Site icon MuslimahHTM News

[Mafahim Islamiyyah] Bentuk Masyarakat Islam

[Mafahim Islamiyyah] Bentuk Masyarakat Islam

 

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

 

Dari Nu’man bin Basyir ra., dari Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang berdiri di atas had-had (batas-batas) Allah dan orang yang jatuh kepadanya adalah seperti kaum yang berada di atas perahu. Sebahagian mereka mendapat tempat paling atas dan sebahagian yang lain mendapat tempat paling bawah. Orang-orang yang berada di tempat paling bawah apabila mengambil air, mereka melewati orang-orang yang ada di atas. Kemudian mereka berkata, ‘Seandainya kami melubangi pada bahagian kami, maka tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas.’ Maka apabila orang-orang yang ada di atas membiarkan orang-orang yang ada di bawah dari yang dikehendakinya, maka mereka semua akan celaka. Dan apabila orang-orang yang ada di tempat atas mencegah orang-orang yang ada di tempat bawah, maka mereka semua selamat.” (HR Bukhari).

 

Pada hadis ini, Rasulullah SAW melukiskan kepada kita bentuk masyarakat Islam. Baginda memberikan perumpamaan masyarakat yang khas dengan akidah dan sistemnya. Masyarakat yang hidup di antara berbagai bangsa dan negara yang berbeza-beza dalam akidah dan idea-ideanya diibaratkan seperti perahu yang mengharungi gelombang laut. Laut adalah tempat yang menyimpan bahaya-bahaya besar seperti badai dan taufan.

 

Para penumpang perahu sebagai masyarakat terpaksa mengadakan undian untuk membahagi-bahagi perahu. Orang-orang yang berdiri di atas batas-batas Allah yang mengikatkan diri dengan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya mendapat tempat paling atas dalam perahu. Mereka mengemudikannya menelusuri bahaya-bahaya yang mengancam untuk menuju pantai dengan selamat dan aman.

 

Namun, orang-orang yang jatuh pada had-had Allah, menyelisihi hukum-hukum Allah, dan merosakkan kehormatan-kehormatan-Nya, mendapat tempat paling bawah dalam perahu. Mereka hanya hidup untuk dirinya sendiri dan memenuhi berbagai naluri dan keperluan jasmaninya dengan mengikuti hawa nafsunya. Mereka tidak mempedulikan keselamatan perahu beserta masyarakatnya. Ketika mereka memerlukan air—ini kinayah dari pemuasaan—pemenuhan yang diperlukan bagi mereka dalam kehidupan dunia, maka mereka perlu melewati orang-orang yang berada di atasnya untuk mengambil bekalan air. Dengan demikian, orang-orang yang berada di atas mendapat bahaya dari tindakan mereka.

 

Begitu juga dalam riwayat Ahmad dan Tirmizi, “Lalu orang-orang yang ada di tempat paling atas dari perahu berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian menaiki perahu, lalu kalian menyakiti kami.’”

 

Ucapan itu terasa berat atas orang-orang yang berada di bahagian bawah. Mereka tidak berfikir untuk saling memahami bersama orang-orang yang tempat dan ilmunya berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kami membuat lubang pada bahagian kami dan kami tidak menyakiti orang-orang yang berada di atas kami.”

 

Dalam riwayat lain dari Al-Bukhari, “Maka salah seorang dari mereka mengambil kapak, lalu mula melubangi dasar perahu. Orang-orang yang berada di bahagian atas datang dan berkata, ‘Sedang apakah kamu ini? Dia menjawab, ‘Kalian merasa disakiti denganku, sedangkan aku harus mendapatkan air.‘“

 

Di sini, golongan orang-orang yang berada di bawah menonjol. Mereka melakukan fitnah dan kerosakan, lalu berkata kepada orang-orang yang ada di atas sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad, “Dia hanya melubangi bahagiannya sendiri.” Sesungguhnya mereka adalah para propagandis kebebasan. Mereka berbuat sesuka hati sendiri tanpa sistem atau batasan.

 

Dalam suasana yang dikecohkan oleh perselisihan dan dalam situasi sukar di mana di dalamnya masyarakat sedang menghadapi kerosakan, datanglah ubat mujarab dan penawar yang mujarab dari Yang Maha Alim dan Maha Bijaksana, yakni dari Sang Pencipta manusia. Manusia yang berbeza-beza pemikiran dan kemaslahatannya. Dia datang menyeru orang-orang yang berdiri di atas had-had Allah melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad SAW, “Apabila orang-orang yang berada di tempat atas membiarkan orang-orang yang berada di tempat bawah berbuat semahunya, binasalah mereka semua. Apabila mereka yang di atas memegang tangan-tangan mereka yang di bawah, selamatlah yang ada di bawah dan selamatlah yang ada di atas. Selamatlah mereka semuanya.”

 

Masyarakat Islam laksana satu tubuh. Setiap organ tubuhnya beraktiviti untuk kebaikan tubuh tersebut. Kaki berjalan, tangan beraktiviti, mulut mengunyah makanan, perut mencerna makanan, otak berfikir, dan seterusnya. Setiap organ tubuh melaksanakan tugas yang dipasrahkan kepadanya supaya tubuh dapat mengagihkan manfaat kepada setiap organ tubuh sesuai keperluannya.

 

Apabila ada penyakit atau keburukan yang menimpa satu organ tubuh, maka semua organ tubuh saling membantu untuk memerangi dan mengusir penyakit atau keburukan itu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Perumpamaan kaum Mukmin dalam berkasih sayang dan persaudaraan sesama mereka adalah seperti satu jasad. Jika salah satu anggota badan sakit, maka seluruh badan akan turut merasa sakit dengan berjaga malam dan demam.” (HR Ahmad)

 

Demikianlah, masyarakat Islam menjadi masyarakat yang selamat strukturnya, mampu mengatur urusan-urusannya, dan mampu menangkal berbagai penyakit yang menyerangnya. Allah SWT menuntut dari setiap individu di dalamnya agar melaksanakan tanggungjawab yang digantungkan terhadapnya. Nabi SAW bersabda, “Kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya seorang pemimpin akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya.” (HR Bukhari)

 

Apabila mereka adalah para penguasa yang berdiri di atas had-had Allah, maka mesti memelihara urusan rakyatnya dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah. Namun apabila mereka adalah rakyat yang dipimpin, maka mereka hendaklah melaksanakan kewajipan-kewajipan syaraknya dan taat kepada penguasa selagi penguasa itu taat kepada Allah dalam memimpin mereka. Apabila penguasa itu derhaka kepada Allah, maka mereka hendaklah membetulkannya (memuhasabahnya). Apabila penguasa itu tetap dalam maksiat, maka mereka perlu menggantinya.

 

Jadi, tanggungjawab memelihara pelaksanaan hukum-hukum Allah dalam masyarakat Islam adalah tanggungjawab yang bersifat kelompok (jamad’iyah). Apabila para penguasa lalai dalam melaksanakannya sedangkan mereka yang lain diam, maka semuanya berdosa. Apabila orang-orang yang berdiri di atas had-had Allah melepaskan tanggungjawabnya dan membiarkan orang-orang yang menyelisihi hukum-hukum Allah berbuat sesuai kehendaknya, akibatnya umat Islam akan terabai dan binasa.

 

Allah SWT berfirman, “Dan jagalah diri kamu daripada (berlakunya) dosa (yang membawa bala bencana) yang bukan sahaja akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus (tetapi akan menimpa kamu secara umum). Dan ketahuilah bahawa Allah Maha berat azab seksaNya.” (TMQ Al-Anfal [8]: 25).

 

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia apabila mereka telah melihat orang yang zalim lalu tidak memegang kedua tanganya, maka nyaris sekali Allah SWT meliputi mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Daud).

 

Umat Islam pada akhir abad XX Masehi mengharungi samudera dengan kapal-kapal yang berbeza-beza. Mereka dilemparkan ke sana kemari oleh gelombang kebencian dan permusuhan kepada Islam. Mereka juga dicerai-beraikan oleh pelbagai konspirasi dan muslihat ke atas kaum muslim.

 

Dalam kapal-kapal tersebut, banyak orang yang jatuh kepada had-had Allah, merosak kehormatan-kehormatan-Nya, dan mempraktikkan pelubangan kapal-kapal dengan lubang-lubang yang luas. Dalam sejarah kaum muslim, tidak ada selain mereka yang melakukan tindakan semacam itu.

 

Mereka mengalami penyesatan politik (tadlil siyasi) dan konspirasi pemikiran melalui slogan nasionalisme, patriotisme, demokrasi serta kebebasan. Akibatnya, mereka menamakan kehinaan dan kekalahan sebagai ‘pertolongan’. Mereka juga merujukkan hukum kepada undang-undang ciptaan manusia dan keputusan-keputusan antarabangsa sebagai ‘keadilan’. Mereka menamai ketundukan kepada Yahudi sebagai ‘perdamaian’, serta sekularisme dan kekufuran sebagai ‘Islam’, dan seterusnya.

 

Oleh kerananya, apabila orang-orang yang berdiri di atas had-had Allah dan mengikat diri dengan perintah-perintah Allah enggan saling tolong-menolong dan berganding bahu untuk mengubah mereka yang zalim serta cenderung kepada kebudayaan dan politik Barat, maka semuanya akan rosak dan binasa.

 

Rasulullah SAW bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada Jibril a.s.: ‘Terbalikkan kota ini bersama penduduknya!’
Jibril berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya dalam kalangan mereka ada seorang hamba-Mu, si fulan, yang tidak pernah bermaksiat kepada-Mu walau sekelip mata.’
Nabi SAW bersabda: ‘Lalu Allah berfirman: “Terbalikkanlah kota itu ke atasnya dan ke atas mereka, sebab wajahnya tidak pernah berkerut kerana marah walau hanya sesaat.’”
(Dari kitab Misykatul Mashaabiih.)

 

Adapun seandainya kaum muslim bersiap sedia dan beraktiviti bersama orang-orang yang sedar, ikhlas, dan berdiri di atas had-had Allah —untuk menahan orang-orang yang jatuh pada had-had Allah dan merosak kehormatan-kehormatannya, — dan mengubah mereka melalui jalan syarak yang telah dijelaskan oleh Allah, maka mereka semua akan selamat.

 

Sesungguhnya tanggungjawab mengubah kemungkaran menjadi tanggungjawab individu dengan nas hadis dari Rasulullah SAW, “Siapa saja yang melihat kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya.” Hal ini juga menjadi tanggungjawab secara kolektif sebagaimana telah dinaskan oleh hadis, “Lalu apabila mereka yang di atas membiarkan mereka yang di bawah berbuat semahunya sendiri, maka binasalah semuanya. …”

 

Nas ayat yang mulia, “Dan hendaklah ada di antara kalian, umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”

 

Kemungkaran yang paling berbahaya dan sedang dihadapi umat Islam pada masa ini ialah memerintah dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah Ta‘ala. Ini merupakan kemungkaran asas yang menjerumuskan kepada banyak kemungkaran lain—seperti berkasih-kasihan, bersahabat serta saling tolong-menolong dengan orang kafir—serta meninggalkan jihad. Termasuk juga kemungkaran seperti riba, zina, dan lain-lain.

 

Sepatutnya orang-orang yang berdiri di atas had-had Allah, yakni para pengemban dakwah yang beraktiviti untuk melanjutkan kehidupan Islam mempunyai kefahaman. Umat Islam perlu memiliki kefahaman bahawa sesungguhnya jalan menuju keselamatan itu hanya ada satu dan sangat lurus. Sebaliknya, jalan menuju kerosakan itu sangat banyak dan berliku-liku, berbelok-belok, dan naik turun.

 

Allah SWT berfirman, “Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu (agama Islam) yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertakwa.” (TMQ Al-An’am [6]: 153).

 

Oleh kerana itu, hendaklah mereka meneliti jalan ini dengan sungguh-sungguh supaya dapat sampai kepada tujuan yang mereka cari.

 

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

 

#MafahimIslamiyyah #MasyarakatIslam #UmatIslam #HukumSyarak #Dakwah

 

Exit mobile version