Kembalinya Firaun ke Mesir
Undang-Undang Buatan Manusia
Al-Jazeera dalam laporan berbahasa Inggeris menyebutkan bahawa, “Pemerintah Mesir telah melarang pelajar muslimah mengenakan niqab, yakni kain(purdah) yang menutupi wajah, di sekolah-sekolah, menurut media milik pemerintah.”
Misr (Mesir) telah menjadi wilayah sentral Islam, sejak penaklukannya pada masa Khalifah Rasyidah Kedua, Umar al-Faruq ra., wilayah ini telah menyaksikan banyak pahlawan yang membela kemuliaan Islam.
Namun, kini Mesir telah ketinggalan hingga ke titik yang begitu rendah dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintahan militer yang korup, yang menerapkan undang-undang buatan manusia, menindas umat Islam dan menjarah kekayaannya. Mereka tunduk kepada Barat dan menjalankan tujuan-tujuan jahatnya. Saat ini di Mesir, saudari-saudari kita yang seiman tidak lagi diperbolehkan mengenakan niqab di sekolah. Saat ini, mereka dipaksa untuk hidup sesuai dengan standard Barat.
Larangan ini mengingatkan kita pada era Mustafa Kamal dan kebijakan-kebijakan sekularnya. Larangan ini mencerminkan pola fikir berbahaya dari kepemimpinan Mesir saat ini, baik Sisi mahupun junta tenteranya. Sisi telah menjadi satu lagi pemimpin di negara majoriti Muslim yang menjual kehormatan saudari-saudari dan anak-anak perempuan umat ini demi memperoleh dukungan Barat.

Dukungan Barat
Namun, timbullah pertanyaan, mengapa Barat begitu tertarik pada nilai moral saudari-saudari kita (di Mesir)? Mengapa para ibu, saudari, dan anak-anak perempuan kita menjadi sasaran serangan ini?
Orang-orang Barat merasa terganggu dengan kesopanan, ketakwaan, dan kesederhanaan penampilan (tanpa tabarruj) dari seorang perempuan mukmin. Tatapan jahat para penjajah ini telah lama tertuju pada para saudari dan para isteri umat ini. Awalnya, mereka melawan nilai-nilai moral kita dengan bertopengkan kebebasan dan kesetaraan. Mereka secara keliru menggambarkan kaum perempuan umat ini sebagai golongan yang tertindas dan dibungkam, padahal kaum perempuan sangat dilindungi dan dihormati sejak dari buaian hingga liang lahat. Ketika pendekatan ini gagal, mereka kembali memaksakan idea kebebasan.
Mereka melarang penutup wajah bagi perempuan seperti yang terjadi di Perancis. Hal ini juga terlihat dalam reformasi Mustafa Kemal yang dipengaruhi oleh Barat, setelah Khilafah dihapuskan olehnya dengan kerjasama Britain. Sehubungan dengan perang melawan Islam, Barat menyadari bahawa perang ini tidak dapat dimenangkan melalui genocide atau racun ideologi saja. Sebab itu, mereka kini memaksa umat Islam untuk meninggalkan agama yang mereka junjung tinggi demi memperoleh pengiktirafan dan rasa hormat dari Barat. Kempen pemaksaan ini pertama-tamanya telah menyasarkan para muslimah yang mulia dari umat ini.
Barat menganggap kaum perempuan umat ini sebagai sasaran empuk kerana lemahnya para penguasa muslim saat ini. Lebih jauh lagi, Barat memandang bahawa merosakkan kaum perempuan akan lebih menguntungkan sebab pengaruh perempuan, baik ataupun buruk, akan memberi impak kepada saudara lelakinya, anak-anak lelakinya, ayah, dan suaminya. Ditambah dengan syahwat kotor mereka terhadap para muslimah, larangan ini adalah sebuah langkah menuju hasrat mereka untuk sesuatu yang tidak mungkin dapat tercapai, iaitu agar para muslimah mencampakkan agama mereka dan kesuciannya.

Kemunafikan Barat dan Penguasa Sekular Mesir
Semua faktor ini ditambah lagi dengan kemunafikan Barat pada umumnya. Emiriah Afghanistan menerapkan aturan berpakaian sesuai syariah dan dilabel sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kebebasan memilih. Namun, ketika Perancis atau Mesir menerapkan aturan berpakaian yang bertentangan dengan syariah, mereka dipuji sebagai mercusuar kebebasan dan hak asasi manusia.
Kemunafikan yang terang-terangan ini menandakan penerapan supremasi moral menurut Barat. Umat Islam hendaklah melawannya (narasi Barat). Bukankah lebih baik jika umat ini dilindungi oleh sistem berskala global yang menescayakan kita agar dapat bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral dan iman kita? Bukankah kesucian seorang muslim akan lebih terlindungi di bawah sistem yang Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW berikan kepada kita?
Mengapa kita harus tunduk pada Barat? Mengapa kita harus membiarkan mereka menentukan cara hidup kita? Mengapa kita harus membiarkan hinaan mereka dan menerima diri kita dipermalukan? Mengapa kita harus membiarkan mereka menyerang iman kita begitu saja?

Posisi Mesir sebagai Pusat Islam
Mesir pernah menyaksikan Sultan Salahuddin al-Ayubi yang merebut kembali Masjid al-Aqsa dari tentara salib Kristian. Wilayah ini juga menjadi saksi bagi Sultan Baibars yang membela Syam, Mesir, dan Hijaz melawan bangsa Mongol. Pada saat krisis di masa lampau, Mesir telah menjadi benteng bagi Islam. Di dalamnya terdapat khazanah dari pusat-pusat pengetahuan Islam yang bersejarah, termasuk Universiti Al-Azhar. Pada saat yang sama, Mesir pun telah memberikan kekayaan, kekuasaan, dan tentera yang kuat bagi para penguasa Islam.
Bukankah iman yang mendorong Sultan Abdul Hamid II untuk mengancam melakukan jihad terhadap kaum kafir yang berusaha mencemarkan nama baik Nabi kita tercinta, Muhammad SAW? Bukankah iman yang memotivasi Muhammad bin Qasim untuk menaklukkan Sindh, sebagai respon terhadap kezaliman penguasanya terhadap umat Islam? Bukankah Islam yang mendorong Salahudin untuk melawan kekuatan tentera salib yang sangat besar, dan bukankah Allah SWT memberinya kehormatan membebaskan Baitul Maqdis?
Namun, saat ini keturunan Tentera Salib membakar salinan Al-Quran yan
g mulia dan menyerang para Muslimah tanpa ada tindak balas apa pun dari kita. Bukankah mereka akan semakin menjadi-jadi?
Kita mesti bangkit. Kita hendaklah bersatu dengan ikatan Islam. Kita hendaklah mengembalikan khilafah yang berdasarkan metod kenabian. Kita mestilah kembali kepada agama Allah SWT dan menunaikan perjanjian yang telah dikurniakan kepada kita. Allah SWT berfirman,
[وَالۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَالۡمُؤۡمِنٰتُ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَيُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيۡعُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗؕ اُولٰۤٮِٕكَ سَيَرۡحَمُهُمُ اللّٰهُؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ]
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan solat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [TMQ At-Taubah 9:71].
✍️ Jalal ud Din – Wilayah Pakistan dalam artikelnya https://hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/articles/analysis/25052.html