Site icon MuslimahHTM News

Pembukaan Dayeuh Pakuan untuk Islam – Bahagian 8

[TARIKH] Pembukaan Dayeuh Pakuan untuk Islam (Sejarah Awal Islam di Bogor, Indonesia Sebelum Era Kolonial, Circa 1480–1680) (Bahagian Kelapan)

 

Anaknya kini meneruskan kepemimpinan Dâr al-Islâm Banten: Maulana Yusuf. Pada awal masa pemerintahannya Maulana Yusuf lebih memberi perhatian dalam memperkuat kekuatan internal negaranya di Banten. Sajarah Banten mengenang Maulana Yusuf sebagai penguasa yang “membangun kota benteng dari batu bata dan karang” (gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis) di pusat ibu kota Banten. Kerja pembangunannya yang lain adalah membuka pemukiman penduduk, mengumpulkan persenjataan besar, membangun sawah ladang, sistem irigasi (pengairan), dan bendungan (permatang untuk menahan air, supaya dapat disalurkan kea rah lain).[1]

 

Meski demikian, beliau tetap menyelesaikan apa yang telah dimulai ayahnya dan diamanatkan datuknya. Walau sudah sangat melemah, ibu kota Pajajaran di Pakuan belum kunjung dibebaskan. Maka dari itu, sebagai pukulan terakhir, Maulana Yusuf mempersiapkan angkatan bersenjata sekali lagi untuk memenuhi wasiat Sunan Gunung Djati dan usaha Panembahan Hasanuddin sebelumnya: futûhât (pembukaan) penuh Kota Pakuan.

 

Pemberangkatan pasukan dari Banten Lama dilakukan pada 1 Muharram tahun Alip, dengan sangkala (angka tahun yang disusun dalam kata-kata Jawa bernilai angka) bumi rusake iki, dinilai Djajadiningrat sebagai tahun 1579 Masihi,[2] alias Muharram 987 Hijrah.

 

Pasukan Islam berjalan terus dipimpin Maulana Judah. Beliau sentiasa menyemangati tentera Banten dengan meneriakkan, “Hayyâ bismilLâh!” Beliau juga terus melafazkan doa, “BismilLâhi’r-Rahmâni’r-Rahîm lâ hawlâ wa lâ quwwata illâ bilLâh al-‘aliyy’il-‘azhîm.” Setelah itu menegaskan makna doanya, “Itulah niatnya orang yang hendak SabîlulLâh Ta’âlâ.[3]

 

Rombongan pasukan berhenti di sebuah tempat yang disebut “Parungsiaji” (Parung?). Di sana, mereka mendirikan pesanggrahan (tempat beristirehat, markas pasukan). Setelah itu Maulna Yusuf mengadakan perjumpaan tentera di sana sebelum menyerang Pakuan.

 

Ki Jong Jo, mualaf Sunda yang menjadi teman setia Almarhum Maulana Hasanuddin memulai pembicaraan. Menurut redaksi Hikayat Hasanuddin, dia berkata, “Tuanku, patik pinta biar patik amuk (serang) dan patik bawa rakyat (seramai) lima ratus, dan nanti patik masuk mengamuk (menyerang) dari dalam, serta patik bakar waktu tengah malam.”

 

“Dari mana jalan yang boleh masuk?” Tanya Maulana Yusuf.

 

“Dari pintu sebelah kidul (selatan),” jawab Ki Jong Jo, “kerana yang menunggu pintu sebelah kidul itu saudara patik.”

 

Sajarah Banten menerangkan bahawa saudara Ki Jong Jo yang masih mengabdi ke Pajajaran menyimpan dendam kepada Nusiya Mulya kerana isu jawatan. Ki Jong Jo bermaksud memanfaatkan konflik internal itu untuk membuka gerbang benteng Pakuan secara diam-diam, kemudian membuat serangan mengejut di tengah malam dengan 500 orang pasukannya.

 

“Sebagai … (tambahan) Tuanku, apakala jaya perang kita ini, patik minta ra’yat patik supaya bolehlah kiranya Tuanku merdahekaken padanya,” pinta Ki Jong Jo sopan. Dia mengharapkan bahawa futûhât Islam yang diagendakan Banten benar-benar akan membawa pembebasan sejati bagi masyarakat Pakuan.

 

“Insyâ’ AlLâhu Ta’âlâ.” Demikian Maulana Yûsuf menjamin permintaan tersebut.[4]

 

Bagi mengetahui kisah perjalanan peperangannya, mari kita semak penuturan yang diriwayatkan Sandimaya dalam Sajarah Banten:

 

Maka tersebutlah, sekarang sudah tengah malam. Maka Ki Jong Jo memberi arahan untuk menyerbu kota (ketika) di waktu tengah malam. Gempar orang yang berada di dalam kota kerana tidak diketahui masuknya Ki Jong Jo yang berniat untuk menyerang bersama pembantunya (yang berjumlah) lima ratus orang tadi. Ramai orang yang berperang saling merobohkan, mereka saling mempertahan nyawa, yang cepat (menyelamatkan diri) ke hutan, yang terkejar (pasti) mati. Tersebutlah rajanya, Sang Prabu Seda (Nusiya Mulya) dan Pucukumun (?), (dan) Prabu Alengleng Dang Kakaleng (?) itu, musnah tidak diketahui lagi. Kalau menurut ceritanya, mereka menjadi sanghyang (pramunggu, makhluk halus), hilangnya tidak diketahui.[5]

 

Maulana Yusuf sangat terbantu dengan strategi serangan mengejut Ki Jong Jo pada tengah malam yang gelap gelita. Setelah Ki Jong Jo membuat gempar di dalam benteng Pakuan, Ki Jong Jo membuka gerbang benteng dari dalam. Masuklah pasukan Maulana Yusuf dan Maulana Judah ke benteng Pakuan dalam serangan malam. Pertempuran terus berlangsung hingga subuh. Ketika matahari terbit, seisi kota sudah ditakluk oleh pasukan Islam. Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak yang tertancap selama ribuan tahun itu menyaksikan sejarah baru di kaki gunungnya: Bendera Islam berkibar diiringi sinaran teduh mentari pagi di Dayeuh Pakuan. Raja terakhir Pajajaran, Nusiya Mulya, yang menurut Sajarah Banten menghilang entah ke mana, dikhabarkan beliau pergi ke Pulosari dan cuba mendirikan kekuasaannya kembali. Danasasmita menduga Nusiya Mulya berkedudukan di Kaduhejo, Kecamatan Menes di lereng Gunung Pulosari.[6]

 

Namun usahanya sia-sia. Dia tidak diakui lagi sebagai raja dan meninggal seorang diri di tengah hutan.

 

Siyâsah Syar’iyyah Banten atas Bogor

 

Kita harus mengakui, sumber-sumber yang menjelaskan keadaan Pakuan (Bogor) di era Kesultanan Banten sangat kurang. Tidak sebanyak tuturan keadaannya pada Pakuan era Pajajaran atau Buitenzorg era kolonialisme Belanda. Zaman awal Islam di Bogor seolah “dihilangkan” begitu saja. Dari sini kita sedia maklum, banyak narasi yang melupakan pengaturan Islam Banten atas Kota Pakuan semenjak di-futûhât Maulana Yusuf rahimahulLâh. Dinarasikan, Pakuan seolah menjadi kota terlantar yang ditutupi hutan belukar setelah dibebaskan untuk Islam. Gerakan futûhât kota ini oleh Banten bahkan disalahfahami sebagai “gerakan penghancuran” Pakuan dengan niat “menjajah” dan “pembumihangusan” budaya Sunda yang bernilai (perlu dipelihara).[7]

 

Dari segi motifnya saja, banyak sekali narasi yang tidak benar-benar memahami niat perebutan Pakuan (Bogor) oleh pasukan Islam pimpinan Banten. Bagi penulis Carita Parahiyangan yang sedari awal memang berpihak kepada Padjadjaran, penyerangan Banten dianggap bencana: “Lalu datang perubahan. Budi tenggelam di dalam nafsu, datang bencana dari Islam.” (Tembey datang na prebeda. Bwana alit sumurup ring ganal, metu sang hara ti Selam).[8]

 

Sejarawan Barat yang cuba mentafsirkan kejadian ini juga gagal memahami motif Banten. Perhatikan tafsiran de Graaf dan Pigeaud: “Mungkin mereka merasa penyaluran hasil bumi ke kota pelabuhan, bagi usaha perdagangannya, terancam. Mungkin juga harapan untuk mendapat banyak rampasan perang merangsang semangat tempur mereka.”[9]

 

Sedangkan dua sejarawan Belanda ini juga menggunakan sumber-sumber pribumi untuk menyusun karya mereka. Namun, mereka enggan dan tidak tertarik untuk melampirkan ungkapan Islami dari sumber-sumber tesebut yang melatarbelakangi pembebasan Pakuan. Alih-alih mengungkap motif dakwah dan jihad, mereka malah menyerahkannya pada dunia “konspirasi” dan menebak ke maksud ekonomi nan kapitalistik.

 

Dikhabarkan dari Hikayat Hasanuddin, Maulana Judah selaku salah satu komandan pasukan Banten di samping Maulana Yusuf, tatkala memimpin perjalanan pasukan dari Banten ke Pakuan, sentiasa membaca doa yang diaminkan tenteranya. Setelah berdoa, Maulana Judah dengan tegas menyatakan: “Itulah niatnya orang yang hendak SabîlulLâh Ta’âlâ” (ikilah Sabilullah).[10] Atau dalam redaksi Sejarah Banten, “Kita (akan) berjihad akbar” (kita sabilulullah agung).[11]

 

Warga Banten sangat memahami apa makna “SabîlulLâh” yang sebenarnya adalah ringkasan dari Jihâd fî Sabîlillâh (Jihad di jalan Allah). Sandimaya, orang tua yang berpengalaman yang menuturkan seluruh isi naskhah Sejarah Banten kepada Sandisastra – penulis naskhah tersebut, “menuturkan tatacara Perang Sabil” (tutur parnataning sabil).

 

Merujuk pada zaman Nabi SAW, jihad itu hukumnya ada dua, “pardlu kipayah” (fardhu kifâyah, wajib secara bersama) dan “pardlu ngen” (fardhu ain, wajib secara individu). “Ertinya begini, dik” (tegese yayi mangkana), Sandimaya menjelaskan, “Jika ada orang kafir yang tinggal bersama (di suatu tempat), (itu) menjadi fardhu kifâyah. (Namun) jika orang kafir yang mendatangi, (menjadi) fardhu ain.” (lamon ana kang wong kapir, ing padha enggon sanunggal, dadya kipayah sireki, yen wong kapir tekani, dadi pardlu ngen punika).[12]

 

Pemahaman ini sangat sesuai dengan hukum jihad dalam fikh Islam, yang menerangkan “jihad ofensif” hukumnya fardhu kifâyah, sedangkan “jihad defensif” hukumnya fardhu ain.  [Bersambung]

 

 

 

Catatan Kaki:

 

[1]        Sajarah Banten, Pupuh Sinom (no. XXII) bait 3, 118. Dari Naskah G (LOr 7389) dalam Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, 288.

 

[2]        Sajarah Banten, Pupuh Kinanthi (no. XIX) bait 17, 113. Dari Naskah G (LOr 7389) dalam Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, 284; Hoesein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten, 145146.

 

[3]        Jan Edel (ed.), Hikajat Hasanoeddin, 52.

 

[4]        Ibid, 54; Sajarah Banten, Pupuh Durma (no. XXI) bait 5-7, 114. Dari Naskah G (LOr 7389) dalam Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, 285.

 

[5]        Sajarah Banten, Pupuh Durma (no. XXI) bait 9-11, 114-115. Dari Naskah G (LOr 7389) dalam Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, 285-286.

 

[6]        Saleh Danasasmita, Sejarah Bogor, 80.

 

[7]        Barangkali, yang pertama kali menyebarkan narasi ini adalah J. Faes, sejarawan Belanda yang mengarang buku Geschiedenis van Buitenzorg, ditulis tahun 1902. Secara “brutal” dan tanpa dasar, Faes mengungkapkan bahawa Banten “menghancurkan kerajaan (Pajajaran) dan penduduknya dibunuh atau diusir” (het geheel rijk verwoest en de bevolking vermoord of verdreven werd). Lihat: J. Faes, Geschiedenis van Buitenzorg, (Batavia: Albrecht & Co, 1902), 1. Dikutip dari Mumuh Muhzin Z., Kota Bogor: Studi Tentang Perkembangan Ekologi Kota Abad ke-19 sampai Abad ke-20, (Tesis: Universitas Gadjah Mada, 1994), 40.

 

[8]        Yoseph Iskandar, “Nilai Tradisional dan Sejarah Pakuan Pajajaran Menurut Naskah Kuna”, dalam Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran, 177.

 

[9]        H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, 208.

 

[10]      Jan Edel (ed.), Hikajat Hasanoeddin, 52-53.

 

[11]      Sajarah Banten, Pupuh Kinanthi (no. XIX) bait 15, 113. Dari Naskah G (LOr 7389) dalam Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, 283.

 

[12]      Ibid, Pupuh Sinom (no. LXVI) bait 3-4, 312-313. Ibid, 450.

Exit mobile version