Site icon MuslimahHTM News

KRISIS SUDAN DAN KEPEDULIAN UMAT ISLAM

KRISIS SUDAN DAN KEPEDULIAN UMAT ISLAM

Allah SWT berfirman,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾ [آل عمران: ١٠٢]
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” [TMQ Ali-Imran (3): 102]

Takwa bukan hanya air putih yang menyejukkan dada. Ia adalah kompas agar lurus langkah kita; agar hati kita hidup; agar kita peduli bukan hanya pada diri sendiri, tetapi pada seluruh saudara kita, di mana pun mereka berada.

Hari ini kita berdiri di negeri kita. Namun, hati kita sepatutnya melayang jauh ke seluruh penjuru dunia; ke Palestin, ke Myanmar, ke Uyghur, ke India dan kini ke Sudan di Bumi Afrika. Sebagaimana Palestin, Sudan adalah negeri yang saat ini sedang berdarah. Negeri ini kembali menjadi saksi betapa rapuhnya tubuh umat ketika tidak memiliki pelindung.
Sudan bukan sekadar nama. Ia adalah bahagian dari tubuh besar umat Islam. Para Sahabat dulu pernah menembus lembah Nil untuk membawa cahaya Islam ke wilayah Nubia di Sudan bahagian utara. Di bawah Khilafah, Afrika adalah samudera dakwah dan keadilan. Namun, ketika Khilafah dihancurkan oleh kafir penjajah Barat, Afrika menjadi ladang perampasan—emas, minyak, uranium, dan harga diri umat Islam.

Konflik besar di Sudan antara SAF dan RSF bukan sekadar perebutan kerusi. Di sebalik itu terdapat tangan-tangan penjajah, terutama Amerika dan Britain. Keduanya memainkan bidak di atas papan yang dibasahi darah. Mereka mengadu-domba, memecah-belah dan menanamkan racun permusuhan di antara rakyat Sudan. Tujuannya sudah tentu agar Sudan terus lemah. Agar kekayaan alam Sudan tetap mengalir masuk ke dalam poket mereka.

Apa yang lebih memilukan adalah ketika sebahagian pemimpin Muslim justeru berjalan bersama penjajah. Mereka menutup mata terhadap genosid yang terjadi. Mereka membiarkan kaum Muslim tertindas tanpa pelindung. Padahal Nabi ﷺ telah mengingatkan:

*الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ*
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya (disakiti).” (HR al-Bukhari).

Sudan terluka kerana kita telah lama kehilangan perisai. Tiada lagi satu kepemimpinan yang menggetarkan musuh dan melindungi kaum yang lemah. Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:

*إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ*
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pesan Nabi SAW dalam hadis di atas benar-benar diamalkan oleh para khalifah pada masa lalu sepanjang era Kekhilafahan Islam. Salah satunya adalah Khalifah al-Mu‘taṣim Billāh. Saat itu, pada masa kepemimpinannya, dia mendapat kahbar bahawa ada seorang Muslimah diganggu oleh kafir Romawi di daerah Amuriyah (wilayah Turki sekarang). Teriakan minta tolong wanita Muslimah tersebut, “Wā Mu‘taṣimāh!” sampai ke telinga Khalifah. Serta-merta sang Khalifah bangkit dari tempat duduknya. Lalu dengan segera dia mengerahkan pasukan tentera dalam jumlah yang besar untuk menyerang musuh. Dipendekkan cerita, pasukan tersebut berjaya meruntuhkan benteng musuh, menewaskan 30 ribu pasukan kafir Romawi dan menawan 30 ribu lainnya. Ini bukan kisah dongeng. Ini adalah fakta sejarah.

Inilah potret bagaimana sebuah institusi pemerintahan Islam global (Khilafah) dapat menjadi pelindung umat dengan sebenarnya.


Bandingkan dengan hari ini. Jeritan Muslimah Sudan, Gaza, Myanmar, Uyghur dan di berbagai tempat lainnya tidak lagi memanggil siapa-siapa. Sebab, umat Islam sudah tidak ada “perisai” itu.

Lalu pertanyaan retorik untuk diri kita: Adakah hati kita telah menjadi batu hingga jeritan itu tidak lagi mengetuk nurani? Adakah ukhuwah hanya tinggal slogan yang kita ucapkan tanpa rasa?

Allah SWT telah berfirman:
*إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ*
“Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara.” [TMQ al-Hujurat (49): 10].

Jika satu tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasai. Jika Sudan berdarah, kita pun sepatutnya turut merasakan pedihnya. Maka dari itu pedulilah. Doakanlah. Suarakanlah. Lebih dari itu, berjuanglah agar kehidupan ini kembali diatur oleh syariah Allah SWT di bawah kepemimpinan Islam, bukan oleh sistem yang diwariskan penjajah.

Selama umat tidak bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam global, luka-luka ini akan terus membesar. Selama hukum-hukum Allah SWT tidak menjadi pemimpin peradaban, derita umat Islam tidak akan berakhir. Inilah pentingnya Khilafah. Bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi keperluan syarie dan fitrah umat.

Wahai seluruh umat Islam, marilah kita kembali memperkuat niat dan tekad. Kita bukan hanya diperintahkan untuk berduka, tetapi bergerak. Bukan hanya diminta menangis, tetapi bangkit.

Sudan, Palestin dan seperti banyak negeri Muslim lain, adalah cermin yang memantulkan kelemahan kita. Kelemahan yang tidak akan dapat diselesaikan kecuali dengan kembali pada sistem yang Allah SWT turunkan. Persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam global bukan utopia. Ia adalah perintah syariah yang pasti dapat diwujudkan di dunia nyata. Apatah lagi sejarah telah membuktikan kewujudan Khilafah selama berabad-abad lamanya.

Rasulullah ﷺ telah mengkhabarkan keadaan umat ketika cinta dunia telah mengakar:
*«حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»*
“Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Cinta dunia membuat kita sibuk dengan hal kecil dan lupa pada luka besar umat. Maka dari itu, mari kita hidupkan kembali jiwa perjuangan yang dibangun oleh al-Quran dan Sunnah. Mari kita membina keluarga kita dengan kesedaran global. Mari kita perkuat pendidikan yang melahirkan generasi berjiwa pemimpin, bukan pengekor. Mari kita dorong kehidupan sosial, undang-undang, ekonomi dan pemerintahan agar kembali tunduk hanya pada aturan Allah.

Inilah saat ketika kita bertanya kepada diri sendiri: Adakah saya telah menjadi bahagian dari penyembuh luka Sudan, Gaza dan yang lain? Ataukah kita justeru menjadi bahagian dari diamnya dunia?

Akhir kata, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT mengabulkan doa-doa kita. Khususnya buat saudara-saudara kita di Sudan, Gaza dan di bumi manapun mereka menderita.

*Diterjemah dan diolah

Sumber: Tim Media IDAROH [Ikatan Da’i Rohmatan lil ‘Aalamiin])

#FreePalestine #SaveSudan #TegakKhilafah #KhilafahPerisaiUmat #KrisisSudan #SudanCrisis

Exit mobile version