Sepuluh Hari Pertama Zulhijjah dan Baiah Aqabah, Ketika Kemuliaan Masa Bertemu dengan Kemuliaan Dukungan (Nusrah), Maka Melahirkan Negara Terbesar dalam Sejarah Islam
Oleh: Prof. Abdus Salam Al-Badri
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul, termasuk kepada keluarga baginda, sahabatnya, dan semua orang yang mengikuti jalannya hingga Hari Kiamat.
Di antara musim keimanan terbesar yang ditempuhi kaum Muslim setiap tahun adalah sepuluh hari pertama bulan Zuhijjah. Ini adalah hari-hari yang telah dimuliakan Allah SWT dalam Kitab-Nya, disumpahkan, dan ditinggikan di atas semua hari lain di dunia, sehingga Rasulullah SAW bersaksi bahawa hari-hari tersebut adalah hari-hari terbaik untuk melakukan amal soleh. Hari-hari yang diberkahi ini bukan hanya masa ibadah individu, tetapi juga terkait dengan peristiwa-peristiwa penting yang mengubah arah sejarah Islam. Di antara yang terbesar adalah Baiah Aqabah Pertama dan Kedua, yang membentuk dasar sejati bagi tertegaknya negara Islam di Madinah Al-Munawwarah.
Merenungkan hubungan antara sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah dan Baiah Aqabah membuka pintu besar bagi kaum Muslim untuk memahami makna kemenangan, berjuang untuk Islam, membangun umat, dan mengingat jalan yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam menegakkan masyarakat dan negara Islam.
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijjah dalam Al-Quran
Allah SWT bersumpah dengan hari-hari ini dalam firman-Nya:
﴿وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾
“Demi fajar dan demi sepuluh malam.” (TMQ Al-Fajr [89]: 1-2).
Majoriti ulama tafsir menyimpulkan bahawa “sepuluh malam” merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, termasuk Abdullah bin Abbas, Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurtubi.
Ibnu Katsir berkata: “Yang dimaksud dengan itu adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah … dan jika Allah SWT bersumpah demi suatu hari itu, maka hal ini menunjukkan betapa penting dan tingginya kedudukan suatu hari itu, lalu bagaimana jika sumpah itu demi hari-hari yang merupakan hari-hari terbesar di dunia?”
Dan AllahSWT berfirman:
﴿وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ﴾
“Dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (TMQ Al-Hajj [22]: 28).
Abdullah bin Abbas berkata: “Hari-hari yang ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.” Dalam Tafsir ath-Tabari, disebutkan: “Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah dalam as-Sunnah an-Nabawiyah telah ditetapkan dalam hadis yang diriwayatkan daripada Nabi SAW bahawa baginda bersabda:
«ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيها أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ»
“Tidak ada hari-hari di mana amal soleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” (HR. Bukhari).
Dan dalam riwayat lain:
«ما من أيَّامٍ أَعْظَمُ عندَ اللهِ ولاَ أَحَبُّ إليه العَمَلُ فيهِنَّ من هذه الأيامِ العشرِ»
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah, dan tidak ada hari-hari yang lebih dicintai-Nya untuk amal soleh, daripada sepuluh hari ini.” (HR. Ahmad).
Pada hari-hari tersebut amal-amal soleh dilaksanakan: haji, takbir (mengucapkan Allahu Akbar), zikir (mengingat Allah SWT), berpuasa, dan berkorban. Sehingga Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Penyebab perbezaan luhur sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah adalah kerana bersatunya ibu segala ibadah (ummahāt al ibādah) di hari-hari itu.”
Baiah Aqabah … Momen yang Mengubah Sejarah
Selama musim haji, dan pada malam-malam bulan Zulhijjah, titik perubahan terbesar dalam sejarah dakwah Islam terjadi.
Baiah Aqabah Pertama
Pada tahun kedua belas diangkatnya Nabi sebagai Rasul, dua belas orang dari suku Aus dan Khazraj datang dan berbaiah (berikrar setia) kepada Nabi SAW atas dasar Islam, ketaatan, dan menjauhi semua kemaksiatan. Baiah ini merupakan baiah atas keimanan dan awal penyebaran Islam di Yatsrib. Nabi SAW mengutus Mus’ab bin ‘Umair bersama mereka untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang, sehingga Islam masuk ke rumah-rumah di Madinah.
Baiah Aqabah Kerdua
Tahun berikutnya, juga selama musim haji, Baiah Agung berlangsung ketika tujuh puluh tiga lelaki dan dua orang perempuan datang dan berbaiah kepada Rasulullah SAW untuk memberikan nusrah (dukungan) dan perlindungan, mendengarkan, mentaati, dan melakukan pembelaan kepadanya sebagaimana mereka membela keluarga mereka sendiri.
Di sinilah peralihan Islam dari tahap kelemahan ke tahap pendirian negara. Nabi SAW bersabda kepada mereka:
» أُبَايِعُكُمْ عَلَى أَنْ تَمْنَعُونِي مِمَّا تَمْنَعُونَ مِنْهُ نِسَاءَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ«
“Aku baiah kalian untuk melindungiku seperti kalian melindungi isteri-isteri dan anak-anak kalian.”
Baiah Agung ini bukan sekadar pertemuan singkat, berlalu begitu saja dan kemudian lenyap; Itu adalah pakatan pendirian, perjanjian nusrah (dukungan), dan deklarasi kelahiran sebuah umat politik. Dari sinilah bermulanya hijrah, dan kemudian negara Islam didirikan di Madinah Al-Munawwarah.
Mengapa Kaum Ansar Begitu Mulia dan Hebat?
Sebab kaum Ansar tidak hanya beriman dalam hati mereka saja, tetapi mereka juga memberikan nusrah (dukungan) kepada agama Islam, memikul bebannya, menghadapi semua bangsa Arab, dan memberikan perlindungan serta kekuasaan untuk dakwah Islam. Allah SWT memuji kaum Ansar, dengan firman-Nya:
﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ﴾
“Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka (kaum Ansar) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka.” (TMQ Al-Hasyr [69]: 9).
Kaum Ansar memahami bahawa Islam bukan hanya ibadah individu, melainkan juga sebuah pesanan (risalah), peraturan (undang-undang), masyarakat, dan negara.
Bertemunya Kemuliaan Masa dan Kemuliaan Perbuatan
Salah satu pengajaran paling mendalam bagi seorang Muslim adalah bahawa Baiah Aqabah berlaku pada musim yang disucikan oleh Allah SWT, dan pada hari-hari yang termasuk hari-hari terbaik dalam setahun. Ketika kemuliaan masa, kemuliaan nusrah (dukungan), kemuliaan persahabatan, dan kemuliaan menegakkan agama bertemu, maka berdirinya sebuah negara terbesar yang terkenal dalam sejarah.
Oleh sebab itu, sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah bukan hanya hari-hari untuk mengenang dan berpuasa, melainkan juga muhasabah praktik tentang makna pengorbanan; dukungan, menyampaikan dakwah, tindakan yeng bersifat kolektif, dan menegakkan Islam dalam realiti kehidupan.
Betapa pentingnya bagi kaum Muslim kini untuk mengingati kembali makna-makna ini!
Umat Islam kini mengalami perpecahan, penindasan, dominasi politik dan ekonomi, tunduk kepada Barat, kehilangan tempat-tempat suci, dan perpecahan yang menghakis perpaduan kaum Muslim. Situasi kaum Muslim kini sangat mirip dengan situasi kaum Muslim di Mekah sebelum Hijrah: kelemahan, penindasan, kekejaman kuasa kekafiran, dan ketiadaan autoriti Islam yang menyatukan.
Namun, sirah Nabi mengajarkan kaum Muslim bahawa perubahan tidak datang melalui kekacauan atau reaksi emosional, melainkan melalui kesedaran, dakwah, kesabaran, dan membangun umat secara intelektual dan politik, kemudian dengan mencari nusrah (dukungan) daripada mereka yang berkuasa dan berpengaruh, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW hingga Allah memberinya para pendukung (kaum Ansar).
Kewajipan Orang-Orang yang Berkuasa dan Berpengaruh
Kaum Ansar adalah teladan bagi orang-orang yang memberikan nusrah (dukungan). Oleh sebab itu, umat saat ini memerlukan: orang-orang yang tulus, para cendekiawan yang jujur, orang-orang yang berpengaruh, dan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, untuk mendukung dan membantu penegakan kebenaran dan keadilan, serta membanteras ketidakadilan daripada umat ini.
Allah SWT berfirman:
﴿وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾
“Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (TMQ Al-Hajj [22]: 40).
Dukungan itu bukan sekadar kata-kata, melainkan juga sikap, pengorbanan, dan tanggungjawab.
Khabar Gembira Nabi SAW untuk Kaum Muslim
Dalam hadis sahih bahawa Nabi SAW bersabda:
«ثم تكونُ خلافةً على مِنهاجِ نُبُوَّةٍ»
“Maka akan ada (ditegakkan) kembali Khilafah ‘ala minhājin nubuwah.” (HR. Ahmad).
Khabar gembira ini menanamkan harapan dalam umat Islam, dan meyakinkan mereka bahawa masa depan adalah milik agama (Islam) ini, walau betapa beratnya ujian atau betapa besarnya kekuatan kezaliman.
Namun, terwujudnya janji tersebut terkait dengan ke-istiqamah-an, iaitu sikap teguh pendirian, konsisten, dan terus-menerus dalam melakukan kebaikan atau ketaatan di jalan Allah SWT, serta mengikuti metode yang benar daripada Nabi SAW dalam mewujudkan perubahan.
Kesimpulan
Sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah bukanlah sekadar hari-hari yang berlalu begitu saja dalam ingatan kaum Muslim, melainkan sebuah sekolah keimanan dan sejarah yang agung, mengingatkan umat tentang mulianya ketaatan, pentingnya memberikan dukungan, makna pengorbanan, dan bagaimana negara Islam pertama dibangun. Di hari-hari yang diberkahi ini, kaum Ansar berbaiat, dakwah mencapai hasil, perjalanan untuk mendirikan negara dimulai, dan wajah sejarah berubah.
Saat ini, kaum Muslim sangat memerlukan kehadiran kembali semangat Aqabah: semangat memberikan dukungan, semangat berjuang untuk Islam, semangat persatuan, dan semangat memikul tanggungjawab, agar umat ini dapat kembali meraih kejayaannya, dan Islam dapat sekali lagi memimpin kehidupan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Solusi terbaik untuk masalah sosial, politik, ekonomi, dan akidah yang sedang dideritai umat dan kemanusiaan berdasarkan hukum Islam adalah kaum Muslim hendaklah kembali sepenuhnya kepada penerapan hukum Allah dan berupaya untuk membina entiti persatuan bagi kaum Muslim yang akan menjunjung tinggi agama dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan keadilan, rahmat, dan bimbingan.
﴿هَٰذَا بَلَاغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“(Al-Quran) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahawa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.” (TMQ Ibrahim [14]: 52). []
Sumber: Al-Waie [Arab], Edisi 478, Tahun Ke-40, Dzul Qi’dah 1447 H./Mei 2026 M.
#MuhasabahZulhijjah #TegakIslam #TegakKhilafah #SpiritofZulhijjah #RealisasikanNusrahTegakkanKhilafah #Nusrah

