[Nafsiyah] Menjaga “Kewarasan” dengan Mengkaji Islam
Saat seorang Muslim dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan yang pelik, pasti dia memerlukan sandaran hidup dan sesuatu yang menjadi penghibur hati. Lebih-lebih lagi di tengah kepungan kesempitan hidup yang sentiasa mengitarinya.
Kesempitan ekonomi yang semakin menekan kesan kenaikan berbagai harga makanan dan bahan mentah. Juga konfik keluarga yang tidak ada kesudahannya, pasangan yang tidak soleh atau solehah, dan anak-anak yang makin sukar untuk dididik, malah sering melawan kedua ibu bapa, atau masalah dengan tetangga yang membuatkan kita tidak merasa tenang untuk hidup bertetangga.
Masih banyak lagi jika kita mahu senaraikan pelbagai masalah kehidupan. Seolah tidak ada hujungnya dan terus bertambah masalahnya dari hari ke hari. Semua masalah yang terjadi mempengaruhi kewarasan (kesihatan jiwa) manusia. Lalu bagaimana caranya agar manusia tetap menjaga kewarasan bagi seorang Muslim?
Seorang Muslim diberi khabar gembira oleh Allah Taala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” [TMQ Fushilat (41): 30]
Antara cara agar seorang Muslim dapat menjaga kewarasannya adalah dengan mengkaji Islam. Mengapa?
Pertama, kerana mengkaji Islam merupakan salah satu amal kebaikan. Seorang Muslim yang dihimpit dengan berbagai kesulitan hidup hendaklah memperbanyakkan amal soleh.
Kedua, mengkaji Islam adalah jalan menuju kebahagiaan. Rasulullah saw. bersabda, “…Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang. 1. Seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya dia menyambung silaturrahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah). 2. Seorang hamba yang Allah berikan ilmu, tetapi tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur dia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Dia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama. 3. Seorang hamba yang Allah berikan harta tapi tidak diberikan ilmu. Lalu dia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertakwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturrahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling buruk (di sisi Allah). 4. Seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, dia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Dia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.’” (HR Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Mahaj, dan al-Baihaqi)
Ketiga, Rasulullah saw. juga memberikan khabar gembira pada setiap Muslim yakni dengan pernyataan Rasul yang membahagi penghuni dunia menjadi empat golongan. Golongan yang terbaik di antara mereka adalah orang yang diberikan ilmu dan harta, dia berbuat baik kepada manusia dan dirinya sendiri dengan ilmu dan hartanya. (Al- ‘Ilmu Fadhluhu wa Syarfuhu, hlm. 252—253)
Keempat, mengkaji Islam akan membawa kepada kebersihan hati, kemuliaan, dan cahaya. Sesungguhnya hati manusia akan menjadi lebih bersih dan mulia dengan mendapatkan ilmu syarie. Setiap Muslim yang mengkaji Islam akan bertambah rasa takut dan takwanya kepada Allah Swt.. Hal ini berbeza dengan orang yang disibukkan oleh harta dan dunia. Padahal harta tidak membersihkan dirinya, tidak menambah sifat kesempurnaan dirinya, yang ada di hatinya akan menjadi tamak, rakus, dan kikir.
Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar segala ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai kesalahan yang menjerumuskannya ke neraka. Sebagai Muslim, kita berusaha untuk tetap menjadi waras (sihat) dalam sistem yang sakit dan rosak bernama demokrasi sekular.
Saudariku, ada empat tahap ilmu. Tahap pertama dan kedua, iaitu mendengar dan memahaminya. Apabila dia mendengarnya, dia juga memahami dengan hatinya. Tahap ketiga, yakni komitmen untuk menghafal ilmu agar ilmu tidak hilang. Tahap keempat, yakni menyampaikan ilmu dan menyebarkannya kepada umat manusia agar ilmu membuahkan hasil, tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.
Barang siapa melakukan keempat tahap di atas, dia termasuk dalam doa Rasulullah saw. yang mencakup keindahan fizikal dan psikologi. Sesungguhnya kecerahan pada diri seorang Muslim merupakan hasil dari pengaruh iman dan ketenangan hati. Kemudian terlihat berseri-serilah wajahnya.
Seperti firman Allah Taala, “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.” [TMQ al-Muthaffifiin (83): 24]
Dengan demikian jika kita memiliki kesulitan hidup, janganlah menjauhi majlis ilmu, tetaplah mengkaji Islam kerana hal itu adalah salah satu ubat yang mampu menjaga kewarasan seorang Muslim. Allah akan menambah keimanan kita dan kita akan senantiasa mendapat cucuran nasihat dari Allah dan Rasul-Nya. Masyaallah. Wallahul muwafiq.
Sumber: https://muslimahnews.net/2022/09/12/11298/
#nafsiyah #majlisilmu #kehidupan #masalahhidup #tuntutilmu #belajarislam