Site icon MuslimahHTM News

Apa itu Akidah?

Apa itu Akidah?

 

Naluri beragama (gharîzah at-tadayun) merupakan fitrah bagi manusia. Fitrah ini mendorong manusia untuk bertanya tentang Pencipta alam, manusia, dan kehidupan, serta tentang tempat kembalinya, yakni kehidupan setelah kematiannya. Naluri beragama yang fitrah ini akan menuntun manusia menuju keimanan terhadap kewujudan (eksistensi) Pencipta alam semesta. Namun demikian; kadangkala manusia salah dalam memahami hakikat Pencipta ini. Mereka mendeskripsikan matahari, api, patung berhala, atau makhluk lainnya sebagai al-Khaliq. Oleh sebab itu, Allah ﷻ mengutus para rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia akan hakikat al-Khaliq yang sebenarnya, yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, di samping bahawa penciptaan semua makhluk yang ada bergantung kepada-Nya.

 

Akidah, secara bahasa diambil dari kata kerja (fi’il) ‘aqada (menyimpulkan/ mengikat/ transaksi /dll), seperti pada kalimat “wa ‘aqadal-habla wal-bay’a wal-‘uhdatu wal-‘ahada yu’aqqiduhu syaddahu” (menyimpulkan tali, transaksi jual beli, dan mengikat perjanjian, dan mengikatkannya, memperkuatkannya). Akidah juga bererti apa-apa yang diyakini dan menenteramkan hati.

 

Akidah menurut istilah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan, dan tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta tentang hubungan kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Pemikiran menyeluruh inilah yang dapat menghuraikan ‘uqdah al-kubra (simpulan besar) pada diri manusia, yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan; siapa yang menciptakan alam semesta dari tiada menjadi ada? Untuk apa semua ini diciptakan? Dan ke mana semua ini akan kembali? Jika manusia telah menemukan jawapan yang memuaskannya atas beberapa pertanyaan ini, maka dia telah sampai kepada akidahnya. Terlepas benar atau salah.

 

Akidah dapat dikatakan benar apabila memenuhi dua syarat, yakni: pertama, hendaklah sesuai dengan fitrah manusia, menenteramkan jiwa manusia, dan mampu memenuhi naluri beragama, kedua, hendaklah sesuai dengan akal, sehingga manusia akan merasa puas (qana’ah) dengan pembuktian yang dapat menunjukkan kebenaran atas apa yang manusia yakini itu.

 

Sumber:“Dirâsât fî al-Fikr al-Islâmiy” (Muhammad Husain Abdullah)

 

#akidah #keyakinan #kepercayaan #keimanan #hakikatkehidupan #hakikatpenciptaan

Exit mobile version