membangkitkan suatu pemikiran yang menyeluruh. Kedua, dia hendaklah memiliki suatu sudut pandang tertentu yang dapat menjamin tercapainya kebahagiaan hakiki dalam realiti kehidupan. Ketiga, dia perlu memiliki suatu peradaban (hadharah) tertentu yang mampu mengangkat manusia kepada keadaan yang luhur, bentuk kehidupan yang tertinggi, serta aspek pemikiran yang tertinggi, dipadukan dengan nilai-nilai murni dan kedamaian yang abadi.
Bagi kaum muslim, ketiga persyaratan tersebut cukup banyak tersedia dalam bentuk buku-buku, mahupun buah fikiran para ulama. Kaum muslim tinggal menterjemahkannya dalam aspek-aspek praktikal kehidupan. Orang yang mampu menterjemahkan kitab-kitab dan fikiran para ulama tersebut ke dalam berbagai aktiviti kehidupan layak disebut sebagai negarawan.
Hal ini sesuai dengan kenyataan bahawa negarawan adalah pemimpin politik yang kreatif, sedangkan tegaknya pemikiran politik dalam kehidupan memerlukan suatu kepemimpinan politik. Melimpahnya pemikiran politik dalam buku-buku dan fikiran para ulama tidak akan bermakna, tanpa adanya kepemimpinan politik yang menerapkannya dalam kehidupan.
Agar suatu kepemimpinan politik terwujud di tengah-tengah umat, diperlukan seseorang yang memahami secara kreatif berbagai pemikiran politik itu dan melaksanakannya tanpa kemunafikan.
Melahirkan Negarawan
Umat mempunyai suatu pemikiran yang lengkap mengenai manusia, kehidupan, serta alam semesta. Pemikiran tersebut bersumber dari gagasan yang paling besar, iaitu akidah Islam yang agung. Umat juga memiliki sudut pandang yang khas dan menjamin terwujudnya kebahagiaan umat Islam di dunia dan di akhirat.
Umat Islam juga mempunyai tsaqafah dan peradaban (hadhârah) yang unik, yang dapat mengangkat kaum muslim ke darjat kehidupan yang paling tinggi dan hidup dalam tahap pemikiran yang paling murni. Namun demikian, walaupun umat Islam memiliki semua potensi di atas, (saat ini, ed.) mereka tidak mengaplikasikannya dalam realiti kehidupan.
Mereka sekadar menyimpan gagasan-gagasan falsafah tersebut dalam buku-buku dan benak (fikiran) para ulama. Ini kerana umat tidak lagi menerapkan pemikiran-pemikiran tersebut dalam kehidupan, maka tempat tumbuh dan berkembangnya para negarawan sudah tidak ada lagi. Oleh sebab itu, sangat wajar bila orang-orang dengan mentaliti negarawan sangat jarang ditemukan.
Bagaimana mungkin kaum muslim boleh memiliki sikap kepemimpinan politik apabila ia tidak pernah mendapatkan konsep-konsep kepemimpinan dan pemikiran-pemikiran politik? Bagaimana mungkin ia bersikap kreatif, sementara ia hanya berusaha mendapatkan manfaat untuk kepentingan dirinya sendiri dan tidak memikirkan kepentingan umat, serta hanya berupaya mendapatkan dukungan negara-negara adidaya dan tidak berusaha bersaing dan menentang kekuasaan mereka?
Oleh kerana itu, agar kaum muslim mampu bangkit kembali, mereka mesti mencari jalan untuk menghasilkan para negarawan dan memperbanyak jumlah mereka dari waktu ke waktu. Hal ini tidak akan dapat diwujudkan, tanpa membina mereka dengan tsaqafah politik yang berlandaskan akidah Islam. Hal itu merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta.
Apabila tsaqafah ini tersebar luas di kalangan kaum muslim dan terwujud dalam kehidupan mereka, maka tempat tumbuh para negarawan itu pun akan tercipta. Dengan demikian, diharapkan akan tumbuh dan berkembang dengan subur para negarawan baru yang mampu membawa umat pada kebangkitannya dan mampu menghasilkan perubahan.
Inilah yang dimaksud dengan negarawan dan situasi/lingkungan tempat mereka dapat berkembang. Negarawan tidak semestinya bermaksud penguasa, tetapi merupakan pemimpin politik yang kreatif dan tumbuh dari umat. Negarawan bukanlah orang yang mendapatkan kedudukan melalui pilihan raya umum, kudeta militer, atau melalui kekayaannya, sementara ia tidak peduli dan tidak memahami terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, serta tidak mampu melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Jika ingin sampai pada kekuasaan, seorang negarawan perlu melibatkan dirinya dalam masalah-masalah umat di sekitarnya. Kemudian meluas dalam masalah-masalah umat di daerah dan di negerinya. la dapat memperoleh kekuasaan setelah kemampuannya dikenal umat. la dapat memperoleh kekuasaan melalui pilihan raya umum, walaupun hal ini hanya akan terjadi pada negara-negara yang rakyatnya memiliki pemahaman yang lurus.
Namun demikian, yang terjadi di negeri-negeri kaum muslim saat ini, para negarawan hendaklah terlebih dahulu berusaha mengambil-alih kepemimpinan rakyat untuk meraih kekuasaan. la perlu membentuk kelompok atau kekuatan yang berpengaruh sehingga mampu bertentangan dengan pemerintah dan akhirnya dapat merebut kawalan pemerintahan. Adapun pilihan raya umum yang terjadi di negara-negara kaum muslim saat ini hanya akan menghasilkan penguasa yang sama dangkal dan bodohnya dengan penguasa-penguasa sebelumnya.
Ketika kaum muslim menerapkan Islam sepenuhnya dan membina dirinya dengan tsaqafah Islam, mereka menghasilkan ribuan orang yang berkualiti negarawan. Beberapa di antara mereka memegang tampuk pemerintahan, seperti Umar bin Khattab, ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Mu’tashim, Shalahuddin al-Ayyubbi, dan Muhammad al-Fatih.
Tokoh negarawan umat Islam dari pelbagai latar belakang
Banyak pula di antara mereka tetap seperti orang biasa tanpa jawatan pemerintahan, seperti Ibnu Abbas, Al-Ahnaf ibnu Qays, Ahmad ibnu Hanbal, serta Ibnu Taimiyyah. Mereka semua merupakan hasil tempaan akidah Islam, mengikuti jalur politik, dan melaksanakan kewajipannya atas seluruh umat manusia. Maknanya, mereka senantiasa memandu umat dan menyampaikan seruan Islam kepada mereka, menerapkan aturan Islam kepada umat, serta bertanggungjawab atas kepentingan internal umat.
Umar bin Khattab berkata, “Andai kata ada seekor haiwan berjalan di wilayah Irak yang kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku kerana tidak memperbaiki jalan tersebut.”
Demikian pula Al-Mu’tashim, ketika mendengar seorang muslimah di wilayah Romawi meneriakkan namanya (Wahai Mu’tashim!) dan meminta tolong kepadanya, dia pun segera datang menolongnya. Al-Mu’tashim langsung mengetuai sebuah pasukan untuk menaklukkan Kekaisaran Romawi sampai ke tempat kelahiran Sang kaisar.
Imam Ahmad ibnu Hanbal pernah dipukul dan dipaksa untuk menerima pendapat tentang kemakhlukan Al-Quran. Beliau memilih dipukul dan dipenjara daripada mengatakan sesuatu yang booleh menyesatkan umat Islam. Perasaan bertanggungjawab seperti itulah yang diperlukan untuk menjadi seorang negarawan.
Hilangnya negarawan pada hari ini
Pada saat ini, umat Islam dilanda berbagai macam penyakit, termasuk ketiadaan sosok negarawan. Di sisi lain, muncul para penguasa dan pemimpin rakyat, tetapi tidak satu pun di antara mereka mempunyai sikap-sikap kenegarawanan. Mereka tidak mampu memikirkan, merencanakan, dan melaksanakan urusan-urusan umat.
Sebaliknya, mereka menyerahkan urusan dan kepentingan umat kepada negara-negara adidaya. Bahkan, mereka membiarkan negara-negara adidaya tersebut menguasai berbagai sumber alam negeri-negeri kaum muslim. Para penguasa tersebut ibarat ejen-ejen dan kaki tangan negara-negara adidaya. Dalam situasi ini, negara-negara adidaya mula menyebarluaskan pemikiran-pemikiran kapitalisme, komunisme, patriotisme, dan nasionalisme, serta asas manfaat sebagai landasan hubungan antara mereka.
Sebagai akibatnya, timbul berbagai kebingungan dan kekacauan, punah keaslian dalam pemikiran dan pemerintahan, serta merajalelanya pemikiran dan pemerintahan imitasi yang lemah dan tidak mampu mengurus seluruh kepentingan umat.
Kejadian ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sekalipun apabila mereka memasuki lubang biawak, maka kalian akan mengikutinya, sekalipun apabila mereka menyetubuhi isteri-isteri mereka di jalan, kamu pun akan mengerjakannya.” (HR Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri).
Para penguasa, sebagaimana kebanyakan orang lainnya, tidak lagi menyandarkan pemikiran, perilaku, dan solusi mereka pada akidah Islam. Mereka telah menganut pemikiran-pemikiran Barat dan mengikuti aturan pemerintahan dari negara-negara adidaya. Mereka menganggap Book of The Prince sebagai “kitab suci” mereka dan Machiavelli sebagai anutan mereka.
Mereka mengulang-ulang pemikiran yang mereka anuti, tanpa memahami bahawa pemikiran tersebut mungkin sesuai untuk masyarakat kapitalis atau komunis, tetapi tidak akan sesuai untuk umat Islam.
Mereka sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Akan datang kepada kalian tahun-tahun penuh tipu daya. Orang-orang akan mempercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran. Mereka mempercayai para pengkhianat dan tidak mempercayai para pembawa kebenaran. Pada masa itu, ruwaibidhah akan berbicara. Mereka bertanya, ‘Lalu, apa itu ruwaibidhah?’ Rasulullah saw. berkata, ‘Ruwaibidhah adalah orang-orang bodoh, (yang berbicara) tentang urusan umat.’” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra.).
Sumber: Syeikh Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, Upaya Membumikan Politik Sebagai Mainstream Gerakan.
*Sub topik oleh editor

