Site icon MuslimahHTM News

Bahaya Dialog antara Agama

Bahaya Dialog antara Agama

Oleh: Ustaz Yuana Ryan Tresna

 

Idea dialog antara agama ini mula muncul secara internasional pada tahun 1932 ketika Perancis mengutus delegasinya untuk berunding dengan tokok-tokoh ulama Al-Azhar (Kaherah) mengenai idea penyatuan tiga agama; Islam, Kristian dan Yahudi. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan Persidangan Paris tahun 1933 yang dihadiri oleh para orientalis dan misionaris dari berbagai universiti di Britain, Swiss, Amerika, Itali, Poland, Sepanyol, Turki, dan lain-lain. Persidangan Agama-agama Sedunia tahun 1936 merupakan persidangan agama terakhir sebelum Perang Dunia II yang telah menyebabkan negara-negara Eropah sibuk untuk menyelenggarakan persidangan-persidangan serupa.

 

Pada tahun 1964, Paus Paulus VI menulis sebuah risalah yang menyerukan dialog antara agama. Kemudian pada tahun 1969 Vatikan menerbitkan sebuah buku yang bertajuk, “Alasan Dialog antara Kaum Muslim dan Kaum Kristian”.[1]

 

Dialog antara agama juga terjadi tahun 1958 di Tokyo dalam sebuah kongres yang diadakan oleh The International Association for The History of Religion.

 

Sepanjang tahun 70-an dan 80-an, telah diadakan lebih dari 13 pertemuan dan persidangan untuk dialog antara agama dan antara peradaban. Dari semua itu, yang paling menonjol adalah Persidangan Dunia II untuk Agama Islam di Belgium, yang dihadiri oleh 400 delegasi dari berbagai macam agama, dan Persidangan Cordoba di Sepanyol yang dihadiri oleh delegasi-delegasi Muslim dan Kristian dari 13 negara. Kedua persidangan ini diselenggarakan pada tahun 1974. Kemudian diselenggarakan pula Pertemuan Islam-Kristian di Carthage di Tunisia pada tahun 1979.

 

Pada dekad akhir abad 20, para penyeru dialog antara agama bergiat mengadakan Persidangan Dialog Eropah-Arab tahun 1993 di Jordan, yang disusuli dengan Persidangan Khartoum untuk Dialog Antara Agama tahun 1994. Pada tahun 1995 diadakan dua persidangan untuk dialog antara agama. Yang pertama di Stockholm dan yang kedua di Amman (Jordan). Kedua persidangan lalu disusuli dengan Persidangan Islam dan Eropah di Universiti Alul Bait (Jordan) tahun 1996.[2]

 

Di Indonesia, pada tahun 2004, 2006 dan 2008, Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) telah menganjurkan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) sebanyak tiga kali dengan tema, ”Up Holding Islam as Rahmatan Lil-’Alamin, Peace Building and Conflict Prevention the Muslim World”. Pada tahun 2022 diadakan Forum Agama G20 atau Religion of Twenty (R20) dengan tema, “Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: A Global Movement for Shared Moral and Spiritual Values.”

 

R20 didakwa merupakan ruang bagi para pemimpin agama dan mazhab dunia untuk membangun dialog dan menyampaikan gagasan terkait sumbangan agama bagi menciptakan solusi bagi permasalahan global.[3]

 

Sejarah dialog antara agama tidak terlepas daripada semangat pluralisme agama dan dalam kerangka penjajahan. Semua agama diposisikan sama. Tidak boleh ada dakwaan kebenaran sepihak. Tidak boleh ada dominasi peraturan daripada agama tertentu. Pada akhirnya semua perlu tunduk pada solusi-solusi peradaban Barat dalam menyelesaikan permasalah kehidupan. Lalu mereka berbicara hal yang bersifat praktikal dalam dialog antara agama.

 

Jadi, apa yang dibicarakan Cornille (2008) dalam kekhuatirannya terlalu teknikal. Tidak menyentuh idea dasar. Beliau berbicara tentang prasyarat untuk mempraktikkan dialog antara agama, iaitu: ada kerendahan hati (humility), keyakinan (conviction), perhubungan (interconnection), empati (empathy), dan kemurahan hati (generosity).[4]

 

Kesalahan Mendasar

 

Kekeliruan konseptual gagasan dialog antara agama dapat dilihat dari beberapa sudut pandang.

 

Pertama: Prinsip persamaan semua agama. Dialog antara agama didasarkan pada persamaan antara keyakinan, agama dan peradaban tanpa adanya keyakinan, agama atau peradaban yang lebih unggul atau lebih baik daripada yang lain. Kemudian, diharapkan dapat terwujud suatu peradaban alternatif dengan mencari titik temu antara agama. Dalam dialog tersebut tidak boleh menyanggah dan membuktikan kesalahan dari agama lain.

 

Pada saat yang sama, peradaban Barat tetap memandang Islam sebagai musuh. Dalam bukunya, The End of History, pemikir Amerika Francis Fukuyama menyatakan, “Sistem Kapitalisme adalah bapa pangakhiran yang abadi bagi umat manusia di bumi. Akan tetapi, Islam, meskipun dalam keadaan lemah dan tercerai-berai, sesungguhnya sedang mengancam agama baru yang menang ini (iaitu, Kapitalisme).”[5]

 

Para pemikir orientalis seperti Bernard Lewis menyatakan pandangannya tentang Islam dan Kapitalisme, bahawa keduanya bertentangan satu sama lain.

 

Samuel P. Huntington, profesor ilmu-ilmu politik di Universiti Harvard Amerika, juga mengatakan, “Sesungguhnya pertentangan antara peradaban nanti akan mendominasi politik luar negeri. Batas-batas pemisah antara peradaban di masa depan nanti akan menjadi batas-batas konflik antara peradaban.”[6]

 

Kedua: Dakwaan tidak ada kebenaran mutlak. Mereka memandang perlunya upaya mencari kebenaran yang perlu dipandang relatif sehingga tidak boleh seorang pun mendakwa telah memonopoli kebenaran. Dengan ungkapan seperti itu, mereka bermaksud membangun pola baru hubungan antara umat beragama, dari yang eksklusif (yang mengakui kebenaran agamanya sendiri) menjadi inklusif atau bahkan pluralis. Dengan itulah, kata mereka, kerukunan umat beragama dapat diwujudkan. Sebab, tidak ada lagi dakwaan kebenaran yang bersifat mutlak (absolute truth claim) pada agama masing-masing. Bahkan oleh Charles Kimball, melalui bukunya, When Religion Becomes Evil, absolute truth claim adalah ciri pertama yang jahat (evil) dari agama.[7]

 

Pandangan itu tidak benar. Sebelum kerukunan tercapai, kekurangan keyakinan/keimanan pada masing-masing pemeluk agama sudah terjadi. Ketika itu pula sebenarnya tidak perlu ada dialog antara pemeluk agama lagi. Sebab, mereka semua sudah melepaskan imannya masing-masing. Teologinya sudah menjadi satu. Universal theology of religion. Hasil dari penyebaran fahaman adalah ketidakyakinan atau keraguan umat beragama terhadap kebenaran agamanya sendiri. Inilah akar dari pemikiran pluralisme agama yang mengakui kebenaran relatif dari semua agama.[8]

 

Ketiga: Tuduhan agama sebagai sumber konflik. Terdapat dua motif dalam tuduhan ini; justifikasi dialog antara agama demi terciptanya perdamaian dan pengaburan sumber konflik yang sebenarnya. Faktanya, imperialisme negara-negara Baratlah yang telah melahirkan konflik dan kerosakan di dunia Islam. Bahkan konflik tersebut sengaja dipelihara agar umat Islam dalam keadaan lemah. Di pihak lain, Barat tidak jujur dengan propagandanya sendiri. Sesungguhnya pihak Barat, yang menyerukan dialog dengan kaum Muslim dan memimpin berbagai persidangan dialog antara agama itu, memandang Islam dengan pandangan permusuhan. Pandangan inilah yang menjadi motif antara agama, yang dijadikan dasar untuk mengawal dan mengatur kegiatan tersebut. Bagaimana umat Islam perlu tunduk pada nilai-nilai Barat seperti hak asasi manusia dan Demokrasi.

 

Motif Utama

 

Motif sebenar daripada gagasan dialog antara agama adalah:

 

Pertama, melemahkan ajaran Islam. Mereka berusaha untuk membentuk keperibadian Muslim dengan format keperibadian yang baru, yakni peribadi yang tidak akan merasa bersalah ketika meninggalkan kewajipan dan melakukan keharaman. Mereka juga berusaha merosakkan perasaan islami pada seorang Muslim dan membunuh semangat (ghirah) Islam yang ada dalam jiwanya. Akibatnya, Muslim tersebut tidak mampu lagi membenci kekufuran serta tidak mahu melakukan amar makruf nahi mungkar. Hal ini kerana, kebencian terhadap kekufuran dan kemungkaran dianggap bertentangan dengan prinsip dialog antara agama.

 

Beberapa rekomendasi dalam dialog antara agama di antaranya adalah:

 

  1. Mencari istilah lain dan makna baru untuk kata “kufur”, “syirik”, “iman”, “Islam”, dll sedemikian rupa agar kata-kata itu tidak menjadi faktor pemecah-belah di antara penganut agama;
  2. Mencari titik-temu dari ketiga-tiga agama (Islam, Kristian dan Yahudi), yang meliputi aspek akidah, akhlak dan budaya;
  3. Membuat piagam bersama hak-hak asasi manusia, untuk memantapkan perdamaian;
  4. Melakukan rekonstruksi sejarah dan kurikulum pendidikan agar jauh dari hal-hal yang dapat membangkitkan kebencian;
  5. Melakukan pembahasan tema-tema tertentu seperti “keadilan”, “hak asasi manusia”, “demokrasi”, “pluralisme”, “kebebasan”, “perdamaian dunia”, “keterbukaan peradaban”, “masyarakat madani” (civil society), dll.[9]

 

Jika berbagai pernyataan di atas dikaitkan dengan berbagai aksi permusuhan yang dilakukan oleh Barat untuk melawan Islam dan umatnya, seperti isu perang melawan terorisme, nescaya kita akan dapat memahami bahawa sasaran sebenarnya daripada dialog antara agama yang digagas oleh Barat adalah kaum Muslim.

 

Kedua, melestarikan penjajahan. Sesungguhnya sasaran lain yang hendak diwujudkan oleh negara Barat dari dialog antara agama dan antara peradaban itu adalah melestarikan penjajahan dan menghalang kembalinya Islam ke dalam realiti kehidupan sebagai suatu sistem kehidupan yang menyeluruh. Islam dianggap akan mengancam kelestarian ideologi dan peradaban mereka serta akan dapat memusnahkan segala kepentingan dan dominasi mereka.

 

Sasaran ini diupayakan dengan melemahkan kepercayaan kaum Muslim terhadap tsaqâfah Islamiyyah beserta sumber-sumber dan asas-asasnya. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan Islam dari medan pertarungan peradaban dengan mengosongkan Islam daripada ciri-ciri khas terpenting yang membezakannya dari agama-agama lainnya.

 

Gagasan Utopia dan Batil

 

Dialog antara agama adalah konsep utopia yang tidak boleh diwujudkan. Hal itu dilihat dari dua sisi:

 

Pertama, tidak ada titik temu antara hak dan batil, kecuali pasti sebuah kebatilan. Dialog antara agama yang sebenarnya bermaksud untuk menciptakan “agama baru” bagi kaum Muslim yang didasarkan pada akidah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Padahal akidah ini menetapkan bahawa membuat hukum adalah hak manusia, bukan hak Allah SWT Yang telah menciptakan manusia.[10]

 

Allah SWT jauh-jauh hari telah memberikan peringatan kepada kaum Muslim dalam firman-Nya:

 

وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ إِنِ ٱسۡتَطَٰعُواْۚ ٢١٧

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) seandainya mereka mampu.” (TMQ al-Baqarah [2]: 217).

 

Allah SWT juga berfirman:

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ ١٢٠

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (TMQ al-Baqarah [2]: 120).

 

Disebabkan peradaban Islam berasaskan akidah Islam, sementara peradaban kapitalisme berasaskan akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), maka titik temu di antara keduanya hakikatnya tak mungkin ada, kecuali kekalahan salah satunya.

 

Jadi, maksud dialog antara agama yang dipimpin oleh Barat adalah agar kaum Muslim melepaskan persepsi-persepsi Islam untuk kemudian digantikan dengan persepsi-persepsi kapitalisme. Sebab, Barat telah memahami bahawa kompromi antara dua ideologi yang kontradiktif adalah suatu yang mustahil.

 

Dialog antara agama dan antara peradaban untuk mencari titik temu di antara agama atau peradaban adalah utopia. Justeru yang perlu ada adalah pertarungan pemikiran (al-shira’ al-fikr) di antara berbagai agama dan peradaban. Dengan itu dapat diketahui mana yang hak mana yang batil, mana yang mulia mana yang hina, dan mana yang baik mana yang buruk.

 

Kedua, kesatuan agama-agama adalah gagasan yang batil. Semua argumentasi yang mengarah pada kesatuan agama-agama bertujuan untuk memperkukuhkan perundangan terkait dialog antara tiga agama. Anggapan dasarnya, agama samawi yang tiga itu bersumber daripada Nabi yang sama, iaitu Nabi Ibrahim As. Narasi membentuk agama “Ibrahimiah adalah usulan yang semestinya tertolak secara keyakinan.

 

Kata “aslama” dalam al-Quran di antara makna bahasanya adalah “inqada” (tunduk, patuh, berserah diri). Al-Quran telah menggunakan makna bahasa ini dalam kisah para nabi dan pemberian sifat para nabi itu sebagai orang-orang yang tunduk patuh pada perintah Allah SWT.[11]

 

Dengan demikian jelas bahawa kata “muslimun” yang terdapat dalam berbagai ayat tersebut maknanya adalah “munqadun” (orang-orang yang patuh, tunduk, berserah diri).[12]

 

Ertinya, bukan bererti mereka itu memeluk agama yang satu, iaitu Islam yang diturunkan kepada Muhammad saw. Sebabnya, Islam belum dikenal oleh mereka. Mereka pun memang belum diperintahkan untuk memeluk Islam. Setiap kaum dari mereka mempunyai seorang rasul yang khusus bagi mereka. Setiap rasul itu menyeru mereka kepada syariah (aturan) yang khusus (Lihat: QS al-Maidah [5]: 48).

 

Di antara kata-kata yang telah dipindahkan maknanya pada makna syarie adalah kata “Islam”. Makna bahasanya adalah “inqiyâd”. Makna syarienya adalah agama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad SAW. Makna ini, misalnya, terdapat dalam firman Allah SWT yang ditujukan untuk semua manusia sampai Hari Kiamat (Lihat: QS al-Maidah [5]: 3; QS Ali Imran [3]: 85).

 

Adapun pendapat yang mengatakan bahawa Nabi Muhammad, Isa dan Musa telah mengikuti agama Ibrahim, maksudnya adalah mereka itu mengimani akidah yang sama, yang merupakan dasar (pokok) dari setiap agama yang berasal dari sisi Allah. Inilah yang dimaksud oleh firman Allah SWT dalam surah asy-Syura ayat 13.

 

Jadi, agama yang terdapat dalam ayat di atas adalah dasar/pokok agama (ashl ad-dîn), yakni akidah. Akan tetapi, syariah mereka tidak sama, kerana ayat tersebut telah di-takhshîsh (dikhususkan) oleh firman Allah SWT dalam surah al-Maidah ayat 48.

 

Penutup

 

Dengan demikian jelaslah bahawa konsep dialog antara agama dibangun di atas landasan yang rapuh, motif yang buruk, serta merupakan gagasan utopia dan batil. Umat Islam tidak boleh terjebak rayuan dan janji manisnya. Tujuan yang mereka kempenkan untuk menciptakan perdamaian dunia tidak akan terwujud jika mereka sendiri diam atas penjajahan dan kerosakan yang diakibatkan keserakahan negara-negara kapitalis. Jika hendak membangun sebuah dialog dan perdebatan antara agama yang sepadan, seharusnya dibangun di atas landasan keyakinan pada kesempurnaan din Islam, terbuka untuk membuktikan kesalahan agama lain, tidak tunduk pada senario penjajahan negara Barat, dan selanjutnya baru membina harmoni dalam pergaulan antara umat beragama.

 

 

Catatan kaki:

[1]        Lihat Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khatirah li Dharb al-Islam wa Tarkiz al-Hadharah al-Gharbiyyah, (Beirut: Hizb al-Tahrir, 1998), hlm. 7.

[2]        Lihat Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khatirah, hlm. 7.

[3]        Lihat https://www.liputan6.com/islami/read/5115856/ketum-pbnu-gus-yahya-terima-2-penghargaan-atas-inisiasi-nu-helat-r20, Diakses tanggal 7 November 2022.

[4]        Lihat Catherine Cornille, The Im-possibility of Interreligious Dialogue (New York: Crossroad Publishing Company, 2008), hlm. 20.

[5]        Lihat Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (New York: The Free Press, 1992), hlm. 101.

[6]        Lihat Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (New York: Simon & Schuster, 1996); Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khatirah, hlm. 9.

[7]        Lihat Charles Kimball, When Religion Becomes Evil (New York: Harper Collins, 2002), hlm. 54.

[8]        Lihat Adian Husaini, Jangan Ikuti yang Ragu-ragu, https://adianhusaini.id/detailpost/jangan-ikuti-paham-ragu-ragu, diakses tanggal 7 November 2022.

[9]        Lihat Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khatirah, hlm. 7-8.

[10]      Lihat Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khatirah, hlm. 10.

[11]      Lihat QS. Yunus: 72, QS. Al-Baqarah: 128, al-Dzariyat: 36, QS. Yunus: 84, dan QS. Ali Imran: 52.

[12]      Lihat Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khatirah, hlm. 11.

 

 

Sumber: Alwaie

Exit mobile version