Site icon MuslimahHTM News

SEJARAH DAN DINAMIKA PERINGATAN MAULID NABI DALAM PERADABAN ISLAM

SEJARAH DAN DINAMIKA PERINGATAN MAULID NABI DALAM PERADABAN ISLAM

Peringatan hari lahir Nabi Muhammad, yang dikenali ramai sebagai Maulid Nabi, merupakan salah satu peristiwa penting dalam lintasan sejarah peradaban Islam. Berdasarkan catatan sejarah, Nabi Muhammad lahir di kota Mekah pada hari Isnin tanggal 12 Rabiul Awal sekitar tahun 570 atau 571 Masihi. Baginda kemudian diangkat menjadi nabi dan rasul pada usia 40 tahun setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira. Perjalanan hidupnya berterusan hingga menjadi ketua negara di Madinah pada tahun 622 Masihi dan akhirnya wafat pada usia 63 tahun. Kehadiran baginda dipandang sebagai pembawa risalah keselamatan bagi seluruh alam semesta.

Meskipun diperingati secara luas, pelaksanaan peringatan hari lahir nabi ini memunculkan perbezaan pandangan di kalangan para ulama. Perbezaan mendasar berkisar pada pertanyaan adakah sambutan Maulid ini termasuk sebagai ibadah ritual keagamaan yang memerlukan contoh langsung daripada nabi atau sekadar bahagian daripada adat dan tradisi masyarakat. Majoriti ulama, termasuk para pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafie, dan Hambali, menyatakan bahawa sambutan ini hukumnya boleh atau mubah selagi ianya tidak mempunyai unsur-unsur yang melanggar syariat. Sambutan Maulid ini dipandang sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran pembawa keselamatan bagi umat manusia. Di sisi lain, sebahagian ulama berpendapat bahawa peringatan ini adalah perkara baru yang tidak pernah dicontohkan pada masa awal Islam. Namun, para pendukung peringatan ini menjelaskan bahawa jika hal tersebut dianggap sebagai perkara baru, maka ia termasuk dalam kategori inovasi yang baik atau bid’ah hasanah kerana mengandungi kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Konsep ini disamakan dengan beberapa kebijakan bersejarah pasca-era kenabian, seperti pembukuan mushaf Al-Quran, pelaksanaan solat tarawih berjemaah sebanyak 20 rakaat, serta kumandang azan Jumaat sebanyak dua kali.

Berdasarkan sejarah, tradisi peringatan Maulid ini pertama kali digagas secara rasmi oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar tahun 973 Masihi sebagai bahagian dari kebijakan politik dan keagamaan istana. Perayaan pada masa ini bersifat sangat eksklusif dan terbatas hanya untuk kalangan pegawai serta tokoh tertentu yang dipilih secara ketat. Selain itu, perayaan tersebut juga mencakup peringatan hari lahir anggota keluarga nabi lainnya serta penguasa yang sedang bertakhta bagi melegitimasi kekuasaan mereka. Walaupun rakyat biasa tidak dilibatkan secara langsung di dalam istana, pihak penguasa memberikan sedekah berupa makanan manis yang dikenal sebagai “hidangan manis maulid” agar masyarakat mengetahui adanya perayaan tersebut. Tradisi istana ini sempat dihentikan sepenuhnya pada tahun 1094 Masihi demi efisiensi bajet negara sebelum akhirnya dihidupkan kembali beberapa dekad kemudian untuk menarik simpati masyarakat.

Pertembungan format sambutan Maulid yang lebih terbuka dan meriah terjadi ketika kalangan Sunni mulai menerapkan tradisi ini. Di wilayah Mesopotamia sekitar tahun 1207 Masihi, perayaan diselenggarakan secara besar-besaran dan inklusif dengan melibatkan masyarakat luas secara besar-besaran. Penguasa wilayah tersebut mempersiapkan ratusan haiwan ternak untuk disembelih sebagai jamuan besar-besaran serta membahagikan sedekah dinar dan dirham kepada fakir miskin agar semua kalangan dapat merasakan kegembiraan. Langkah inklusif serupa kemudian diterapkan di Mesir setelah runtuhnya kekuasaan Fatimiyah pada tahun 1171 Masihi. Di bawah pemerintahan baru, perayaan hari lahir tokoh-tokoh lain dihentikan, sedangkan peringatan hari lahir nabi tetap dipertahankan dan diubah formatnya menjadi pesta rakyat yang terbuka bagi semua orang. Kebijakan ini diambil sebagai strategi untuk mempersatukan umat Islam yang saat itu sedang menghadapi ancaman perang besar dari luar. Dalam perayaan tersebut, kisah-kisah perjuangan nabi dibacakan sepanjang malam bagi membangkitkan semangat juang dan rasa cinta kepada nabi, yang di kemudian hari menginspirasi penulisan berbagai karya sastera sejarah nabi.

Tradisi ini kemudian menyebar ke wilayah Nusantara seiring dengan masuknya para penyebar Islam generasi awal di Pulau Jawa. Peringatan Maulid nabi mulai bersemi di lingkungan pusat kekuasaan Islam seperti kerajaan Demak dan Cirebon. Para penyebar agama memanfaatkan momen ini sebagai media dakwah yang efektif dengan merangkul budaya tempatan. Salah satu metode yang digunakan adalah penganjuran acara kesenian rakyat seperti pertunjukan wayang serta upacara Sekaten yang namanya diambil dari istilah “syahadatain” atau dua kalimat syahadat. Melalui pendekatan budaya ini, masyarakat yang saat itu masih menganut ajaran lama diajak berkumpul dan mengenal nilai-nilai Islam serta kisah keteladanan nabi dengan cara yang damai dan akrab bagi mereka.

Seiring berjalannya waktu, tata cara peringatan ini terus mengalami penyesuaian di berbagai belahan dunia. Jika dahulu sambutan Maulid diisi dengan pembacaan riwayat hidup nabi sepanjang malam suntuk dengan disertai hidangan makanan dan kopi agar para jemaah tetap terjaga, kini durasi acara umumnya berlangsung lebih singkat. Di era moden, peringatan maulid biasanya dikemas dalam bentuk pembacaan ringkas sejarah nabi, lantunan selawat nabi dan nasyid, penyampaian ceramah agama berisi pesan moral, serta pembahagian sedekah kepada sesama sebagai tanda rasa syukur atas keteladanan sang utusan.

Semak kajian lengkapnya secara terperinci di https://www.youtube.com/watch?v=HplxGMG1tF0

Exit mobile version