Empat Kali Al-Quran Menerangkan Soal Rahim Ibu
Oleh: Habeeba Husain
Salah satu keajaiban ciptaan Allah adalah proses pembentukan bayi dalam rahim ibunya. Allah mengizinkan seluruh manusia terbentuk dari sebuah titisan kecil dalam tubuh wanita dengan suasana aman dan nyaman. Jujur saja, saya hampir tidak dapat memahami konsep ini — untuk berfikir bahawa itulah cara kita semua memulai [kehidupan]!
Al-Quran menyebutkan tentang rahim ibu di banyak ayat dalam surah-surahnya. Salah satu kata dalam bahasa Arab yang digunakan untuk rahim berasal dari kata “Rahm” – kata dasar yang sama dari salah satu nama Allah yang paling banyak disebutkan, Ar-Rahman. Nama khusus Allah ini sering didefinisikan sebagai Yang Maha Penyayang. Namun, Ar-Rahman jauh lebih bermakna belas kasih kepada para hamba-Nya. Dia mencintai mereka lebih dari seorang ibu yang merawat anaknya sendiri.
Rahmat-Nya kepada manusia tidaklah bersyarat, sebagaimana Dia menganugerahi kita kefasihan berbicara, buah-buahan, air, bumi, dan banyak lagi, yang disebutkan di dalam sebuah surah Al-Quran, yang juga bernama Ar-Rahman. Segala berkah ini adalah sesuatu yang manusia tidak dapat hidup tanpanya, dan sesuatu yang sudah tersedia. Cukup melalui Rahmat-Nya pada kita, Allah menyediakan semua itu. Demikian pula, bayi dalam kandungan mendapat segala yang ia perlukan untuk bertahan hidup dan memperoleh gizi tanpa melakukan apa pun.
Perkembangan seorang anak adalah hal ajaib yang dialami dalam tubuh wanita, dan semua itu dikendalikan oleh Allah. Dia tahu setiap perincian rumit dari proses itu dan Dialah satu-satunya yang menempatkan dan menopangnya.
Berikut ini empat ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang rahim ibu:
” Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi kepadaNya sesuatu pun yang ada di bumi dan juga yang ada di langit. Dia lah yang membentuk rupa kamu dalam rahim (ibu kamu) sebagaimana yang dikehendakiNya. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (TMQ Ali ‘Imran : 5-6)
Sepasang ayat di atas menegaskan tentang pengetahuan Allah yang menyeluruh dan keterlibatan langsung-Nya dalam pembentukan bayi dalam rahim. Saya menemukan betapa menariknya, bahkan sebagai ibu dari seorang anak, wanita itu tidak tahu seperti apa bayinya sebelum ia dilahirkan. Dia tidak tahu warna rambutnya, ukuran telinganya, atau bentuk jari kakinya. Dia boleh meneka, tentu saja, tetapi dia tidak akan benar-benar mengetahui ciri-ciri anaknya sendiri sebelum kelahirannya — tetapi Allah tahu, kerana tidak ada yang disembunyikan dari-Nya.
“Allah mengetahui akan apa yang dikandung oleh tiap-tiap ibu, dan mengetahui apa yang kurang dari yang dikandung dalam rahim itu atau yang lebih. Dan tiap-tiap sesuatu adalah ditetapkan di sisiNya dengan kadar yang tertentu.” (TMQ Ar-Ra’d : 8)
Di sini, sekali lagi, menunjukkan tentang pengetahuan Allah yang tinggi. Dia tahu jika seorang bayi akan selamat hingga akhir masa kandungan, dan setiap perincian berada di bawah kawalan-Nya. Bagi seseorang yang mengalami keguguran, ini dapat memberikan rasa nyaman yang besar — kerana apa pun yang terjadi ada di tangan Allah dan hanya terjadi sesuai dengan kehendak ilahi-Nya.
” Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu kamu dengan keadaan tidak mengetahui sesuatupun; dan Dia mengurniakan kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta hati akal fikiran); supaya kamu bersyukur.” (TMQ. An-Nahl : 78)
Mudah bagi kita sebagai manusia untuk lupa bahawa kita juga pernah menjadi bayi kecil yang tidak tahu apa-apa. Ketika seorang bayi kecil lahir ke dunia ini, ia perlu belajar cara minum susu, cara tidur, bagaimana mengkomunikasikan apa yang diperlukannya kepada ibu bapanya. Teman saya pernah menggambarkannya sebagai masa peralihan yang sukar di dunia ini, dan saya tidak pernah berfikir seperti itu. Saya selalu berfikir bahawa ibu bapa [memang] mengalami masa peralihan yang sukar, namun faktanya, begitu juga anak tersebut.
Seiring bayi tumbuh, pendengaran, penglihatan, dan kecerdasannya menjadi lebih baik, berterima kasihlah kepada Allah, sebagaimana ayat di atas. Kita cepat membanggakan diri kita sendiri kerana membesarkan anak-anak kita dan mendidik mereka, tapi pada kenyataannya, Allah-lah yang memampukan mereka dengan kemahiran yang diperlukan untuk berkembang dan menjadi dewasa.
” Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada hari kiamat), maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging yang disempurnakan kejadiannya dan yang tidak disempurnakan; (Kami jadikan secara yang demikian) kerana Kami hendak menerangkan kepada kamu (kekuasaan Kami); dan Kami pula menetapkan dalam kandungan rahim (ibu yang mengandung itu) apa yang Kami rancangkan hingga ke suatu masa yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu yang telah diketahuinya dahulu. Dan (ingatlah satu bukti lagi); Engkau melihat bumi itu kering, kemudian apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya (dengan tumbuh-tumbuhan yang merecup tumbuh), dan gembur membusutlah ia, serta ia pula menumbuhkan berjenis-jenis tanaman yang indah permai.” (TMQ Al-Hajj : 5)
Dalam ayat Al-Quran yang lebih panjang ini, Allah mengingatkan umat manusia tentang kehidupan setelah mati, menjadikan seluruh kitaran hidup manusia sebagai tanda. Dialah yang menciptakan manusia dari debu dan akhirnya menempatkannya dalam rahim ibunya, dan kemudian menyebabkan manusia dilahirkan, dan akhirnya menyebabkan manusia mati.
Setiap langkah di jalan ini, dengan cara apa pun yang Dia kehendaki untuk setiap orang, Allah terlibat. Menyedari keterlibatan kita sangat kecil dalam proses ini, sangat merendahkan hati, dan jika direnungi secara mendalam, hendaklah mewujudkan rasa syukur yang sangat besar kepada Allah.
Sumber: MuslimahNewsID

