Rumah Yang Berkah
Pernahkah anda masuk ke sebuah ruangan dan merasa tidak senang? Wajah-wajah tertekan orang-orang di ruangan itu…. Kegetiran atau kekesalan, anda dapat mendengarnya dari cara mereka saling berbicara. Bagaimana mereka hampir tidak saling memandang. Geram, komentar yang licik, kepahitan yang luar biasa, dan terkadang tidak terlalu ketara, samar, dan terasa tidak menyenangkan. Kemudian pernahkah anda masuk ke ruangan yang berbeza… di mana anda disambut dengan keterujaan, senyuman, dan anda boleh merasakan kepuasan yang dirasakan orang-orang di ruangan itu kerana saling berbahagi kebersamaan? Anda boleh merasakan suasana positifnya, SubhanAllah.
Rumah kita boleh mengalami salah satu contoh tersebut. Pada suatu saat kita mungkin merasakan kepuasan, kesenangan, dan keimanan di rumah kita; kemudian di lain waktu mungkin tidak. Kita mungkin merasakan tertekan, aura negatif, dan kepahitan. Hal ini wajar terjadi. Namun, apa yang membantu rumah kita menjadi ruang yang memberi kita aura, kegembiraan, atau menjadi asas yang kukuh? Bukankah “barakah” (keberkahan), yang terkadang tidak kita miliki? Kata “barakah” yang adakalanya kita terjemahkan ke dalam interpretasi yang lebih umum menjadi “berkah” atau “keberkahan”, boleh didefinisikan secara lebih kompleks dalam tiga cara.
Pertama, barakah adalah berkah yang tumbuh dan bertambah. Kedua, ada aspek kesinambungan. Ketiga, bersifat pegun (stationary nature), iaitu sesuatu yang kita harapkan akan tetap ada. Inilah sebabnya kita mungkin bertanya pada diri sendiri apakah rumah kita memiliki karakteristik seperti itu. Kita perlu untuk menentukan masalah-masalah yang kita hadapi di rumah kita; bahkan terlebih dahulu kita perlu mengetahui alasan disebalik mendirikan rumah. Kita bertanya apakah ciri-ciri rumah tangga keluarga Islam? Apa yang kurang dari rumah kita?
Rumah tangga atau keluarga yang Islami perlu menjadi landasan di mana kita memelihara anggota-anggota masyarakat Muslim yang baik dan aktif. Jika ada #Barakah di dalam rumah, asas rumah tangga inilah yang memberi kita energi, optimisme, harapan, dan ketenangan ketika menghadapi dunia dan mengemban dakwah. Keluarga adalah unit fundamental masyarakat, dan lembaga aktual tempat anggota aktif ‘lulus’ untuk kemudian menjalankan peranan-peranan sosial mereka sebagai pemimpin, hakim, ulama, guru, pelajar, atau sumber manusia di jalan Allah (swt), serta menjadi isteri dan ibu yang solehah yang memberikan pengasuhan yang diperlukan untuk generasi berikutnya. Jadi, itulah landasan yang kita pijak untuk bekerja demi urusan dunia dan yang lebih penting lagi demi urusan akhirat kita.
وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا
“Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal.” [TMQ. An-Nahl: 80]
Ibnu Katsir (rahimahullah) berkata, “Allah Swt. menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang serba lengkap kepada hamba-hamba-Nya, iaitu Dia menjadikan bagi mereka rumah-rumah tempat mereka menetap dan menutupi dirinya, serta mereka menggunakannya untuk berbagai manfaat dan kegunaan lainnya.”
Bagaimana kita boleh membawa lebih banyak barakah ke dalam rumah kita? Bagaimana kita boleh menjadikan rumah kita sebagai tempat berlindung ketika menghadapi dunia ini?
Yang pertama dan utama, kita hendaklah mengakui bahawa barakah hanya diberikan oleh Allah (swt), dan kita tidak mampu berbuat apa-apa tanpa-Nya (swt). Tidak peduli seberapa banyak kita bermain dengan anak-anak kita, tertawa dengan pasangan kita, merapikan barang-barang, membersihkan rumah, melakukan aktiviti rutin, dll., jika niat kita bukan untuk Allah (swt), kita tidak akan mendapat barakah. Barakah hanya boleh diberikan oleh Allah (swt).
Langkah pertama kita yang paling rasional untuk mendapatkan rumah yang hangat adalah menyebut nama Allah (swt), memiliki rumah yang dipenuhi dengan mengingat Allah, berzikir di pagi dan malam hari, ketika kita berpakaian, bercermin, makan, membaca Al-Quran, mencintai kerana Allah (swt), mengejar keredhaan orang tua, memperlakukan pasangan kita sebagai sahabat, tertawa dan bermain, berbagi mawaddah, kasih sayang dan rahmat, dan bermain dengan anak-anak kita dengan belas kasih.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [TMQ. Ar-Rum:21]
Kedua, kita perlu berfikir dan bertindak, bukan bermalas-malasan sambil mengharapkan segala sesuatu akan menjadi lebih baik, akan berubah, atau akan terjadi begitu saja. Benar, Allah (swt) telah menciptakan rasa cinta dan kasih sayang di antara suami isteri, namun Dia juga memerintahkan kita untuk mengikuti perintah-Nya, mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Bukan hanya mentaliti yang mesti kita ubah, dari negatif menjadi positif, namun kita juga perlu mengambil tindakan secara fizikal untuk mewujudkan perubahan fizikal; juga bertawakal pada Allah SWT.
Kita hendaklah mengukuhkan niat untuk mendapatkan keredhaan Allah (swt), untuk membangun unit keluarga Muslim yang kuat. Tentu saja, kita perlu memiliki ruang di rumah untuk solat berjrmaah, membahagi berbagai tanggungjawab individua di dalam keluarga, menjadi teladan bagi anak-anak di rumah, menjadi isteri yang patuh dan penuh hormat, serta menjadi suami yang penuh perhatian dan suka membantu. Kita hendaklah berusaha untuk mencerminkan hubungan Islami yang sejati dengan mengikuti teladan Nabi kita tercinta.
Kita juga perlu mengetahui alasan mengapa ada ketidaksenangan di rumah, untuk merencanakan dan mengambil tindakan bertarget dalam menyelesaikannya. Pada akhirnya, apapun yang kita cuba ubah untuk menegakkan sistem di rumah atau memotivasi orang lain, semuanya ada di tangan Allah SWT. Keberkahan sejati seorang mukmin ada pada hatinya; pada akhirnya rumah kita berada di dalam hati kita bersama Allah (swt). Hanya pada Allah (swt) kita mendapatkan kesenangan. Dia adalah rumah kita yang sesungguhnya.
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [TMQ. Ar-Ra’d: 28]
Sumber: Diterjemahkan dari, Nafsiya Reflections: A Blessed Home