Site icon MuslimahHTM News

Jangan Tukar Nikmat Hidayah dengan Kekufuran

Jangan Tukar Nikmat Hidayah dengan Kekufuran

 

[سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُم مِّنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ وَمَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُ فَإِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ]

“Bertanyalah kepada Bani Israil, berapa banyak keterangan-keterangan yang telah Kami berikan kepada mereka (sedang mereka masih ingkar)? dan sesiapa menukar nikmat keterangan Allah (dengan mengambil kekufuran sebagai gantinya) sesudah nikmat itu sampai kepada-Nya, maka (hendaklah dia mengetahui) sesungguhnya Allah amat berat azab seksa-Nya.” [TMQ al-Baqarah (2): 211]

 

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah ﷻ telah menyebutkan tentang kewajipan masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Kemudian, dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan jawapan bagi orang-orang yang bertanya kehairanan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak masuk Islam secara keseluruhan, sedangkan tanda-tanda (kebenaran) telah datang untuk menegakkan bukti atas hal itu?”

 

Jawapan tersebut mengetengahkan realiti Bani Israil. Bukti-bukti yang pasti (qath’ie) telah datang kepada mereka yang mewajibkan mereka untuk beriman kepada Nabi Musa AS, kepada apa yang diwahyukan kepada Nabi Musa AS berupa Kitab Suci, dan kepada apa yang diwahyukan di dalam kitab tersebut mengenai sifat-sifat Rasulullah ﷺ, yang mewajibkan mereka untuk beriman kepada baginda ﷺ. Semua itu adalah bukti-bukti nyata yang dibawa oleh Musa AS, namun mereka mendustakan Muhammad ﷺ, serta memutarbelitkan dan mengubah kitab-kitab mereka demi memenuhi hawa nafsu mereka.

 

Bani Israil mengubah bukti-bukti nyata yang diwahyukan kepada mereka sebagai nikmat yang sepatutnya menghantarkan mereka pada keimanan dan petunjuk. Mereka mengubahnya, dan justeru menjadikannya sebagai jalan menuju kekafiran dan kesesatan mereka, sedangkan mereka mengetahui bahawa orang-orang yang menukar nikmat Allah ﷻ dengan kekufuran akan mendapat hukuman yang keras lagi pedih.

 

Frasa “Sal banî isrâ’îl.” (tanyakanlah kepada Bani Israil) adalah pertanyaan retorik sebagai bentuk celaan dan kecaman atas pelanggaran, pembangkangan, kekufuran terhadap nikmat, dan pengabaian mereka terhadap kebenaran setelah adanya bukti yang nyata. Jadi ini bukan bentuk pertanyaan untuk meminta jawapan dengan tujuan mengetahui realiti mereka melalui jawapan mereka.

 

Sumber: “At-Taisir fi Ushul at-Tafsir” – Syeikh ‘Atha’ bin Khalil

 

#muhasabah #nikmatiman #hidayah #IslamKaffah

 

Exit mobile version