[Nafsiyah] HAKIKAT TEMAN SEJATI
Penulis : Arief B. Iskandar
SAAT maut menjemput dan manusia dengan sukarela atau terpaksa pergi meninggalkan dunia ini, hakikatnya hanya tiga perkara yang akan mengiringi perjalanan mereka : (1) keluarganya; (2) hartanya; dan (3) amalnya.
Keluarganya hanya akan menghantar jasadnya hingga ke pinggir kubur. Mereka tidak mungkin menemaninya hingga ke dalam liang lahad.
Harta benda seperti rumah, apartmen, tanah yang luas, kebun yang indah, perusahaan yang banyak dan harta tidak bergerak lain—bahkan sejak awal tak mungkin ikut mengiringi dia. Harta yang boleh mengiringi sekaligus menemani dia hanyalah kain kafan yang membalut tubuh, dan itu pun hanya sampai ke dalam kubur.
Di saat-saat itu, amal soleh menjadi satu-satunya teman sejati yang akan tetap bersama, mengiringi hingga berjumpa dengan Allah SWT. Malah, amalan soleh bukan sekadar teman, tetapi turut menjadi pembela setia di Mahkamah Akhirat. Dalam pengadilan yang maha dahsyat itu, keluarganya termasuk isteri atau suami tidak mampu membela, apatah lagi menolong. Bahkan, mereka mungkin memudaratkan diri kita melainkan anak-anak yang soleh/solehah. Bagaimana pula dengan harta? Harta tidak mungkin membela dan menolong dirinya. Sebaliknya, ia berpotensi menjadi beban berat di hadapan Allah SWT, kecuali harta yang pernah disedekahkan, dihadiahkan atau diwakafkan ke jalan Allah SWT.
Jika amal soleh merupakan satu-satunya teman sejati, mengapa ramai manusia lebih sibuk mencari dan menimbun kekayaan, mengejar pangkat dan berusaha mencapai kejayaan duniawi yang fana?Sebaliknya, mereka alpa untuk memperbanyakkan amal soleh, mengejar pahala/syurga dan mendambakan kejayaan ukhrawi yang abadi.
Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Tuhanku pernah menawarkan kepada aku untuk menjadikan bukit-bukit di Mekah sebagai emas. Namun, aku menadahkan tangan kepadaNya, sambil berkata, ’Ya Allah, aku lebih suka sehari kenyang dan sehari lapar agar aku dapat mengingatiMu saat lapar serta memujimuMu dan bersyukur kepadaMu saat kenyang.’”[HR at-Tirmidzi].
Bagaimana dengan kita?
Wa maa tawfiiqii illaa billaahi ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

