[Siri Pesan Menggugah untuk Pengamban Dakwah #6]
Jangan Berhenti Mendoakan Kemenangan, Meski Belum Kau Lihat
Wahai pejuang langit yang sedang menanti fajar…
Semoga Allah tetapkan hatimu dalam harap yang lurus,
meski dunia di sekitarmu tampak gelap dan tak menentu.
Kau telah bicara.
Kau telah mengajak.
Kau telah membina, menulis, menyebar, menyampaikan.
Tapi kemenangan itu belum juga tampak.
Umat masih tidur.
Kufur masih berkuasa.
Kemaksiatan masih dianggap biasa.
Dan kau mulai bertanya dalam hatimu:
“Sudah sejauh ini… kenapa belum menang juga?”
Pertanyaan itu boleh menjelmakan kegelisahan.
Kegelisahan boleh menjelmakan kelelahan.
Kelelahan boleh berubah menjadi keputusasaan.
Dan sebelum kau sedar, semangatmu sudah meredup.
Tapi wahai pengemban…
Ketahuilah: berdoa adalah sebahagian dari perjuangan.
Dan justeru, saat semua ikhtiar terlihat buntu,
doalah yang membuka gerbang langit.
Doalah yang menggoncang ‘Arsy.
Doalah yang melahirkan kemenangan yang tak dapat dibayangkan.
Allah Ta’ala berfirman:
“قُلْ مَا يَعْبَؤُا۟ بِكُمْ رَبِّى لَوْلَا دُعَآؤُكُمْ”
“Katakanlah: Rabb-ku tidak akan peduli padamu kalau bukan kerana doa kalian.” (TMQ Al-Furqan: 77)
Doamu adalah perhatianmu kepada dakwah.
Tangismu di malam hari adalah kesetiaanmu kepada janji awal.
Kerana dakwah bukan hanya tentang orasi, strategi, dan forum…
Dakwah juga adalah tentang bisikan lirih di tengah gelap malam,
saat engkau berkata:
“Ya Allah… kami telah menyampaikan.
Tapi Engkaulah yang membolak-balikkan hati manusia.
Maka tolonglah kami… meski umat belum tahu.
Tegakkanlah kalimat-Mu… meski kami belum melihat hasilnya.”
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah رحمه الله berkata:
„الدعاء سلاح المؤمن، وعماد الدين، ونور السماوات والأرض.“
“Doa adalah senjatanya orang beriman, tiangnya agama, dan cahaya langit dan bumi.“
Jangan pernah remehkan air matamu saat sujud.
Mungkin engkau bukan pemimpin besar.
Mungkin engkau tak punya pengaruh luas.
Tapi boleh jadi, satu sujudmu,
satu esakan dalam tahajjud,
satu tangismu kerana kerinduan akan kembalinya Islam…
adalah sebab Allah gerakkan bumi untuk menyiapkan kemenangan.
Doa itu bukan pelengkap.
Doa adalah senjata.
Dan yang paling indah adalah…
berdoa dalam diam,
tapi keyakinanmu bergemuruh seisi dada.
Dalam kisah perang Badar, Rasulullah SAW tidak hanya mengatur pasukan.
Beliau mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berdoa sampai redhanya jatuh, seraya berseru:
“اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هذِهِ العِصَابَةَ مِن أَهْلِ الإسْلَامِ، لا تُعْبَدْ في الأرْضِ أَبَدًا…”
“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, Engkau tidak akan disembah di bumi lagi…”
(HR. Muslim)
Kerana kemenangan bukan soal jumlah pasukan,
tapi soal doa dan keyakinan di dada.
Maka hari ini, jika engkau merasa tak mampu banyak bicara,
berbicaralah kepada Allah.
Jika engkau tak mampu mengatur strategi,
tangisilah umat ini di sepertiga malam.
Jika engkau merasa suaramu tak didengar manusia,
bisikkan saja ke langit…
Kerana langit lebih adil dalam mendengar dan membalas.
Mungkin engkau wafat…
sebelum kemenangan itu tiba.
Tapi doamu akan tetap hidup.
Dan kemenangan yang datang setelahmu…
mungkin adalah buah dari bisikan lirihmu yang tak disangka siapa pun.
Allah berfirman:
“وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ”
“Dan Allah tidak akan mensia-siakan iman (amal) kalian.” (TMQ Al-Baqarah: 143)
Maka jangan pernah berhenti mendoakan kemenangan,
meski matamu belum melihatnya.
Kerana saat Allah sudah catatkan itu dalam Lauhul Mahfuzh,
kemenangan itu pasti…
tinggal soal waktu dan siapa yang dipilih untuk menjadi saksi.
(KH Yasin Muthohar)
21 Mei 2025

