Pembukaan Dayeuh Pakuan untuk Islam (Sejarah Awal Islam di Bogor, Indonesia Sebelum Era Kolonial, Circa 1480–1680) – Bahagian 6
Oleh: Nicko Pandawa
Tentang Maulânâ Judah, kita belum menemui riwayat siapa nama sebenarnya. Namun, sesuai gelarannya, kita dapat pastikan bahawa beliau adalah orang Arab yang lahir dan datang dari Jeddah. Ketika Sunan Gunung Jati berhaji, beliau menyaksikan Sultan Uthmaniyah Selim I mengalahkan Mamluk pada 1517. Syarîf Mekah yang memimpin seluruh Hijaz termasuk Jeddah saat itu, Syarîf Abû’l-Barakât al-Hasanî, mengirim puteranya sebagai utusan ke Selim I. Sang putera yang bernama Syarîf Abû Numayy II membawa kunci Kaabah sebagai bentuk kesetiaan ayahnya mewakili seluruh penduduk Hijaz kepada Uthmaniyah. Ketika Syarîf Abû’l-Barakât wafat, Syarîf Abû Numayy menggantikannya sebagai wakil Uthmaniyah di Hijaz. Pada 1542, beliau pernah menghalang Portugis yang cuba menyerang Jeddah dan masuk ke Madinah untuk mencuri jasad mulia Rasulullah saw.[1]
Maulânâ Judah yang hidup pada masa itu berkemungkinan besar mengetahui semua peristiwa tersebut. Sebagai warga Syarîf Mekah yang tunduk kepada Khilafah Uthmaniyah, Maulânâ Judah mempunyai alasan untuk ikut berjihad ke Pakuan. Dia tidak boleh menerima apabila Pakuan Pajajaran yang bersekutu dengan Portugis, pihak yang pernah menyerang kampung halamannya dan merancang untuk mencuri jasad Nabi saw.
Surawisesa terpaksa berperang sendiri melawan mereka apabila mereka dikepung oleh pasukan Islam dengan jumlah yang besar. Jika dibanding jumlah pasukan Pajajaran yang mencapai angka 100,000, sebenarnya Surawisesa lebih ramai lagi jumlah kekuatan pasukannya. Namun, Barros, pentadbir Portugis di Melaka yang mengamati situasi Pajajaran mengungkapkan: “Disebabkan peperangan yang dilakukan orang-orang Moor, jumlah itu adalah sangat sedikit” (agora por a guerra que lhe fizerão o Mouros está tudo muito deminuido).[2]
Carita Parahiyangan menceritakan bahawa sepanjang masa pemerintahannya selama 14 tahun itu (1521-1535), Surawisesa berperang 15 kali dengan penuh dedikasi tanpa kalah. Peperangan melawan pasukan Banten bukan hanya terjadi di Pakuan dan sekitarnya; tetapi melebar ke Sunda Kalapa, Tanjung, Ancolkiji, Wahanten Girang, Simpang, Gunungbatu, Saungagung, Rumbut, Gunung, Gunungbanjar, Padang, Panggaokan, Muntur, Pagerwesi, dan Medangkahiangan. Ketangguhannya membuat Pajajaran dapat bertahan sehingga Surawisesa meninggal.[3]
Anak Surawisesa, Ratu Dewata (1535-1543), masih bersemangat menghadapi pasukan Islam yang terus berupaya mem-futûhât Pakuan. Namun penulis Carita Parahiyangan menyayangkan, bahawa Ratu Dewata justeru “bertindak sebagai rajaresi (raja pendeta), selalu bertapa dan hanya minum susu” (lumaku rajaresi, tapa pwah susu). Sikapnya yang tidak mempedulikan rakyat itu menyebabkan wujudnya ruang bagi kaum Muslim menyerbu Pakuan hingga berlaku pertempuran di tanah lapang di hadapan benteng Pakuan dimana lokasinya sekarang ada di Tanah Lapang Empang, Kota Bogor. Meski begitu, Pakuan dapat bertahan kerana Ratu Dewata masih memiliki para perwira tua yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Namun, disebabkan kelalaiannya, beliau terpaksa menagih harga yang mahal dengan tewasnya Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet, dua perwira pertahanan Pajajaran yang utama.[4]
Pada masa Raja Pajajaran berikutnya, Ratu Sakti (1543-1551), Carita Parahiyangan tidak melaporkan terjadinya perang. Waktu itu, tentera Islam di Banten, Jayakarta, dan Cirebon masih tunduk kepada Kesultanan Demak. Pada tahun 1546, fokus mereka untuk mem-futûhât Pakuan terbantut kerana perintah Sultan Trenggana Demak yang menetapkan ekspedisi besar-besaran untuk mem-futûhât Pasuruan, hujung timur Jawa, yang masih di bawah kuasa kekuatan Hindu bekas Majapahit.[5]
Seorang petualang Portugis bernama Mendez Pinto yang saat itu ada di Jepara, menjadi saksi mata peristiwa tersebut. Panembahan Hasanuddin, yang disebut Pinto sebagai “Raja Sunda” (King of Zunda), bertugas sebagai jeneral pasukan Demak yang mendatangkan pasukan besarnya dari Banten, ke Cirebon, dan terus sampai di Pasuruan melalui jalan darat (berkuda dan berjalan kaki). Menurut Pinto, pasukan Panembahan Hasanuddin di Pasuruan membina benteng dengan batang-batang kayu besar, “kemudian mereka menanam berbagai persenjataan besar … dari logam (meriam), yang dituang oleh orang Aceh dan Turki” (whereupon they planted divers great pieces of ordnances … of metal, that the Achems and Turks had cast).[6]
Kesaksian ini membuktikan bahawa kekuatan Islam di Banten, Cirebon, dan Demak turut bergabung dalam kubu Khilafah Uthmaniyah yang sebelumnya sudah terlebih dahulu mengirimkan tentera Uthmaniyah ke Aceh.[7] [Bersambung]
Catatan kaki:
[1] Mehmet Maksudoglu, The Untold History of Ottoman, 192-193, 222-223.
[2] Dikutip dari Hoesein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten, 147.
[3] Ayatrohaedi, “Sunda, Pakuan, Pajajaran”, dalam Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran, 89.
[4] Ibid; Yoseph Iskandar, “Nilai Tradisional dan Sejarah Pakuan Pajajaran Menurut Naskah Kuna”, dalam Ibid, 175-176; Saleh Danasasmita, Sejarah Bogor, 78.
[5] Ayatrohaedi, “Sunda, Pakuan, Pajajaran”, dalam Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran, 89.
[6] Mendez Pinto, The Voyages and Adventures of Ferdinand Mendez Pinto, ed. HC. Gent, (New York, Cornell University Library, 1996), 377-378.
[7] Pasukan Khilafah ‘Utsmaniyah sudah datang ke Kesultanan Aceh semenjak tahun 1539. Mereka dipimpin Hamad Khan, keponakan dari Veli (gubernur) ‘Utsmaniyah di Mesir, Hadim Süleyman Paþa, yang kelak naik pangkat menjadi Sadrazam (wakil Khalifah) di bawah pimpinan Khalifah Süleyman al-Qanuni. Pasukan pimpinan Hamad Khan ini membantu Sultan Aceh mem-futûhât negeri Batak dan menyerang Portugis di Malaka. Lihat: Giancarlo Casale, The Ottoman Age of Exploration, 57-58.