Jangan Ambil Kebatilan dengan Sengaja
Allah ﷻ berfirman (yang ertinya):
“Umat manusia pada awalnya bersatu (di dalam agama Allah, namun setelah itu berlaku perselisihan sehingga sebahagiannya menjadi sesat) lalu Allah mengutuskan para nabi sebagai penyampai berita gembira (kepada mereka yang beriman dengan balasan syurga) dan pemberi peringatan (kepada mereka yang tidak beriman dengan balasan seksa). Dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang terkandung kebenaran untuk memberi jawapan kepada manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan hanyalah orang-orang yang telah diberi Kitab yang berselisih faham, setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, kerana kedengkian di antara mereka sendiri. Maka, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman mengenai kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” [TMQ al-Baqarah (2): 213].
Manusia awalnya adalah satu umat di atas akidah yang sama sejak masa Nabi Adam as. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka berselisih, sehingga sebahagian daripada mereka tetap beriman, dan sebahagian lainnya kafir.
Maka Allah ﷻ mengutus para nabi ‘alaihimus salâm, memberi berita gembira berupa redha Allah dan syurga kepada yang beriman, dan memperingatkan yang kafir atas murka Allah dan azab neraka. Allah ﷻ mengutus para nabi dengan membawa Kitab-Nya yang berisi bukti nyata, yang secara jelas membezakan kebaikan dan kejahatan bagi mereka, agar para nabi memberi keputusan atau jawapan di antara mereka dalam semua hal yang mereka perselisihkan.
Hanya saja umat-umat itu berselisih dengan para rasul mereka, dan pihak yang paling keras dalam berselisih adalah para ulama, pendeta, dan rahib mereka. Mereka mengubah Kitab-Kitab yang diturunkan kepada mereka, dan sengaja melakukan kebatilan sedangkan mereka mengetahuinya.
Adapun orang-orang yang ikhlas kepada Allah ﷻ dan membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul-Nya, merekalah orang-orang yang Allah ﷻ beri petunjuk ke jalan yang lurus. Allah menjelaskan kepada mereka pengubahan dan penyelewengan yang dimasukkan oleh orang-orang yang berselisih dengan para rasul itu, agar mereka menjauhinya sehingga tidak jatuh ke dalam dosa dan kesesatan. Sebaliknya, Allah ﷻ menyelamatkan mereka daripada hal tersebut dengan kurnia dan keutamaan-Nya.
Sumber: “At-Taisir fi Ushul at-Tafsir” – Syaikh ‘Atha’ bin Khalil
#akidah #keimanan #muhasabah

