Site icon MuslimahHTM News

KEUTAMAAN MERINGANKAN BEBAN ORANG LAIN

[NAFSIYAH] KEUTAMAAN MERINGANKAN BEBAN ORANG LAIN

Oleh: Al-Faqir Arief B. Iskandar

 

MELEPASKAN beban atau kesulitan orang lain telah diperintahkan secara tegas oleh Rasulullah SAW, “Seluruh makhluk adalah keluarga Allah. Yang paling Allah cintai di antara mereka adalah yang paling memberikan manfaat kepada-hamba-hamba-Nya.” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

 

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Siapa yang melepaskan suatu beban/kesulitan dari seorang muslim di dunia, Allah pasti akan melepaskan dari dirinya suatu beban/kesulitan di antara beban-beban di akhirat…Allah sentiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (An-Nasa’i, ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

 

Beliau juga pernah bersabda, “Siapa saja yang suka diringankan bebannya dan dikabulkan doanya, hendaklah dia memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan dan mendoakan dirinya.” (HR Muslim).

 

Abdullah bin Dinar menuturkan riwayat dari salah seorang sahabat Nabi SAW bahawa pernah ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang yang Allah paling cintai?” Beliau bersabda, “Orang yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Sesungguhnya amal yang paling Allah sukai adalah memasukan rasa bahagia ke dalam kalbu orang mukmin (iaitu dengan cara): melepaskan bebannya, membayarkan hutangnya dan menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang muslim demi memenuhi keperluannya adalah lebih aku sukai daripada beritikaf di masjid selama dua bulan. Siapa saja yang berjalan menyertai saudaranya yang muslim demi memenuhi suatu keperluannya hingga dia mampu meneguhkan keadaannya, Allah akan meneguhkan kedua kakinya pada Hari Kiamat nanti pada saat banyak kaki-kaki manusia tergelincir…” (HR ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabîr, III/11).

 

Dalam riwayat lain disebutkan, Rabi bin Shabih menuturkan bahawa Al-Hasan pernah berkata, “Sungguh, memenuhi keperluan seorang muslim lebih aku sukai daripada solat seribu rakaat.” (Ibn Abi ad-Dunya’).

 

Bahkan memenuhi keperluan orang lain itu sebaiknya mesti dilakukan sebelum diminta oleh yang bersangkutan. Abdullah bin Ja’far berkata, “Sesungguhnya orang yang disebut pemurah itu bukanlah orang yang memberi setelah diminta. Akan tetapi, orang pemurah itu adalah orang yang memberi tanpa diminta. Sebab sesungguhnya usaha yang dikerahkan orang-orang yang meminta kepada engkau jauh lebih keras dari apa yang engkau berikan kepada dirinya.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Qadhâ’ al-Hawâ’ij).

 

Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb.

Exit mobile version