[Hadits Shiyam] Mengemban Dakwah (Bahagian 2/4)
Sedangkan mengemban dakwah kepada kaum muslim untuk melangsungkan (kembali) kehidupan Islam, mengembalikan kekuasaan kaum muslim serta memenangkan Islam atas agama lainnya sekalipun orang-orang kafir membencinya, maka persoalan ini amat berbeza (dengan dakwah mengajak untuk memeluk Islam). Sebabnya, masalahnya merupakan dakwah kepada kaum muslim. Dakwah untuk mewujudkan Islam di tengah kancah kehidupan, bukan dakwah mengajak orang untuk memeluk Islam. Ini merupakan dakwah yang banyak diperdebatkan orang saat ini. Pemahaman mereka amat buruk dan dalam hal ini banyak yang tersesat, kecuali orang-orang yang memang memperoleh rahmat Allah Taala.
Dakwah kaum muslim untuk mengajak kepada Islam, yang paling menonjol penampakannya dan banyak dilakukan orang ada tiga jenis:
Pertama, dakwah ilal khair (dakwah mengajak kepada kebaikan). Dakwah dengan model seperti ini banyak dilakukan, baik di kota mahupun di desa hingga tidak satu pun desa yang tidak terjamah dengan dakwah model ini. Berbagai aspek telah terpenuhi dengan dakwah ini hingga pintu kebajikan menyelimutinya.
Alhasil, muncullah banyak institusinya, seperti organisasi sosial yang memfokuskan kegiatannya dengan membangun klinik, sekolah-sekolah, serta perguruan-perguruan atau institusi pendidikan agama (pesantren). Ada juga organisasi pemelihara (penghafal) Al-Quran, jemaah pengajaran bacaan Al-Quran, Islamic Centre dengan berbagai aktivitinya, hingga organisasi olahraga dan pengakap/kepanduan. Tidak ketinggalan ada juga jemaah akhlaqiyah yang menyeru kembali kepada khazanah ilmu-ilmu Islam terdahulu, jemaah dakwah yang terikat dengan tatacara beribadah, tarekat-tarekat para sheikh dan sufi, serta organisasi-organisasi wakaf dengan berbagai aktivitinya.
Semua organisasi atau jemaah tersebut mengajak kepada Islam. Mereka berpandangan bahawa kembalinya Islam di tengah kehidupan ini dapat dilakukan melalui cara seperti di atas. Boleh jadi pendapat ini muncul kerana kebodohan, niat buruk mereka, atau kerana ketidakberdayaannya melalui jalan yang benar.
Mereka tidak menyedari bahawa aktivitinya telah menjadi batu penghalang besar di tengah jalan untuk mengembalikan Islam dalam kancah kehidupan ini. Dengan aktiviti yang mereka lakukan itu, sebenarnya mereka telah melumpuhkan potensi umat. Jumlah organisasi yang terdaftar secara rasmi di Lubnan saja mencapai 1200 organisasi sosial keislaman.
Kedua, dakwah amar makruf dan nahi mungkar. Aspek ini banyak dilakukan oleh jemaah-jemaah dan berbagai organisasi, tetapi umumnya sebatas aktiviti individu. Dalam hal ini, metode yang ditempuh adalah dengan nasihat dan petunjuk saja.
Ketiga, dakwah melangsungkan kembali kehidupan Islam dengan menegakkan negara Islam, iaitu mengembalikan kekhilafahan dan kekuasaan kaum muslim.
Dakwah inilah yang masih kabur atau samar sehingga sebahagian besar jemaah mahupun parti mulai menempuh berbagai metode untuk meraih tujuannya. Terkadang mereka melalui jalan yang benar atau berkali-kali menempuh jalan yang rumit dan kacau.
Daripada kelompok-kelompok (jemaah) ini terdapat orang yang menyedari ideanya, mengetahui jalannya, serta membataskan tujuannya. Namun, di antara mereka ada juga yang tidak menyedarinya. Di sinilah, orang-orang yang mempunyai tujuan tadi tetap terkandas. Oleh kerana itu, (hal ini) perlu didalami dan diperincikan.
Sekalipun semuanya menerima kewajipan berdakwah serta melakukanya, kami berpendapat tetap perlu difahami dalil-dalil tentang kewajipan mengemban dakwah untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam tersebut. Dengan pemahaman yang dapat mendarah daging mengenai hukum-hukum ini akan mampu mendorong kita untuk berkorban demi meraih cita-cita tersebut. Kita pun akan mengikatkan antara aktiviti dengan akidah kita sehingga senantiasa hidup dalam suasana penuh keimanan.
Ini yang memungkinkan kita mampu mengatasi halangan-halangan dalam dakwah, serta melakukan kewajipan dakwah secara terus-menerus.
Pertama, dalil-dalil yang mewajibkan mengemban dakwah Islam yang kami paparkan di awal pembahasan ini adalah dalil-dalil yang mewajibkan mengemban Islam dan dakwah secara umum.
Kedua, firman Allah SWT., “Hendaklah ada di antara kalian, sekelompok umat yang mengajak kepada kebajikan, serta memerintah kepada kemakrufan dan mencegah dari kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (TMQ Ali Imran: 104).
Ayat ini menjadi dasar kewajipan bagi kaum muslim (dalam naungan negara) agar terdapat jemaah yang melakukan dua bentuk aktiviti, yakni dakwah kepada Islam dan beramar makruf nahi mungkar. Dengan kata lain diwajibkan kepada kaum muslim agar di antara mereka terdapat jemaah yang mengajak kepada Islam, serta membetulkan (memuhasabah) penguasa. Hanya saja hal ini tidak terhad ketika negara Islam sudah ada, tetapi kewajipan ini tetap ada berdasarkan keumuman ayat tersebut yang mencakupi setiap waktu dan tempat, baik ketika kaum muslim mempunyai negara mahupun tidak.
Ketiga, dalil-dali amar makruf dan nahi mungkar sekalipun mutlak untuk setiap aktiviti makruf dan mungkar, tetapi masalah terpenting yang menuntut dilaksanakannya amar makruf nahi mungkar adalah memuhasabah penguasa. Banyak nas yang memusatkan perhatiannya pada aspek ini, seperti sabda Nabi SAW, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Rasul-Nya, serta bagi pemimpin kaum muslim dan kaum muslim secara keseluruhan.”
Begitu pula sabda Rasulullah SAW, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah serta seorang yang berdiri di hadapan penguasa zalim dan menasihatinya, kemudian dia dibunuhnya.”
Rasulullah SAW, juga bersabda, “Hendaklah benar-benar kamu menyerukan kepada amar makruf dan mencegah kemungkaran atau Allah akan membangkitkan atas kalian orang yang tidak punya rasa kasih sayang kepada kalian, kemudian orang-orang terbaik di antara kalian berdoa, tetapi (doa) mereka tidak dikabulkan.”
Kita juga melihat nas-nas tersebut bersifat mutlak bagi setiap penguasa muslim, bukan saja bagi khalifah kaum muslim. Di dalam Al-Quran juga terdapat banyak pujian bagi orang-orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar dalam berbagai keadaan, antara lain firman Allah SWT., “Mereka menyeru pada kemakrufan serta mencegah kemungkaran dan mereka menegakkan solat.” (TMQ At Taubah: 71).
“Orang-orang yang memerintah kepada kemakrufan serta menolak kemungkaran dan menjaga hukum-hukum Allah.” (TMQ At Taubah: 112).
“Dan mereka menyerukan kepada kemakrufan, serta mencegah dari kemungkaran.” (TMQ Al Haj: 41).
Kewajipan amar makruf nahi mungkar jelas berlaku dalam setiap situasi dan keadaan. Hal terpenting daripada amar makruf nahi mungkar adalah memuhasabah penguasa, serta memberi nasihat kepada mereka di mana pun mereka berada.
Keempat, kewajipan dalam masalah ini muncul dari kaedah syarak, “Suatu kewajipan yang tidak (akan) sempurna melainkan dengan (melaksanakan) sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula (hukumnya).”
Sesungguhnya kaum muslim telah diseru dengan hukum-hukum (Islam) secara umum. Mereka diseru untuk menegakkan hukum-hukum Allah, sebagaiman firman-Nya, “Pencuri (lelaki) dan pencuri (wanita), potonglah tangan keduanya.” (TMQ Al Maidah: 38).
Mereka juga diseru untuk mengemban dakwah dengan cara jihad, sebagaimana firman Allah SWT., “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekeliling kalian. Dan hendaklah mereka menemukan kekerasan darimu.” (TMQ At Taubah: 123).
Mereka juga diseru untuk mengurus persoalan (umat), sebagaimana firman Allah SWT., “Nabi (hendaknya lebih mulia) bagi seorang mukmin dari diri mereka sendiri.” (TMQ Al Ahzab: 6).
Sebagai kiasan bagi ketua negara, mereka juga diseru untuk menjaga daerah perbatasan. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka adalah… serta mata yang berjaga untuk menjaga (perbatasan) di jalan Allah.”
Empat persoalan inilah yang diserukan kepada seluruh kaum muslim. Pada hakikatnya tidak seorang pun di antara mereka berhak untuk melaksanakannya. Malah sebahagian dari perkara itu pun tidak boleh dilaksanakan oleh individu. Yang penting bagi mereka adalah mengangkat orang yang menjadi wakil untuk melaksanakan persoalan-persoalan tadi, iaitu seorang khalifah (ketua negara kaum muslim).
Persoalan ini adalah wajib dan tidak mungkin dilaksanakan selain oleh khalifah, maka keberadaan khalifah menjadi wajib. Usaha mewujudkan khalifah pun menjadi wajib berdasarkan kaedah syarak yang menyatakan, “Suatu kewajipan tidak akan sempurna melainkan dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya.”
[Bersambung]
Sumber: Hadits Shiyam

