[Khilafah Rasyidah] Penerapan Islam secara Revolusioner (Bahagian 2/3)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
(Sambungan dari Bahagian 1/3)
Adapun ayat yang secara nyata menyebutkan keharaman khamar dan itu diturunkan sekaligus tanpa bertahap adalah firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman! Bahawa sesungguhnya arak, dan judi, dan pemujaan berhala, dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah (semuanya) kotor (keji) dari perbuatan Syaitan. Oleh itu hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya.” (TMQ Al-Ma’idah: 90).
Tatkala para sahabat Rasulullah SAW mendengar ayat tersebut, mereka membawa bejana-bejana berisi khamar yang sudah diperam. Mereka lalu membuangnya ke jalanan kota Madinah hingga khamar membanjiri jalanan seperti ketika hujan deras.
Saya tidak tahu, mengapa sebahagian orang itu membuat pendapat palsu tentang tadarruj (penahapan)? Bagaimana pola sikap (nafsiyah) para sahabat yang menghadapi ancaman maut di Mekah dengan keimanan yang kukuh? Bagaimana pola sikap (nafsiyah) kaum Ansar yang membaiat Rasulullah SAW untuk memerangi semua manusia, baik yang berkulit putih atau hitam? Bagaimana pola sikap (nafsiyah) mereka yang memerlukan penahapan dalam hukum syarak yang diturunkan dari langit?
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tunduk dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya walaupun mengenai diri, harta, dan keluarga mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak berlambat-lambat sedetik pun dari penerapan hukum syarak, walaupun satu hukum.
Rasulullah SAW adalah orang pertama yang menerapkan Islam secara revolusioner sejak hari pertama kedua kaki baginda menginjak Madinah al-Munawwarah. Kemudian baginda menyusun piagam persaudaraan, melangsungkan berbagai perjanjian, mengutus para utusan kepada raja-raja, menerapkan hukum-hukum yang telah diturunkan di Mekah sebelumnya, dan hukum-hukum yang diturunkan berikutnya.
Baginda tidak menunda satu pun hukum syarak yang telah diturunkan. Baginda juga tidak menerapkan satu hukum syarak pun secara bertahap. Akan tetapi mengingat jauhnya jarak antara kaum muslim dengan Islam yang diterapkan secara praktikal di dalam Daulah yang baru, maka perlu ada serangkaian program yang selari untuk penerapan itu. Dengan demikian akan dapat meraih kejayaan dan penerimaan dari masyarakat umum dan khusus di kalangan mereka.
Program selari (parallel) yang saya maksudkan sama sekali bukanlah penahapan. Sebabnya, penahapan dalam masalah hukum secara syarie adalah haram. Pada dasarnya sama sekali tidak boleh menunda satu detik pun untuk berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, baik dalam keadaan terdapat kekuasaan atau ketika kekuasaan itu tidak ada.
Serangkaian program selari itu direpresentasikan dalam tiga perkara berikut :
Pertama, masalah alat dan sarana. Perlu digunakan semua alat yang memungkinkan, seperti televisyen, radio, mimbar-mimbar, sekolah-sekolah, universiti, dan segenap media massa dalam semua peringkat. Hal ini untuk memahamkan masyarakat akan pentingnya dan wajibnya penerapan hukum-hukum syarak, serta haramnya menunda hal itu.
Untuk melaksanakan tugas ini, perlu dipilih orang yang paling mampu memberikan penjelasan dan paling faham akan sirah Rasulullah. Pada dasarnya, program ini hendaklah terus berlangsung hingga ketenteraman yang sempurna terwujud dalam diri masyarakat. Dengan demikian, mereka menjadi sedemikian dekat dengan masalah ini, jiwa mereka redha, dan masalah ini menjadi tuntutan mereka, baik besar mahupun kecil.
Kedua, persiapan aqliyah dan nafsiyah bagi masalah ini. Pada hakikatnya, persiapan ini berhubungan erat dengan masalah mobilisasi secara nafsiyah dan aqliyah yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dalam masalah ini hendaklah difokuskan pada masalah keredhaan Allah SWT terlebih dahulu, serta masalah pahala di akhirat, kemurkaan Allah dan kebencian-Nya kepada hukum-hukum kufur, dan kepada siapa saja yang menerapkan hukum-hukum kufur itu di dalam kehidupannya.
Kemudian dijelaskan kepada masyarakat sejauh mana keadilan, kelurusan, dan ketenteraman yang akan direalisasikan di tengah masyarakat dengan diterapkan hukum-hukum Islam. Masyarakat sepanjang program tindakan ini selalu diingatkan pada sirah para sahabat Rasulullah SAW dan bagaimana mereka redha dengan hal yang sedikit pada awal perkara sebagai pendahuluan untuk sesuatu yang banyak di dunia dan akhirat. Juga bagaimana Allah memberi kurniaan kepada mereka dengan agama ini dan dengan penerapan agama ini secara sempurna, berupa ditundukkannya dunia hingga mereka mengenakan jubah kebesaran Kisra.
Ketiga, adalah deskripsi praktikal bagi aktiviti penerapan. Masalah ini memerlukan persiapan tertentu untuk setiap masalah. Ini juga berkait rapat dengan masalah rombakan total terhadap realiti rosak yang akan kami bicarakan setelah ini.
Namun pada awalnya, wajib diumumkan secara praktikal, terbuka, dan tidak boleh ada penundaan bahawa hukum-hukum Islam adalah hukum-hukum rasmi yang diterapkan di dalam Daulah. Penundaan apa pun dalam penerapan sesuatu, hal itu kembali kepada masalah-masalah yang ada di luar kemampuan secara fizikal dan akan diterapkan secepat mungkin.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

